OBAT: Obat Murah Sulit Didapat
BELI OBAT--Konsumen membeli obat di Apotek Jati Waluyo, Solo, Sabtu (12/5). Sesuai PP No 51/2009, pasien yang keberatan dengan harga obat bermerek dari dokter bisa berkonsultasi dengan apoteker untuk menggantinya dengan obat generik. (Espos/Ayu Prawitasari)

BELI OBAT--Konsumen membeli obat di Apotek Jati Waluyo, Solo, Sabtu (12/5). Sesuai PP No 51/2009, pasien yang keberatan dengan harga obat bermerek dari dokter bisa berkonsultasi dengan apoteker untuk menggantinya dengan obat generik. (Espos/Ayu Prawitasari)
Hari masih pagi saat Putri, sebut saja begitu, berusaha menenangkan putra kecilnya yang menangis keras. Dia belum menyentuh tumpukan piring serta gelas kotor sisa dari acara syukuran atas kesembuhan suaminya yang digelar di rumahnya, Kamis (10/5) malam.

Suaminya menjalani lima kali perawatan di RS dalam satu tahun ini.  Macam-macam sakit yang diderita suaminya, mulai hipertensi, darah tinggi hingga yang terakhir adalah vertigo.

Soal biaya obat, awalnya Putri punya prinsip tak akan banyak bertanya karena yang terpenting adalah kesembuhan sang suami. Namun akibat tak berani banyak bertanya itu, berjuta-juta rupiah uang tabungannya terkuras habis untuk membeli obat yang beraneka ragam. Toh tak semuanya terminum. Saat suaminya diopname kali kelima, Putri memberanikan diri bertanya kepada dokter mengenai obat dalam resep.

“Saat pemeriksaan terakhir atau setelah opname kelima, saya memutuskan bertanya mengenai obat dalam resep kepada dokter yang memeriksa suami. Kebetulan saat itu saya dan suami juga sedang tidak bawa banyak uang sehingga kalau harus menebus Rp1,4 juta untuk satu resep, kami jelas tak mampu,” demikian cerita Putri.

Setelah bernegosiasi dengan dokter, dari kelima obat yang diresepkan, beberapa di antaranya bisa diubah menjadi obat generik. “Meski awalnya kata dokter tidak bisa pakai obat generik karena obatnya untuk jangka panjang, keputusan itu akhirnya berubah. Beberapa obat bisa diubah menjadi generik sehingga biaya tebus obat yang awalnya Rp1,4 juta bisa ditekan menjadi Rp600.000,” imbuh Putri.

Sulitnya mencari obat murah seperti yang Putri alami belum lama ini, menurut mantan petugas pemasaran obat atau medical respresentative (medrep), sebut saja Rini, adalah hal yang wajar di tengah maraknya bisnis jual obat yang menempatkan medrep di garda depan dengan setumpuk tawaran fee serta hadiah.

“Perusahaan obat itu kan sekarang banyak. Supaya bisa bertahan ya harus kreatif dengan memberikan macam-macam fee serta hadiah, semisal uang tunai, emas besertifikat, mobil, rumah dan masih banyak lagi yang lain,” ungkap Rini.

Fee yang medrep tawarkan itu tidak gratis. Syaratnya adalah penjualan obat dalam jumlah tertentu.

Meski tergolong murah bagi pasien, lanjut Rini, obat generik berlogo (OBG) tidak memberi keuntungan yang tinggi bagi dokter seperti halnya obat bermerek. Akhirnya dokter meresepkan obat bermerek.

Tidak adanya promosi untuk OGB, lanjut Rini, lagi, makin menambah kebuntuan informasi dalam masyarakat mengenai keberadaan si obat murah generik. Banyak pasien yang jangankan meminta obat generik, kenal obat generik pun tidak. “Kecuali kalau pasien-pasien itu berobat di RS pemerintah, lain ceritanya,” imbuh dia.

Menanggapi tudingan fee untuk dokter, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Solo, Ganung Harsono, membantahnya. Menurutnya, selama ini dokter tidak diperkenankan menerima fee dari medrep sebagai upaya memuluskan penjualan obat. Apa yang diresepkan para dokter semata-mata berdasarkan hasil diagnosis ditambah permintaan pasien sendiri.

“Banyak pasien yang ketika diperiksa tidak minta generik. Ada juga yang tidak mau. Karena pasien tidak minta, ya tidak diberi generik. Soal fee saya rasa tidak benar. Imbalan dari perusahaan obat biasanya hanya (menghadiri) seminar ilmiah, lain tidak,” ujarnya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom