Dokumentasi letusan Merapi 2019. (Istimewa)

Solopos.com, SOLO — Hampir 300 orang meninggal dunia, ribuan keluarga kehilangan rumah, ribuan hektare hutan dan lahan pertanian rusak berat akibat erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada 2010 silam.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 17 Januari 2011 merilis letusan Merapi menyebabkan kerusakan dan kerugian yang cukup besar di empat kabupaten yaitu Magelang, Boyolali, Klaten di Jawa Tengah dan Sleman.

Dalam perhitungan menggunakan data per 31 Desember 2010, nilai kerusakan mencapai Rp4,23 triliun.

Kabupaten Sleman menjadi daerah yang paling terkena dampak bencana. Diperkirakan sekitar 65% dari kerusakan dan kerugian dialami oleh Kabupaten ini.

Kemudian Kabupaten Magelang sekitar 15% dampak bencana, selanjutnya masing-masing 6% dampak bencana lainnya dialami oleh Kabupaten Klaten dan Boyolali.

Daerah-daerah lainnya seperti Kota Jogja, Magelang, Solo dan sekitarnya menerima sekitar 8% total kerusakan dan kerugian akibat bencana Merapi.

Keajaiban, Kepahlawanan, Air Mata, dan Cinta

Nyawa memang milik Tuhan. Tuhan juga yang punya jalan tak terbatas untuk mengambil nyawa seseorang. Pun demikian, Tuhan juga punya kuasa tak terbatas untuk menjaga nyawa agar tetap berada dalam tubuh seseorang.

Di tengah kekacauan luar biasa dan ancaman Merapi yang sedemikian dahsyat kala itu, ada saja cara Tuhan untuk menyelamatkan umatnya.

Bayi Itu Bernama Lavania

Nova Lavania, itulah nama bayi yang diberikan kepadanya saat Merapi menampakkan keperkasaannya.

Dia baru dilahirkan dan tak bakal mampu bercerita tentang apa yang terjadi tentang prahara Merapi 2010. Tetapi dia adalah ‘monumen’ tersendiri dari kejadian dahsyat tersebut. Dia lahir di tengah kacaunya situasi.

Tubuh mungilnya dibalut jarit warna cokelat gelap. Hanya tampak muka kecil berkulit bersih diselingi semburat kemerahan. Dia tampak terlelap dalam gendongan wanita tua yang tak lain adalah neneknya.

Sesekali bayi itu menggeliat, menguap dan menjulurkan lidah. Mungkin, haus. Karena setelah menatap dunia sejak Kamis 4 November, pukul 12.45 WIB hingga pukul 13.30 WIB, belum setetes air susu pun dia cicipi.

"Iya, bayi ini saya beri nama Nova Lavania. Supaya bisa menjadi kenangan dan cerita untuk anak dan cucu nanti. Bahwa dia lahir di antara gemuruh Merapi saat mengungsi di antara desakan pengungsi," ungkap sang ibu, Diyarti.

Sampul buku Letusan Merapi 2019. (Istimewa)
Sampul buku Letusan Merapi 2010. (Istimewa)

Cerita yang mengiringi kelahiran bayi mungil itu cukup dramatis. Kelanjutan kisah kelahiran Nova Lavania serta kisah keajaiban, kepahlawanan, air mata, dan cinta lainnya bisa disimak secara lengkap di e-book Letusan Merapi 2010: Sebuah Catatan Jurnalistik, GRATIS!


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten