Tutup Iklan
Penjual menyiapkan karya kuliner khas Ngawi, tepo tahu. (Tim Jelajah Lebaran Jawa-Bali 2019)

Solopos.com, NGAWI — Aktivitas Kota Ngawi pada malam hari terlihat cukup ramai. Begitu juga dengan kedai-kedai yang tiba-tiba muncul pada malam hari, salah satunya adalah Kedai Tepo Tahu Bu Samud di Jl. Sultan Agung.

Nama tepo tahu berasal dari bahasa Jawa yang berarti kerucut. Hal tersebut berdasar pada bentuk lontong yang tersaji dalam makanan tersebut.

Kedai tersebut hanya dioperasikan oleh tiga orang, namun konsumen tersebar di sekitar kedai tersebut. Kebanyakan duduk lesehan di trotoar beralaskan tikar.

Bu Samud secara otomatis membuka lontong yang dibungkus oleh daun pisang dan menyusun tepo tahu ketika pesanan datang, sedangkan rekannya mengolah tahu yang sebelumnya dibasuh telur tepat di depannya. Sementara itu, pekerja lainnya menerima pesanan dan menangani kasir.

Tepo tahu di kedai tersebut tidak jauh berbeda dengan tepo tahu di daerah lain. Lontong, telur goreng, tahu goreng, tauge, kol, dan bawang goreng. Yang berbeda dari tepo tahu di Kota Ngawi adalah kuahnya yang cair dari perpaduan bumbu kacang dan cairan gula merah yang dituang berurutan.

Alhasil, rasa pedas dan manis menggugah lidah saat suapan pertama masuk. Hal lainnya yang langsung menjadi perhatian adalah kelembutan tahu dan lontong dalam makanan tersebut. Hal tersebut membuat tepo tahu di jalan remang tersebut seperti meleleh di dalam mulut.

Menurut Bu Samud, kelembutan lontong tersebut disebabkan oleh waktu mengukus lontong kedainya hingga empat jam. Adapun, waktu mengkukus lontong rata-rata hanya satu jam.

Pembeli juga dapat mengambil sate telur puyuh dan kerupuk yang disajikan di atas meja makan di samping Bu Samud. Bagi yang duduk lesehan, pembeli memang harus berjalan ke meja makan tersebut untuk mengambilnya.

Silakan http://madiun.solopos.com/">KLIK dan https://www.facebook.com/madiunpos/">LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya 

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten