Ilustrasi wanita (Freepik)

Solopos.com, YAOUNDE Payudara merupakan bagian vital wanita yang semestinya dijaga dengan baik pertumbuhannya. Selain sebagai daya tarik, payudara merupakan perantara kesinambungan generasi. Seorang ibu membutuhkan payudara untuk menyusui anaknya sebagai generasi penerus.

Tetapi, di balik fungsinya yang luar biasa, kebanyakan orang lebih sering melihat payudara dari sisi seksual saja. Alhasil, payudara pun dianggap sebagai salah satu bagian tubuh yang memicu terjadinya pelecehan seksual. Guna menanggulangi hal itu, sejumlah wanita di Kamerun, Afrika Tengah, harus menjalani tradisi tak lazim berupa setrika payudara.

Tradisi setrika payudara telah dilakukan wanita Kamerun sejak ratusan tahun lalu. Hal ini dilakukan guna melindungi para wanita dari pelecehan seksual. Ironisnya, praktik setrika payudara itu dilakukan oleh ibu kandung para gadis tersebut.

Dikutip dari Global Citizen, Sabtu (13/7/2019), praktik setrika payudara dilakukan ketika anak perempuan menunjukkan tanda-tanda pubertas. Setrika payudara ini dilakukan menggunakan spatula, batu, atau benda tumpul apapun yang telah dipanaskan di bara api. Setelah panas, si ibu bakal menekan benda tersebut di atas payudara anak gadisnya sampai bentuknya rata.

Selanjutnya, si ibu bakal membalut payudara anak gadisnya dengan perban sekuat mungkin. Hal ini dilakukan agar payudara tidak tumbuh kembali. Gadis Kamerun biasanya mengenakan kemben yang terbuat dari bahan karet sangat ketat saat beraktivitas sehari-hari. Pakaian itu sengaja dikenakan guna meratakan siluet payudara.

Wanita Kamerun berpikir, payudara yang rata akan melindungi diri mereka dari segala bentuk kejahatan seksual. Sebab, wanita dengan payudara rata tidak menarik di mata pria, sehingga aman dari ancaman pemerkosaan.

Sejumlah gadis di Kamerun bingung mengapa ibu mereka melakukan praktik setrika payudara. Setiap kali mereka meronta, sang ibu mengatakan cara menyakitkan itu dilakukan demi kebaikan.

“Ketika payudaraku mulai tumbuh, orang-orang di sekitarku mulai membicarakannya. Akhirnya, ibuku menyetrika payudaraku dengan alasan agar tidak menarik perhatian pria. Kurasa dia bermaksud baik,” terang salah satu wanita Kamerun yang menjadi korban setrika payudara.

Bagi wanita Kamerun, menyetrika payudara adaah praktik abadi demi kebaikan si anak perempuan. Namun, dalam sudut pandang lain, tindakan ini sama halnya seperti memutilasi alat kelamin wanita. Tradisi mengerikan ini menimbulkan rasa sakit fisik dan trauma psikis yang mendalam.

Tradisi setrika payudara di Kamerun memang belum terlalu populer. Hal ini dipicu kultur tertutup yang dimiliki warga setempat. Mereka seringkali malu saat difoto jika bagian payudaranya terlihat. Praktik ini dilakukan dengan harapan membuat anak perempuan kurang menarik secara seksual di mata pria sekaligus mencegah pernikahan dini. Berdasarkan data UNICEF, sekitar 38 persen gadis Kamerun menikah pada usia 18 tahun. Bahkan, sekitar 20 persen remaja perempuan putus sekolah karena hamil di luar nikah.

Praktik setrika payudara bukan hanya terjadi di Kamerun, melainkan di Chad, Guinea Bissau, Togo, dan Benin. Namun, kasus ini memang paling umum terjadi di Kamerun karena seperempat penduduk wanitanya mengalami hal tersebut. Kasus ini juga terjadi di Inggris dengan korban sekitar 1.000-an gadis imigran Afrika Barat.

Meski maksud dari setrika payudara adalah melindungi anak, nyatanya tindakan tersebut justru berakibat sebaliknya. Praktik ini menimbulkan trauma fisik dan emosional di benak korban. Luka akibat proses setrika payudara itu meninggalkan bekas luka yang rentan terinfeksi. Sejumlah wanita yang payudaranya disetrika mengeluh kesulitan memproduksi ASI.




Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten