Ngepit ke Kota Netral Karbon

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 9 Juli 2021. Esai ini karya Djoko Subinarto, esais dan bloger.

 Djoko Subinarto (Istimewa/Dokumen pribadi)

SOLOPOS.COM - Djoko Subinarto (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, Solo — The bicycle is the most civilized conveyance known to man. Other forms of transport grow daily more nightmarish. Only the bicycle remains pure in heart (Iris Murdoch).

Penggunaan sepeda (baca: sepeda onthel) secara masif untuk moda transportasi sehari-hari bukan hanya bisa berkontribusi bagi upaya pencapaian netral karbon, tetapi juga bisa berkontribusi bagi upaya penciptaan lapangan kerja yang pro lingkungan alias green job.

Aktivitas ngepit di sejumlah kota di negeri ini menunjukkan tren meningkat, khususnya ketika awal pandemi Covid-19. Setidaknya ini ditandai dengan sempat meningkatnya penjualan sepeda serta bermunculannya para pesepeda baru produk pandemi Covid-19 di berbagai dareah dan kota di negeri ini.

Tren bersepeda yang sempat meningkat pada awal pandemi Covid-19 di negara kita semestinya terus dipelihara sehingga bukan hanya demam sesaat, melainkan merupakan cikal bakal terbentuknya kultur bersepeda di kalangan masyarakat kita.

Dengan demikian, sepeda yang notabene sangat ramah lingkungan itu lambat laun akan menjadi alat transportasi sehari-hari masyarakat kita, menggantikan sepeda motor atau mobil, terutama untuk mobilitas di dalam kota dengan rute-rute pendek.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 2018 telah menyerukan dan mendorong semua negara anggota untuk mencurahkan perhatian khusus pada penggunaan sepeda dalam strategi pembangunan lintas sektor dan untuk memasukkan sepeda dalam kebijakan dan program pembangunan internasional, regional, nasional, dan subnasional.

Selain itu, PBB juga menyerukan kepada semua negara anggota untuk meningkatkan keselamatan di jalan raya dan mengintegrasikan kebijakan terkait itu ke dalam perencanaan dan desain infrastruktur mobilitas dan transportasi yang berkelanjutan. Khususnya melalui kebijakan dan tindakan secara aktif melindungi dan mempromosikan keselamatan pejalan kaki dan mobilitas bersepeda dengan tujuan mencapai hasil kesehatan yang lebih luas, terutama dalam pencegahan cedera dan penyakit tidak menular.

Green Job

Seperti kita ketahui, akibat penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil selama ini polusi di kota-kota kian bertambah. Emisi gas buang dari kendaraan berbahan bakar fosil memicu pemanasan global dan berdampak sangat buruk bagi kesehatan masyarakat.

Polusi udara akibat gas buang kendaraan berbahan bakar fosil tidak bagus buat kesehatan jasmani dan juga tidak bagus bagi kesehatan mental. Sudah banyak hasil penelitian yang menyimpulkan terdapat kaitan erat antara polusi udara dengan peningkatan risiko gangguan kejiwaan.

Demi kelestarian bumi dan kesehatan kita, menekan polusi udara hingga ke level paling rendah adalah hal yang wajib kita lakukan sejak sekarang ini. Caranya antara lain dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor berbahan bakar fosil dan beralih–salah satunya—mengendarai sepeda.

Kebijakan pembangunan kota-kota kita masih cenderung mengakomodasi kepentingan para pengguna kendaraan bermotor. Faktanya, infrastruktur bagi kendaraan bermotor sejauh ini lebih diprioritaskan ketimbang infrastruktur bagi pesepeda dan pejalan kaki.

Ujungnya, masyarakat kita cenderung lebih memilih menggunakan moda transportasi pasif, seperti sepeda motor atau mobil, ketimbang menggunakan transportasi aktif, seperti sepeda, berjalan kaki, maupun skateboard.

Penggunaan sepeda secara masif sebagai sarana transportasi sehari-hari akan mengurangi secara signifikan tingkat kemacetan dan polusi di kawasan perkotaan dan berkontribusi bagi terciptanya netral karbon serta menciptakan pekerjaan-pekerjaan yang pro lingkungan, yang di Barat disebut sebagai green job.

Netral karbon tercapai ketika jumlah emisi karbon dioksida yang kita lepaskan ke atmosfer sama dengan jumlah emisi karbon dioksida yang kita keluarkan dari atmosfer. Salah satu upaya mewujudkan netral karbon adalah dengan mengganti transportasi berbasis bahan bakar fosil yang kaya emisi karbon dengan transportasi yang rendah emisi karbon atau tanpa emisi karbon. Sepeda adalah salah satunya.

Kita bisa mengambil contoh Kota Kopenhagen di Denmark. Sebagai upaya mewujudkan kota yang netral karbon, Pemerintah Kota Kopenhagen terus membangun dan meningkatkan infrastruktur sepeda.

Target pengelola Kota Kopenhagen yaitu menjadikan kota ini sebagai kota netral karbon pada tahun 2025. Saat ini, 49% aktivitas transportasi di ibu kota Denmark itu melibatkan penggunaan sepeda dan diperkirakan akan terus meningkat.

Dalam konteks peluang kerja, penggunaan sepeda sebagai moda tranportasi bakal membuka aneka macam lapangan pekerjaan. Dengan demikian, bukan hanya kawasan perkotaan kita bakal semakin bersih, semakin nyaman, dan semakin sehat karena polusi udara dan kemacetan berkurang, tetapi juga semakin banyak tersedia kesempatan kerja.

Kajian yang dilakukan Transport, Health, and Environment Pan-European Programme (THEPEP), beberapa waktu lalu, menyimpulkan sekurangnya akan ada 435.000 tambahan peluang kerja sekiranya kota-kota besar bersedia mengadopsi model kota sepeda seperti Kopenhagen di Denmark.

Peluang-peluang kerja yang tersedia dan terkait dengan penggunaan sepeda sebagai moda transportasi tentu saja sangat beragam, mulai dari perancang dan perakit sepeda, montir sepeda, kafe sepeda, kurir barang yang menggunakan sepeda (bike messenger), hingga bisnis wisata sepeda (bike tourism).

Sejumlah kajian yang dilakukan di Portland, Oregon, Amerika Serikat, memperlihatkan dengan jelas adanya hubungan erat antara meningkatnya jumlah pengguna sepeda dengan meningkatnya sejumlah peluang kerja di kota itu.

Portland selama ini dikenal sebagai salah satu kota dengan tingkat lapangan kerja yang terkait dengan penggunaan sepeda paling tinggi per 1.000 penduduk di dunia, di samping Groningen, Belanda.

Peran Pengelola Kota

Peran para pengelola kota sangat krusial dalam mendorong terbentuknya budaya bersepeda di kalangan warga kota. Pengelola kota selain harus mampu menyediakan sejumlah fasilitas yang memadai bagi para pesepeda, juga harus mampu merancang dan membuat kebijakan serta regulasi yang dapat mendorong warga kota lebih memilih sepeda sebagai salah satu sarana transportasi utama mereka.

Sekarang di sejumlah kota di Indonesia sudah ada sebagian warga yang berinisiatif membuat gerakan bersepeda ke tempat kerja (bike to work) dan juga bersepeda ke kampus (bike to campus). Komunitas-komunitas pencinta sepeda tumbuh pula di setiap kota.

Para pengelola kota di negeri ini perlu membangun sinergi serta kolaborasi dengan para aktivis bike to work, bike to campus, dan komunitas-komunitas sepeda untuk merancang sejumlah kebijakan dan regulasi yang pro pesepeda.

Dengan begitu, gerakan bersepeda ke tempat kerja, bersepeda ke kampus, maupun bersepeda ke sekolah dapat kian diperluas serta menjangkau kian banyak lapisan masyarakat, terutama para generasi muda.

Semakin banyak warga kota yang menggunakan sepeda sebagai moda transportasi sehari-hari, maka semakin banyak green job tercipta. Pada saat yang sama, kota-kota akan jauh lebih bersih, jauh lebih sehat, dan jauh lebih humanis.


Berita Terkait

Espos Premium

Berita Terkini

Peran Pemberitaan Pemerintah dalam Komunikasi Publik Masa Kini

Opini ini ditulis Joko Priyono S.Sos M.Si, Kepala Seksi Komunikasi dan Desiminasi Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Klaten

Sistem Pembayaran Pensiun di Indonesia

Opini ini ditulis Yuniar Yanuar Rasyid, Widyaiswara Ahli Utama Pusdiklat AP Kementerian Keuangan.

Trend Hybrid Learning dalam PPKM Level di Dunia Pendidikan

Opini ini ditulis Atiek Rachmawati, S.S, Alumnus Prodi Sastra Daerah FSSR (sekarang FIB) UNS dan Guru Bahasa Jawa SMA N 2 Grabag, Magelang.

Selama 16 Tahun Berhasil Provokasi Puluhan Orang Tinggalkan Zona Nyaman

Esai ini ditulis oleh Dr Aqua Dwipayana, Penulis Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional.

Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?

Opini ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

Melawan Begal Digital

Esai ini ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia Group, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 22 September 2021.

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.