Seorang warga Dusun Glagah RT 033, Desa Dukuh, Tangen, Sragen, mencuci pakai air yang digali dari dasar Sungai Glagah, Selasa (10/9/2019). (Solopos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN -- Pemerintah Desa Dukuh, Kecamatan Tangen, -sragen-setop-bantuan-tandon-ke-wilayah-kekeringan-ada-apa" title="Bupati Sragen Setop Bantuan Tandon ke Wilayah Kekeringan ">Sragen, kesulitan mendapatkan sumber air untuk mengatasi krisis air bersih bagi 700-800 keluarga di enam dusun paling parah terdampak musim kemarau tahun ini.

Pemerintah desa setempat sudah mengebor tanah di 30 lokasi di seluruh wilayah desa tetapi tidak mendapatkan sumber air. Sekretaris Desa Dukuh Joko Wibowo saat dihubungi Solopos.com, Selasa (10/9/2019), mengatakan sebenarnya dampak kekeringan melanda hampir seluruh desa.

Namun yang paling parah ada enam dukuh, yakni Pucung, Mangir, Dukuh, Gendol, Glagah, dan Widodo. Dia menyebut ada 700-800 keluarga yang mendiami enam dukuh tersebut.

Mereka mengandalkan air dari belik-belik kecil di tengah sungai dan ladang di lembah . Mereka juga ada yang membeli air dari penjual keliling. Bantuan -130-tandon-air-ke-36-desa-bupati-sragen-akui-bukan-solusi-krisis-air" title="Bagikan 130 Tandon Air ke 36 Desa, Bupati Sragen Akui Bukan Solusi">air bersih dari Sragen baik lewat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) atau donatur komunitas masyarakat lainnya masih mengalir ke Desa Dukuh tetapi tidak merata.

"Kadang-kadang 2-3 hari datangnya 1-2 tangki. Satu lokasi itu hanya satu tangki per dua hari,” ujarnya.

Joko menjelaskan Pemerintah Desa Dukuh sudah berusaha mengatasi krisis air bersih itu dengan mengebor di sejumlah lokasi yang terindikasi ada air di dalam tanah. Kedalamannya sampai 120 meter.

Joko menyebut ada 30 lokasi yang sudah dibor dengan kedalaman di atas 100 meter tetapi tidak mendapat air yang memadai. Kalau pun ketemu air debitnya kecil dan habis dalam tempo singkat.

"Beberapa waktu lalu ada pihak yang mau mengebor. Saya tawarkan ada tiga lokasi, yakni di Glagah RT 030, Dusun Dukuh RT 005, dan Dusun Mangir RT 006. Namun sampai sekarang belum ada konfirmasi. Selain ngebor, Pemdes hanya menyediakan -desa-di-sragen-darurat-kekeringan" title="36 Desa di Sragen Darurat Kekeringan ">tandon air. Kalau untuk alokasi bantuan airnya, desa tidak mampu,” ujarnya.

Pengeboran yang dimaksud Joko itu dari inisiatif warga yang menggandeng Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Sragen dan Komunitas Rukyah Rehab Hati Sragen.

Anggota Staf Program Lazismu Sragen, Tommy, menyampaikan pengeboran tanah untuk pembuatan sumur dalam itu rencananya menempati tanah kas desa di wilayah Dusun Glagah.

“Tanah yang dibor nanti ada di tengah ladang tebu. Target awal kedalaman 60 meter karena pengalaman di Galeh juga mengebor 60 meter bisa dapat air. Kalau dalam kedalaman 60 meter tidak dapat air akan diperdalam lagi. Setelah dapat air akan ditarik ke tandon tower di lingkungan RT 031. Dari tandon permanen itulah warga dua RT bisa menikmati air bersih,” ujarnya.

Tommy menyampaikan biaya pengeboran tanah itu diprediksi mencapai Rp10 juta. Dana itu ditanggung Lazismu Sragen, Kantor Layanan Lazismu Tangen, dan Komunitas Rehab Hati Sragen. Dia mengatakan air dari sumur itu ditarik dengan pompa listrik untuk 80 keluarga.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten