Tutup Iklan
New Normal Sektor Penerbangan, Garuda Indonesia Minta Tarif Naik
Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia. (Bisnis-Paulus Tandi Bone)

Solopos.com, JAKARTA -- PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) mengharapkan tarif tiket pesawat ditetapkan naik pada masa kenormalan baru atau new normal di penerbangan. Hal itu sebagai implikasi tingkat keterisian yang tidak optimal akibat penerapan jaga jarak yang lebih ketat.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, memastikan Garuda akan mengikuti ketentuan jaga jarak pada masa new normal seperti ditetapkan Gugus Tugas Penanganan Covid-19. Maskapai pelat merah tersebut akan mengosongkan kursi di bagian tengah agar masyarakat lebih nyaman dan aman.

“Jadi naik Garuda kelas ekonomi serasa kelas bisnis karena lengang. Namun, problemnya di kita memang ada implikasi finansial ada banyak tempat duduk yang enggak bisa kita jual. Pilihannya adalah boleh nggak menaikkan harga, tentunya dengan yang masih masuk akal,” jelas dia, Jumat (5/6/2020).

Selama Bioskop Masih Tutup, Yuk Intip Keseruan Drive-in Bioskop Ala Meikarta

Emiten berkode saham GIAA juga mengharapkan pengertian masyarakat dan calon penumpang bahwa kebijakan itu semata supaya maskapai bertahan hidup di era new normal di penerbangan. Kebijakan kenaikan tarif hanya sampai situasi pandemi ini lewat.

Pihaknya memperkirakan penurunan total pendapatan (konsolidasi) akibat Covid-19 mencapai lebih besar dari 75 persen. Sedangkan penurunan laba bersih bisa mencapai lebih dari 75 persen.

Data Covid-19 Wonogiri: Positif Ajek 2 Kasus, PDP Jadi 3

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan mengubah sejumlah ketentuan yang berlaku dalam masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menghadapi fase new normal di penerbangan.

Pertimbangkan Kapasitas Bandara

Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Novie Riyanto, mengatakan kebijakan baru dalam new normal di penerbangan akan mempertimbangkan kapasitas bandara. Selain itu, komposisi dan pengaturan tempat duduk penumpang, hingga implementasi peralatan dan disinfektan yang lebih canggih.

Novie menjabarkan dalam tatanan new normal di penerbangan, maka pengaturan yang dibuat harus mengacu pada standar internasional. Standar itu disetujui antara International Civil Aviation Organization (ICAO) dan International Air Transport Association (IATA).

Mantab! Desa di Wonogiri Ini Siapkan Paket Wisata Perbukitan Cuma Rp50.000/Orang

Di sisi lain, Garuda Indonesia memastikan hanya akan menerbangi rute-rute sesuai dengan tingkat permintaan selama new normal di penerbangan. Irfan menyebut wilayah di luar rute gemuk tetap akan dioperasionalkan, tetapi dengan penurunan jumlah frekuensi.

Garuda telah mengandangkan hampir 70 persen pesawat. “Rute-rute yang tidak terlalu ramai memang harus bersabar menunggu giliran terbangnya karena pesawat juga kami kurangi sesuaikan dengan kebutuhan pasar,” jelas dia.

Makin Perkasa, Rupiah 5 Juni Tinggalkan Zona Rp14.000 per Dolar AS


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom

Pasang Baliho