New Normal di Sragen, Sekolah Masuk 3 Kali Sepekan, Kantin Sekolah Ditutup
Ilustrasi siswa mengenakan masker (Solopos-M. Ferri Setiawan)

Solopos.com, SRAGEN -- Disdikbud Sragen memperpanjang masa belajar di rumah sampai 20 Juni 2020 dan dilanjutkan libur akhir tahun ajaran hingga 13 Juli 2020. Kemudian penerapan new normal di Sragen, siswa masuk sekolah tiga kali sepekan.

Selama masa belajar di rumah dan libur akhir tahun ajaran itu, Disdikbud menyiapkan konsep new normal di bidang pendidikan.

Kepala Disdikbud Sragen, Suwardi, mengeluarkan surat pemberitahuan No. 420/3403/013/2020 tertanggal 29 Mei 2020 yang ditujukan kepada koordinator wilayah kecamatan bidang pendidikan se-Kabupaten Sragen.

Belajar di Rumah Diperpanjang, Disdik Sukoharjo Siapkan Skema New Normal

Koordinator tersebut meliputi pengawas sekolah, kepala pendidikan anak usia dini (PAUD), sekolah dasar (SD), dan sekolah menengah pertama (SMP) se-Kabupaten Sragen, serta ketua pusat kegiatan belajar mengajar (PKBM) se-Kabupaten Sragen.

Surat tersebut memberitahukan Sragen masih berstatus tanggap darurat bencana non alam penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Atas dasar itu, masa siswa belajar di rumah diperpanjang sampai 20 Juni 2020 dan dilanjutkan libur akhir tahun ajaran sampai 13 Juli 2020.

Siswa Diberi Tugas Pengayaan

“Kalendernya memang begitu. Anak belajar di rumah sekarang tinggal evaluasi-evaluasi saja karena menyiapkan tahun ajaran baru. Guru tinggal menyelesaikan tugas-tugas administrasi sesuai kalender masing-masing guru. Siswa diberi tugas untuk pengayaan saja,” ujar dia saat dihubungi Solopos.com, Sabtu (30/5/2020).

Waduh, Pembeli Berdesak-desakan Demi Belanja Emas di Sukoharjo

Setelah memasuki ajaran baru nanti, Suwardi bakal menerapkan konsep pendidikan dengan kenormalan baru atau new normal di Sragen. Konsepnya menggunakan pendekatan online dan offline atau belajar di rumah dan belajar tatap muka di sekolah.

Pembagian sif masuk sekolah berlaku harian. Suwardi mencontohkan setiap siswa masuk ke sekolah sepekan tiga kali secara bergantian untuk jaga jarak. Satu kelas separuh masuk, separuh di rumah dengan penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

“Semua siswa yang masuk harus pakai masker. Sekolah menyiapkan tempat cuci tangan dengan air mengalir satu kelas satu unit. Untuk siswa yang masuk tidak mungkin bersama. SMP itu satu rombel [rombongan belajar] maksimal 32 orang dan SD maksimal 28 orang. Jadi yang masuk 16 siswa untuk SMP dan 14 siswa untuk SD dengan cara diselang, sehari masuk, sehari di rumah,” jelas dia.

Kegiatan Belajar di Rumah Pelajar Solo Diperpanjang hingga 13 Juli 2020

Suwardi mengatakan konsep ini belum kelar karena masih didiskusikan untuk penerapan new normal di Sragen. Konsep ini disiapkan supaya tidak terjadi kemerosotan dalam pendidikan.

Evaluasi Pembelajaran Daring

Pembelajaran daring selama ini dari hasil evaluasi Suwardi belum menjangkau ke seluruh wilayah. Penyebabnya, fasilitas jaringan Internet tidak sama dan kemampuan siswa atau orang tua yang berbeda.

Miliki Bukti, Ini 3 Kisah Penjelajah Waktu yang Sempat Menghebohkan

“Saya yakin orang tua mendukung dan lapisan masyarakat mendukung. Anak nanti dijelaskan. Kalau yang menjelaskan guru pasti lebih ditaati. Kondisi ini jadi momentum untuk mengubah tata kehidupan dan menanamkan karakter bagi anak,” imbuh dia.

Ketika jam istirahat pada era new normal di Sragen pun diatur supaya siswa tidak berkerumun. Misalnya, kantin ditutup dan siswa bawa makanan sendiri dari rumah.

Saat penjemputan yang dinilai paling rawan, juga diantisipasi dengan tertib. Sebelum sekolah masuk, seluruh sekolah disterilisasi. Setiap sekolah dilengkapi fasilitas cuci tangan. Suwardi sudah mengajukan pengadaan fasilitas itu dan sekolah boleh menganggarkan sendiri.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho