New Normal Bukan Back To Normal, Ini Loh Maksudnya
Ilustrasi kehidupan di era new normal. (Freepik)

Solopos.com, SOLO – Skenario new normal telah diterapkan di sejumlah wilayah Indonesia yang terdampak wabah Covid-19. Ada beberapa kelonggaran yang diberlakukan dalam tatanan kehidupan normal di tengah pandemi.

Sayangnya, masih banyak orang menganggap new normal sama dengan kembali hidup seperti biasa alias back to normal seperti sebelum Covid-19 mewabah. Padahal, konsep new normal merupakan tatanan kehidupan baru agar manusia bisa beraktivitas seperti biasa di tengah wabah atau biasa disebut dengan istilah berdamai dengan Covid-19.

Salah kaprah soal new normal ini turut menjadi perhatian Kepala Staf Presiden, Moeldoko. Dia melihat banyak orang yang mengartikan kenormalan baru sebagai kembali normal atau back to normal.

Pendekar Keberatan Tugu Perguruan Silat di Sragen Dirobohkan, Ini Respons Bupati Yuni 

Salah Kaprah

Moeldoko menjelaskan new normal merupakan tatanan baru yang menuntut manusia beradapptasi dengan Covid-19 agar tetap produktif, tapi tetap aman.

New normal bukan back  to normal. Kalau back to normal repot kita semuanya,” katanya dalam webinar MarkPlus Government Roundtable 15 Juni 2020, seperti dikutip dari Detik.com, Minggu (28/6/2020).

Moeldoko menegaskan kenormalan baru merupakan upaya menyeimbangkan aspek kesehatan dengan segala bidang kehidupan, termasuk ekonomi. Kenormalan baru ini diharapkan menggerakkan sektor ekonomi kembali produktif. Tetapi, semua orang harus menerapkan protokol kesehatan dengan ketat agar tetap aman selama new normal diberlakukan.

New normal adalah tatanan baru. Tatanan baru bentuk adaptasi manusia pada masa pandemi Covid-19 untuk tetap melakukan aktivitas sosial ekonomi produktif, tetapi tetap menjaga agar tidak terpapar Covid-19,” sambung dia.

Jarang Disorot, Ini Sosok Dian Ekawati Istri Didi Kempot

Salah kaprah soal makna new normal di tengah pandemi Covid-19 juga disoroti pengamat ekonomi Unniversitas Indonesia, Berly Marrtawardaya. Dia menilai kebanyakan maasyarakat Indonesia mengartikan istilh asing ini dengan kondisi yang kembali normal.

Berly menyarankan pemerintah menggunakan istilah yang lebih mudah dipahami untuk menyebut new normal di tengah pandemi Covid-19 agar tidak menimbulkan kesalahpaahaman.

“Jangan pakai bahasa Inggris. Dalam kondisi seperti ini perlu istilah yang mudah dipahami oleh masyarakat supaya tidak salah pengertian dan dikerjakan,” terangnya seperti dikutip dari Okezone.

Kisah Keluarga Miskin 5 Tahun Tinggal di Bekas Gudang Es Angker di Jajar Solo

Jumlah Kasus Positif Meroket

Ruwetnya makna new normal yang dipahami sebagai back to normal agaknya berpengaruh pada penambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia sebulan terakhir. Hampir setiap hari ada tambahan sekitar 1.000 kasus pasien positif terjangkit Covid-19.

Hal ini bisa saja terjadi akibat kelonggaran sebagai imbas new normal dan kurangnya kesadaran serta kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan di tengah pandemi. Sebab penerapan new normal sebelumnya memang disambut gembira banyak orang yang kemungkinan mulai bosan dan tidak betah dengan segala pembatasan akibat persebaran virus corona yang begitu masif.

Penerapan skenario neew normal di tengah pandemi Covid-19 ini tidak luput dari perbincangan warganet. Beragam tagar berkaitan dengan new normal menjadi temaa diskusi hangat di lini massa Twitter.

Peringkat 4 Se-Indonesia, Jateng Catat 3.294 Kasus Positif Covid-19

Kampanye New Normal

Berdasarkan data social media monitoring tools Drone Emprit Academic yang disediakan Universitas Islam Indonesia (UII), tren percakapan new normal naik pesat pada 26 Mei 2020. Saat itu bertepatan dengan kunjungan Presiden Jokowi ke salah satu mal di Bekasi, Jawa Barat.

Jumlah kicauan tentang new normal.

Awalnya kampanye new normal disambut baik netizen hingga Indonesia menjadi negara nomor satu yang paling aktif membahas hal tersebut di Twitter. Namun, perlahan muncul sentimen negatif soal new normal lantaran kasus positif yang terus meningkat dan kurva yang tak kunjung melandai. Bahkan, tidak sedikit netizen khawatir gelombang kedua Covid-19 melanda Indonesia.

Sampai Jumat (26/6/2020), tercatat ada 24.572 kicauan soal new normal. Dari jumlah itu 13.235 kicauan atau 54% menunjukkan sentimen positif, 42% atau 10.332 kicauan negatif, dan 1.005 atau 4% sisanya netral. Dalam sepekan terakhir sentimen negatif meningkat pada Selasa (23/6/2020)  dan menurun pada Sabtu (27/6/2020). Komentar bernada negatif paling banyak dicuitkan bbuzzer di Jakarta, Bandung, Jogja, dan Surabaya.

Tren percakapan new normal di media sosial.

6 Tahun Nikah dan Punya 2 Anak, Pernikahan Pasutri di Sragen Ini Dibatalkan, Kok Bisa? 

Cuitan milik influencer Faiz Sadad di akun @faizsadad_ pada Senin (22/6/2020) menjadi yang terpopuler sepekan terakhir setelah 1.863 kali dibagikan ulang. “New normal itu bukan berarti Covid-nya udah ilang,” tulisnya.

Makna New Normal

Tidak dapat dimungkiri, wabah Covid-19 memaksa semua orang beradaptasi dengan tatanan kehidupan baru. Sampai saat ini tidak ada seorang pun yang mampu menjawab dengan pasti kapan pandemi berakhir, mengingat belum ditemukan vaksin serta obat yang mujarab untuk mengendalikannya.

Suka tidak suka, mau tidak mau, semua orang dipaksa melakukan hal yang awalnya tidak biasa menjadi kelaziman. Mengurangi aktivitas di luar rumah serta membatasi interaksi dengan orang lain menjadi hal yang dianjurkan demi menjaga keamanan diri dari risiko penularan virus corona. Semua itu harus dilakukan guna memuts rantai persebaran virus.

Namun kenyataannya hal tersebut belum bisa dijadikan kebiasaan baru hingga muncul istilah new normal yang membuat orang harus bisa beradaptasi dan berdamai dengan Covid-19. Istilah ini awalnya dipakai dalam bidang eekonomi bisnis merujuk pada kodisi keuangan pasca-krisis 2007-2008 dan resesi global 208-2012.

Ga Nyangka! Ini Arti Nama Staso Prasetyo, Putra Didi Kempot dan Dian Ekawati

Selanjutnya istilah tersebut dipakai menggambarkan kondisi yang sebelumnya abnormal menjadi umum. Dalam kaitannya dengan Covid-19, new normal dimaknai sebagai perilaku untuk menjalankan aktivitas secara normal dengan menerapkan protokol kesehatan.

Sampai Kapan?

Ketua tim pakar Gugus Tugas Covid-19, Prof Wiku Adisasmito, mengatakan prinsip utama yang harus diterapkan adalah pola hidup sehat. Selanjutnya masyarakat diperbolehkan kembali beraktivitas seperti biasa, namun tetap harus menerapkan protokol pencegahan Covid-19 seperti memakai APD, mencuci tangan, serta menjaga jarak dengan orang lain.

Hal tersebut harus dilakukan sampai vaksin untuk mengatasi virus corona ditemukan. Artinya, kehidupan bisa kembali normal setelah vaksin ditemukan untuk mengendalikan wabah.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho