Negeri Melankolia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 28 Juli 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

 Ichwan Prasetyo (Istimewa/Dokumen pribadi)

SOLOPOS.COM - Ichwan Prasetyo (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO — Seorang teman baik saya, perempuan ahli statistik yang sedang menempuh studi master di Belanda, pada Sabtu (24/7/2021), setengah jam setelah azan Subuh pada zona waktu Indonesia bagian barat, mengirim pesan melalui Whatsapp.

“Kapan kiranya pandemi ini berakhir?” begitu kalimat pesan pendek dia.

“Loh, di Belanda masih gawat juga? Di sini malah sedang gawat-gawatnya,” jawaban saya.

“Belum ada yang benar-benar selesai dari pandemi, Mas. Kasus di Belanda meningkat lagi. Dalam kondisi begini masih ada juga yang menganggap Covid-19 adalah konspirasi,” kata dia.

Sehari kemudian dia berkabar sedang jalan-jalan di Roma dan tengah menuju Florence. Suasana pandemi masih terasa di sana. Protokol kesehatan tetap harus dijalankan dengan ketat.

Saya lantas teringat dialog dengan sepasang suami istri pedagang nasi goreng bergerobak dorong yang saya temui di bawah gerbang Universitas Muhammadiyah Surakarta selepas tengah malam pada pekan kedua Juli 2021.

“Tadi didatangi tim patroli polisi dan satuan polisi pamong praja, Mas. Saya dan Bapak diminta tak berjualan 20 hari. Lalu, kami mau makan apa kalau tak berjualan?” kata si ibu saat menyerahkan sebungkus nasi goreng yang saya beli.

Saya menuju rumah dengan perasaan tak keruan. Pada dini hari itu saya kirim pesan via Whatsapp kepada seorang kawan, eks wartawan, tentang kesedihan saya selepas bertemu sepasang suami istri penjual nasi goreng itu.

“Ajari pakai aplikasi. Tetanggaku juga berjualan nasi goreng. Sekarang alamatnya dipindah ke aplikasi. Pesanan masih ada, ya via aplikasi,” kata teman saya itu.

Kemarin ketika saling berkabar via Whatsapp dengan dua kawan masa SMA dan masa SD mendapat kabar seorang kawan masa SMA sepekan lalu meninggal karena Covid-19 dan tiga hari kemudian istrinya menyusul. Mereka meninggalkan tiga orang anak. Anak ragil sedang masuk taman kanak-kanak.

“Apa yang bisa kita perbuat untuk anak-anak mereka?” begitu pertanyaan saya. Ini hanya sebagian kecil dari kabar-kabar duka yang saya terima tiga pekan terakhir. Rasanya sangat lelah karena beberapa kali tiap hari selama tiga pekan terakhir harus mengirim pesan pendek berbunyi “Ndherek belasungkawa”.

“Rekor” yang saya ingat adalah tujuh kali dalam sehari mengirim pesan itu. Melankolia sangat terasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan melankolia—dalam konteks hari-hari ini–sebagai patologi tentang suasana hati yang ditandai dengan kepedihan dan depresi.

Di tengah melankolia yang begini lama jamak muncul pertanyaan-pertanyaan ihwal eksistensi kita sebagai manusia. Apa yang bisa saya lakukan untuk anak-anak yatim piatu itu? Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu pedagang kecil itu? Apa guna saya ketika tak bisa membantu mereka?

Pertanyaan-pertanyaan lain terus bermunculan seiring kabar-kabar duka yang terus berdatangan. Ketika tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mengirim pesan “Ndherek belasungkawa”, apa guna eksistensi saya? Melankolia makin terasa.

Albert Camus menggambarkan dengan sangat “konkret” absurditas manusia. Seperti Sisifus, tokoh mitos Yunani, manusia dikutuk setiap hari mendorong batu ke puncak bukit. Sesampai di puncak bukit menyaksikan batu itu menggelinding ke kaki bukit.

Sisifus mendorong lagi batu itu ke puncak bukit dan di puncak bukit melihat lagi batu itu menggelinding lagi ke kaki bukit. Begitu seterusnya. Seorang dosen pada awal semester menyiapkan semua bahan kuliah. Mengajar sesuai jadwal. Memberikan tugas. Memeriksa paper para mahasiswa.

Memberikan ujian mid semester. Mengakhiri semester dengan ujian akhir semester. Mengulangi lagi pada awal semester hingga akhir semester. Apa peran nyata membantu orang-orang yang berduka dan kesulitan karena pandemi?

Sisifus adalah kita. Banyak pertanyaan mengenai absurditas kita menjalani hidup. Camus tidak tertarik menyelesaikan problem-problem koseptual seperti yang mewujud dalam pertanyaan-pertanyaan saya itu. Bagi Camus, jawaban hanya ada dalam tindakan konkret, apa pun wujud tindakan itu.

Rasa absurd berkenaan dengan bagaimana kita bersikap pada diri kita sendiri, pada sesama, dan pada dunia. Absurditas membuat kita sadar sepenuhnya pada batas pikiran kita sendiri yang selalu butuh landasan. Rasa ini juga membebaskan kita dari ragam rasa bersalah atau kesadaran yang menyakitkan.

Di kedalaman absurditas manusia menemukan kepolosan. Aku, kamu, kita, mereka menjadi sama dan setara. Semua menjadi sama saja. Dalam konteks melankolia pandemi hingga hari ini, tidak tahu mengapa dan tanpa harus mencari jawabannya, sikap manusia terlibat adalah dengan kepala tegak melawan kematian di sisi korban.

Di hadapan penderitaan manusia harus terlibat aktif menolak kepasrahan fatalistis anti-aksi. Camus mengajarkan keterlibatan adalah “bertempur” di sisi korban tanpa mengharapkan kemenangan. Manusia yang sadar akan absurditas eksistensi tidak tergoda untuk lari mencari kenikmatan diri mumpung masih hidup.

Satu-satunya jawaban adalah terlibat aktif melawan dalam perkawanan, dalam solidaritas sesama. Tanpa lelah melawan ketika “kejahatan” datang lagi. Tindakan-tindakan kitalah yang menentukan apakah absurditas dalam melankolia pandemi bermakna atau tidak.

Mau menjadi covidiot atau disiplin menerapkan protokol kesehatan adalah tindakan nyata yang akan bermakna atau tidak bermakna. Manusia memiliki lebih banyak sisi positif untuk dikagumi dan dipercaya bisa menjadi landasan bagi sebuah keterlibatan.

Saya memaknai keterlibatan ini adalah berdampingan dengan melankolia pandemi tanpa terjerumus bunuh diri. Dengan kesadaran ini kita bisa memaknai bahwa Sisifus bahagia dalam “kutukan” itu. Lalu, mengulangi pertanyaan kawan saya di Belanda itu, kapan kiranya pandemi ini berakhir?

Camus menyediakan jawaban dalam La Peste yang diterjemahkan Nh. Dini menjadi Sampar. Kuman sampar hanya tidur di pojok-pojok kursi, kamar, dan di sela-sela pakaian. Suatu saat basil-basil itu siap mengirimkan tikus-tikus berdarah untuk meluluhlantakkan lagi kehidupan adem ayem sebuah kota.

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Espos Premium

Samudra Biru Penjara

Samudra Biru Penjara

Keahlian kunci merehabilitasi narapidana ternyata berada di luar ranah kementerian yang bertanggung jawab atas eksistensi dan pengelolaan penjara.

Berita Terkini

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.

Pitulungan

Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seni Memasarkan PPKM Level 4

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Sabtu 7 Agustus 2021, ditulis oleh Mohammad Eko Fitrianto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.

Sepekan Penuh Kejutan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 6 Agustus 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pidana Sumbangan Rp2 Tiliun dan Hoax yang Difasilitasi

Opini ini ditulis Ahmadi H. Dardiri M.H., Sekjen Pusat Studi Peraturan Perundang-undangan (PSPP) IAIN Salatiga dan Dosen Fakulutas Syariah IAIN Salatiga