Natal dan Regulasi Pandemi
Aloys Budi Purnomo (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Umat Kristiani menyambut dan merayakan Natal tahun 2020 dalam kondisi yang masih dicekam pandemi Covid-19. Di Kota Solo, misalnya, para pemudik yang tidak membawa surat keterangan sehat hasil rapid test antigen atau hasil swab test negatif harus tinggal di rumah karantina yang disediakan Pemerintahan Kota Solo. Regulasi ini arif dan bijaksana pada masa pandemi.

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo menerbitkan regulasi soal karantina pemudik pada momentum libur Natal dan tahun baru 2021. Ia juga membuat regulasi penambahan sanksi untuk pelanggar protokol kesehatan. Di samping itu, masih ada pula regulasi isolasi bagi pasien terkonfirmasi Covid-19 di Kota Solo. Kedua beleid legal itu ditandatangani pada Sabtu (19/12/2020) dan mulai berlaku pada Minggu (20/12/2020).

Natal 2020 dan pandemi yang mencekam kita semua mewarnai hari-hari liburan akhir tahun 2020 ini. Hemat saya, ketercekaman Natal pada masa pandemi masih belum sehebat saat Natal perdana pada 2000-an tahun lalu. Walakin, saat itu yang tercekam hanya satu keluarga karena tiada tempat bagi mereka untuk mendapatkan tempat yang layak di tengah perjalanan panjang akibat regulasi yang dibuat oleh wali negeri kala itu di bawah kendali Kaisar Agustus penjajah bangsa Yahudi.

Itulah sebabnya, Sang Bunda yang sedang hamil tua itu harus melahirkan anaknya di kandang ternak dan membaringkannya di palungan serta membungkusnya dengan kain lampin (Lukas 2:6-7). Itulah indikasi sederhana yang tercatat dalam Injil betapa Natal perdana terjadi dalam ketercekaman para pengungsi akibat regulasi sensus penduduk kala itu.

Ketika Natal 2020 dalam arti tertentu mencekam akibat regulasi gara-gara pandemi Covid-19 itu tak seberapa berat, apalagi regulasi itu demi menjaga keselamatan rakyat dan masyarakat. Jangan sampai liburan kita menjadi sumber petaka bagi sanak kerabat dan keluarga sendiri. Jangan sampai liburan Natal dan tahun baru menjadi sumber penderitaan yang membawa penyesalan.

Semangat Natal Sejati

Dalam pemaknaan ini, saya sepakat dengan regulasi yang diterbitkan Wali Kota Solo. Kalau Natal perdana terjadi justru dalam rangka keselamatan umat manusia, jangan sampai Natal pada masa pandemi ini justru berlawanan dengan semangat Natal sejati. Natal perdana bahkan tanpa lampu dan aksesori selain nyanyian bala tentara surgawi dalam kidung Gloria im excelcis Deo.

Jika di sudut taman, jalan, dan jendela toko didekorasi, suasananya jauh dari hiruk pikuk seperti biasanya karena semua orang khawatir dengan pandemi. Mari kita terima kondisi demikian ini dengan legawa demi keselamatan yang menjadi semangat Natal sejati. Virus corona tipe baru penyebab pandemi Covid-19 itu seperti musuh tak terlihat.

Maka dari itulah, kita harus siap saat kita mengalihkan perhatian pada aturan anti-Covid:  masker kesehatan, jarak sosial, cuci tangan, dan disinfeksi.  Bisa jadi suasana tercekam menyambut Natal 2020 karena aturan negara tentang batasan untuk bepergian, pertemuan keluarga, dan perayaan liturgi menyerang kita semua, namun kita tidak sendirian.

Suasana ini menyergap semua orang di seluruh dunia dan tak ada cara lain kecuali bersikap waspada dan berjaga-jaga. Saya tidak bisa mengerti ketika di Italia, misalnya, karena ada jam malam pada pukul 22.00, mereka harus merayakan misa ”Malam Natal” pada sore hari, atau beberapa jam sebelum “semua orang pulang” akibat jam malam. Kita di Indonesia sudah terbiasa dengan "tradisi" itu sejak teror bom Natal pada 2000.

Gereja-gereja kita pun mengubah jadwal ibadah dan misa Malam Natal pada sore. Faktanya itu menjadi pilihan sebagian besar umat hingga ketika saya bertugas di Gereja Katedral Semarang, dengan harapan agar umat bisa memilih jadwal misa Malam Natal II yang lebih malam daripada yang pertama, dengan cara menjadwalkan Uskup Agung Semarang di misa Malam Natal II, toh itu tidak berhasil pula.

Umat lebih memilih misa Malam Natal pada sore hari meski yang memimpin hanyalah saya seorang imam biasa yang penuh dosa. Saya sadar betul itu terjadi (bahwa sebagian besar umat memilih ikut misa Malam Natal pada sore hari) bukan karena faktor pastornya, melainkan karena banyak alasan praktis yang jauh dari semangat pesan Natal sejati.

Lalu, mengapa pada masa pandemi masih memikirkan dan memperdebatkan regulasi yang dibuat demi keselamatan rakyat? Bahkan, ada yang berdalih sebagai melanggar kebebasan beribadah dan beragama. Itu sama sekali tidak masuk akal! Di beberapa negara media telah memperdebatkan apakah benar memajukan misa Natal atau menunda sampai setelah jam malam. Sejujurnya, ini sepertinya masalah remeh.

Di negara-negara misi, ketika hanya ada sedikit pastor, merupakan tradisi bahwa Natal dirayakan pada hari ketika pastor tiba yang--pergi dari desa ke desa--akan merayakan Malam Natal. Bahkan, di beberapa daerah pedalaman sungguh-sungguh terjadi umat merayakan Natal bersamaan dengan awal masa prapaskah karena kesempatan kunjungan pastoral yang terbatas.

Damai Sejahtera Sehari-hari

Menurut Injil, saat Natal perdana terjadi para malaikat surgawi mengabarkan kelahiran Yesus dengan pesan,”Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitahukan kepadamu kesukaan yang besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan di Kota Daud” (Lukas 2:10). Hari ini telah lahir bagimu.... Bukan hari kemarin atau lusa atau 2000-an tahun silam melainkan hari ini! Setiap hari kita diajak mengalami damai sejahtera Natal. Damai sejahtera Natal sehari-hari.

Maka, alih-alih berdebat kosong tentang regulasi beribadah atau regulasi liburan Natal dan tahun baru, marilah kembali ke semangat Natal perdana dengan damai sehari-hari. Kesulitan, kemiskinan, dan batasan yang kita gunakan untuk merayakan Natal pada masa pandemi ini mestinya membantu kita untuk lebih selaras dengan inti misteri Natal perdana.

Bahwa perayaan Natal kita ditentukan oleh Covid mengingatkan kita bahwa Kristus datang "dalam kegelapan dan dalam bayang-bayang kematian", lahir di kandang, "tidak ada tempat bagi mereka di penginapan", dan “dibaringkan di palungan" (Luk 2:6-7). Untuk alasan ini, pada hari Natal pada masa pandemi ini, saya ingin dekat dengan semua pasien Covid-19 dan orang lain, yang bahkan tanpa menyadarinya, di sanalah kehidupan berjuang melawan kematian dan kemenangan-Nya dimulai.

Semoga pada Natal pada masa pandemi ini kita tidak melupakan banyak orang yang terkena dampak krisis ekonomi akibat wabah dan pandemi ini. Mari kita rayakan Natal sebagai wujud pesan perdamaian sehari-hari pada masa pandemi ini. Rayakanlah Natal kali ini untuk lebih dekat dengan orang sakit, dekat dengan orang miskin, dekat dengan alam semesta yang dihancurkan kekuasaan dan korporasi tamak sebagai penyebab kematian generasi masa depan yang jauh lebih ganas dibandingkan pandemi ini.

Di sinilah kebenaran pesan Natal ini terjadi, “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitahukan kepadamu kesukaan yang besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan di Kota Daud” (Lukas 2:10). Selamat Natal bagi yang merayakan.

 

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom