Anggota Komisi A DPRD Jateng, Dr. Bambang Joyo Supeno (kedua dari kanan), saat menghadiri acara diskusi bertajuk Nasionalisme-Patriotisme Era Milenia di Hotel Noormans, Kota Semarang, Rabu (14/8/2019). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Semarangpos.com, SEMARANG – Di tengah era globalisasi dan perkembangan teknologi seperti saat ini, semangat nasionalisme dan patriotisme tetap harus didengungkan kepada generasi milenial.

Tujuannya tak lain agar generasi milenial paham akan perjuangan para pendiri bangsa dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hal itu disampaikan Anggota Komisi A DPRD Jateng, Dr. Bambang Joyo Supeno, dalam Diskusi Bersama Parlemen Jawa Tengah yang mengambil tema “Nasionalisme-Patriotisme Era Milenia” di Ruang Bahana Hotel Noormans, Kota Semarang, Rabu (14/8/2019).

Bambang mengatakan ada formula khusus yang perlu dilakukan untuk menanamkan jiwa nasionalisme dan patriotisme kepada generasi milenial.

“Ini menjadi tantangan kita semua, bagaiman kita membuat satu formula untuk menanamkan jiwa semangat juang kepada generasi muda agar terus menegakkan nasionalisme,” ujar Bambang.

Formula itu, lanjut Bambang harus mampu memberikan pemahaman untuk mengubah karakter, ide, perilaku, dan keputusan yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai patriotisme.

“Kita berikan konsep berpikir, ucapan, dan tindakan nasionalisme pada generasi milenial,” imbuhnya.

Senada disampaikan Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jateng, Sinoeng N. Rachmadi, yang menilai pentingnya menanamkan semangat nasionalisme kepada generasi milenial. Apalagi di Jateng saat ini ada sekitar 8,5 juta generasi milenial atau sekitar 24,8% dari total jumlah penduduknya.

“Untuk itu menjadi sangat penting adanya keteladan dari semua pihak kepada generasi milenial tentang nasionalisme. Salah satunya, mungkin dengan memberikan ruang dan dialog kepada mereka agar turut berperan aktif,” terang Sinoeng.

Logo DPRD Jateng

Sinoeng menambahkan sebagai upaya fasilitato, pihaknya pun membuka ruang dialog untuk menangkap ide-ide dari generasi milenial.

“Tak hanya ruang dialog. Tapi harus ada outcome dan impact. Artinya, setiap kali melakukan kegiatan tidak hanya SPJ [surat pertanggungjawaban] terus, tapi juga mengenai segmentasi. Target apa dan siapa yang disasar,” ujar mantan Kepala Satpol PP Jateng itu.

Sementara itu, akademisi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang, Prihatin Tyanto P. Hutomo, menilai perkembangan teknologi saat ini memberikan pengaruh terhadap perilaku generasi milenial. Generasi milenial menginginkan sesuatu yang lebih cepat, tanpa memikirkan efek yang diperoleh.

“Nah di sini tugas kita, generasi X, memberikan contoh kongkret mengiplementasikan nilai-nilai sejarah. Buku sejarah yang bertemakan nasionalisme dan patriotisme kita masukkan ke dunia mereka,” jelasnya.

Di dalam kemudahan informasi saat ini, dia pun mengingatkan kepada generasi muda agar tidak mencerna informasi hanya sebatas permukaannya saja. Dia pun berharap generasi milenial berpikir kritis dan menangkap segala bentuk informasi dengan teliti agar tidak menjadi korban hoaks. (ADV)


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten