Lardianto Budhi/Dokumen Solopos

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (26/8/2019). Esai ini karya Lardianto Budhi, esais dan guru Pendidikan Seni dan Buaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Lewis Hide menulis opini yang judulnya cukup provokatif dan mengganggu pikiran saya di Koran New York Times beberapa hari yang lalu. Opini yang terbit pada 21 Agustus 2019 itu berjudul How Nationalism Can Destroy a Nation?

Hide mengawali tulisannya dengan mengetengahkan pemahaman tentang nasionalisme dari beberapa ahli. Salah satunya adalah nasionalisme yang dirumuskan seorang sarjana dari Prancis pada abad ke-19, Ernest Renan.

Nasionalisme atau paham kebangsaan dalam pandangan Renan merupakan sebuah pandangan yang berpijak dari pengertian mengenai ”bangsa”. The essence of a nation is that all of its individual have many things in common, and also that everyone has forgotten many things.

Esensi sebuah bangsa adalah semua individu yang di dalamnya memiliki banyak hal secara bersama-sama dan juga bahwa setiap orang melupakan banyak hal. Dengan demikian, pada tataran praktis, gagasan nasionalisme atau paham kebangsaan akan membawa setiap warga terhadap perasaan bersama-sama memiliki sesuatu.

Merasa memiliki bahasa yang sama, ciri khas yang sama, nasib yang sama, dan orientasi masa depan yang sama. Di lain pihak, setiap warga juga akan melupakan hal-hal prinsip, termasuk menyangkut kenyataan sejarah mereka.

Hide mengutip pandangan Renan yang menyebut hal yang harus dilupakan (atau terpaksa dilupakan?) oleh warga masyarakat sebelum sebuah bangsa menjadi suatu negara (nasionalisme) adalah perbedaan etnis.

Warga masyarakat akan melihat dan menempatkan berbagai perbedaan-perbedaaan kenyataan genealogi sejarah dan antropologi masyarakat yang ada sejak zaman lampau hanya sebagai ”sekadar masa silam”.

Etnisitas sebagai bagian yang fundamental dari kehidupan manusia atau kelompok manusia merupakan suatu ciri khas sekaligus penanda yang berisi sekumpulan pengalaman dan keterampilan yang bernilai sebagai perekat masyarakat tertentu.

Hasil Proses Interaksi Panjang

Etnisitas bisa jadi merupakan hasil proses interaksi panjang namun dalam kenyataannya terdapat semacam keunikan bawaan yang sengaja diberikan oleh Tuhan sebagai bagian dari kompleksitas kehidupan.

Membaca opini Lewis Hide tersebut membuat saya tiba-tiba khawatir karena teringat dengan peristiwa yang terjadi di Jawa Timur belum lama ini menyangkut keberadaan sebagian masyarakat/etnis Papua (mahasiswa Papua) di Kota Pahlawan.

Berawal dari berita yang menyebut ada dugaan pelecehan terhadap bendera kebangsaan, persoalan itu berkembang menjurus pada konflik yang berbau sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Munculnya gerakan solidaritas masyarakat di beberapa tempat di Papua sebagai aksi kepedulian terhadap apa yang dialami saudara-saudara mereka di Surabaya meluas menjadi aksi yang mengarah pada tindakan anarkisme. Hal itu dipicu kabar simpang siur pernyataan berbau sentiment etnis dan ras yang dialami para mahasiswa Papua di Surabaya itu.

Ketika para pendiri bangsa kita dulu menyemai benih nasionalisme yang diawali dengan pendirian organisasi Boedi Oetomo dan berujung pada lahirnya Sumpah Pemuda 1928, saya yakin dalam benak para pendahulu kita itu tidak sediki tpun maksud mengobarkan perasaan bersama-sama memiliki tanah air Indonesia dengan cara melupakan berbagai realitas prinsipiel di setiap wilayah Nusantara.

Nasionalisme Indonesia saya yakini mengandung cita rasa dan pemahaman yang berbeda dengan nasionalisme sebagaimana yang dirumuskan para ahli dan sarjana dari Barat. Bangsa Indonesia memiliki pengalaman sangat panjang tentang membangun harmoni dan kesalingpengertian di tengah keberagaman masyarakat Nusantara sejak berabad-abad silam.

”Mantra’ sakti Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa yang terdapat dalam kitab Sutasoma sejak abad ke-14 menjadi tolok ukur bahwa heterogenitas masyarakat Nusantara mampu melahirkan sebuah mutual undestanding sebagai pijakan dalam kehidupan bermasyarakat.

Kebijaksanaan-kebijakasanaan lokal semacam ini mewarnai banyak hal pada kemudian hari sebagai peletak dasar ide dan konsep bernegara dalam proses membangun jiwa kebangsaan Indonesia. Nasionalisme Indonesia menurut Bung Karno bukanlah nasionalisme yang hanya mengejar gebyar dan kilau negeri ke luar, tapi nasionalisme yang mencari keselamatan manusia.

Paradigma nasionalisme bangsa Indonesia merupakan nasionalisme yang landasannya adalah menjunjung harkat dan martabat kemanusiaan. Kelahiran nasionalisme Barat cenderung didorong oleh usaha membangun dan memperluas kekuasaan ekonomi melalui kooptasi terhadap jalur-jalur dan akses perdagangan (merkantilisme).

Indonesia secara historis faktual merangkum keberagaman masyarakat yang kompleks dan setelah melalui sejarah panjang imperialisme dan kolonialisme kemudian menerbitkan kesadaran untuk saling mengikatkan diri sebagai suatu bangsa. Nasionalisme kita dengan demikian adalah nasionalisme yang memegang kuat-kuat tali kesadaran tentang keragaman etnis, bahasa, agama, teritorial, dan seterusnya.

Mempertautkan Diri pada Berbagai Perbedaan

Ini menjadi fakta yang tak bisa dibantah bahwa kekuatan bangsa Indonesia tidak disokong oleh pandangan seragam dalam melihat dirinya. Simpul kekuatan nasionalisme Indonesia seharusnya selalu mempertautkan diri terhadap berbagai perbedaan yang melatarbelakangi kehidupan warga masyarakat dari Sabang hingga Merauke.

Rumah besar yang bernama Indonesia berdiri tegak dan kukuh karena disokong oleh saka guru Aceh, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Papua dan wilayah-wilayah lain dengan segala kekhasan. Oleh karena itu, di tengah tantangan zaman untuk terus-menerus menjaga nyala api nasionalisme bangsa kita.

Sikap saling mengolok-olok dan menyulut ketegangan sosial dengan menggunakan atau menyinggung sentimen etnis merupakan suatu sikap yang menggambarkan kelalaian terhadap kenyataan sejarah. Apa yang dilakukan pihak-pihak tertentu di wisma mahasiswa Papua di Surabaya yang kemudian direspons oleh beberapa kalangan masyarakat Papua beberapa waktu lalu dalam beberapa hal merupakan suatu peringatan tentang betapa rawannya pemahaman nasionalisme bangsa kita.

Memperjuangkan dan memperkuat nasionalisme tidak boleh dilakukan dengan mengedepankan dikotomi superior-inferior berdasarkan latar belakang apa pun maupun melalui sikap subordinatif  dalam melihat keragaman di masyarakat. Nasionalisme bagi bangsa Indonesia harus menjadi semacam gerbong yang menyatukan kekuatan-kekuatan semua elemen bangsa untuk menuju keadilan sosial dan menujunjung kemanusian dan keberagaman.

Kalau tidak demikian maka jawaban atas petanyaan Lewis Hide di Koran New York Times, How Nationalism Can Be Destroy a Nation? saya kira adalah jika masyarakat kehilangan kemampuan untuk melihat kenyataan sejarah sehingga menegasikan kebinekaanan sebagai suatu kekuatan bangsa. Ya, nasionalisme bisa menghancurkan sebuah bangsa jika masyarakat bangsa itu memahami nasionalisme dengan cara pandang yang sempit.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten