Nasib Tim Musafir di Kota Solo
Muhammad Ilham Syifai (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Kabar mengejutkan bagi pencinta sepak bola nasional dan juga sepak bola lokal Solo dan Soloraya ketika salah satu klub kontestan Liga 1, Bhayangkara FC, yang juga dikenal merupakan klub yang berasal dari kepolisian tiba-tiba berpindah rumah atau homebase di Solo.

Kabar ini tentu menggemparkan berbagai pihak karena berita ini berembus tanpa didaului isu dan rumor. Kini, berita kepindahan homebase Bhayangkara FC ini menjadi perbincangan hangat di media sosial maupun komunitas-komunitas pencinta sepak bola dalam skala lokal Solo dan Soloraya hingga nasional.

Klub yang sudah beberapa kali berpindah homebase ini berencana menggunakan Stadion Manahan sebagai kandang untuk menjamu para lawan. Bhayangkara FC juga siap mencantumkan kata ”Solo” dalam nama tim menjadi Bhayangkara Solo FC dan sudah memesan Stadion Universitas Sebelas Maret yang juga baru selesai renovasi untuk dijadikan lapangan latihan.

Surat undangan dari Askot PSSI Solo yang ditandatangani Ferry Paulus ditujukan kepada ketua tim-tim internal Persis Solo dalam rangka silaturahmi dan kulanuwun segenap jajaran tim Bhayangkara FC untuk ikut memeriahkan atmosfer sepak bola Surakartadi Kota Solo.

Kepindahan ini tentu saja mengajak kita membuka memori tentang Kota Solo yang sejak 1980-an diminati oleh tim-tim musafir yang tak punya banyak penggemar di daerah asal. Kita bisa mengingat Arseto Solo FC.

Ada banyak studi dan juga artikel mengenai kejayaan Arseto Solo ketika mengarungi Galatama. Klub besutan salah seorang putra Presiden Soeharto saat itu yang bernama Sigit Harjojudanto cukup mumpuni bahkan mandiri dalam pengelolaan finansial dan juga manajemen klub.

Arseto menjelma menjadi tim kuat dan disegani sebagai salah satu raksasa sepak bola Solo yang menenggelamkan nama Persis Solo yang sejatinya lebih tepat dinobatkan sebagai sang ”pribumi” atau tuan rumah.

Sama dengan halnya dengan Arseto, Bhayangkara FC juga hadir dari Jakarta. Bedanya, Arseto sejak awal memang terbentuk di Jakarta, sedangkan Bhayangkara sudah melanglang buana di beberapa kota seperti Kutai Barat, Surabaya, Jakarta, dan kini melabuhkan pilihan homebase di Kota Solo.

Ketenaran Arseto saat itu benar-benar mampu mengangkat harkat dan martabat persepakbolaan di Solo. Menjadi obat kekecewaan akibat dekadensi prestasi tim “pribumi” Solo, yaitu Persis Solo, yang mulai limbung sejak tahun 1950-an.

Nahas bagi Arseto Solo FC. Meski menjadi salah satu klub yang mentereng, mereka hanya mampu survive dalam sepak bola nasional dan di Kota Solo selama 16 tahun saja. Mereka terpaksa bubar tatkala kecamuk gelombang reformasi dan krisis moneter menghantam Indonesia dan menggoyahkan kepemimpinan Presiden Soeharto.

Arseto bubar tatkala sang pemilik, Sigit Harjojudanto, yang merupakan putra Presiden Soeharto, dan kroni-kroninya tak ingin permasalahan politik menyerempet menjadi huru-hara yang terus meluas di lapangan hijau.

Arseto kolaps dan hingga kini hanya menyisakan memori-memori yang tersusun baik dalam karya tulis maupun folklore yang terus lestari di mulut dan telingan publik penikmat sepak bola di Solo dan sekitarnya. Setelah huru-hara 1998, sepak bola dan kondisi sosial masyarakat Kota Solo dan sekitarnya pulih dan bangkit. Masyarakat Solo masih memimpikan ada klub sepak bola besar yang membawa nama Solo di kancah sepak bola nasional.

Seolah-olah belum bisa menerima bubar dan hilangnya Arseto Solo yang telah mengharumkan nama Solo. Pelita Jaya yang juga klub di Jakarta pindah ke Kota Solo. Kala itu Stadion Manahan yang megah yang dipersiapkan untuk kandang Arseto Solo yang bermarkas di Stadion Sriwedari.

Rencana itu pupus karena Arseto keburu bubar dan Stadion Manahan resmi selesai dibangun pada 1998. Pelita Jaya saat itu mengubah nama klub menjadi Pelita Solo FC sebagai representasi mereka juga ingin membawa nama Solo dalam persepakbolaan nasional.

Dukungan yang mengalir dari masyarakat Solo dan sekitarnya sangat besar, bahkan pada masa klub Pelita Solo FC lahir kelompok suporter sepak bola Pasoepati pada 2000 yang hingga kini berkomitmen setia mendukung Persis Solo.

Embrio perkumpulan/paguyuban suporter ada sejak zaman Arseto Solo FC yang bernama Komunitas Pencinta Arseto Solo (KPAS). Kebanggaan publik sepak bola Solo tidak berjalan lama. Tim musafir ini akhirnya hengkang dari Kota Solo akibat malalah finansial.

Setelah pergi dari Solo, Pelita Jaya beberapa kali pindah homebase di Cilegon, Purwakarta, hingga kini merger dengan klub lain dan nama berubah menjadi Madura United yang punya homebase di Pulau Madura.

Pada 2002, Solo kedatangan tim musafir dari Jakarta lagi. klub tersebut adalah Persijatim yang berasal dari Jakarta Timur. Tim ini berpindah karena merasa dianaktirikan dan kalah pamor dengan saudara satu kota yang lebih mentereng dan mendapat perhatian lebih baik dari pemerintah maupun masyarakat ibu kota, yaitu Persija Jakarta.

Kepindahan Persijatim cukup unik karena hanya menggunakan kata ”Solo” ketika melawat untuk laga kandang di Stadion Manahan Solo menjadi Persjiatim Solo FC. Ketika mereka bertandang ke kota atau markas klub lain, Persijatim menanggalkan identitas Solo.

Tak Bertahan Lama

Setelah selesai melaksanakan laga kandang mereka di Manahan, mereka langsung kembali terbang ke Jakarta karena tidak memiliki mes atau tempat latihan di Kota Solo. Keberadaan Persijatim Solo FC ini juga dapat dikatakan tidak lama.

Pada 2004 mereka hengkang ke pulau Sumatra, di Kota Palembang, dan berganti nama menjadi Sriwijaya FC. Sempat mengemuka kabar Pemerintah Kota Solo ingin mempertahankan Persijatim Solo FC menetap dan berkandang di Manahan.

Harga yang tidak disepakati saat negosiasi dan suara untuk ngopeni tim legendaris asli kota Solo saja, yaitu Persis Solo, ketimbang keluar uang banyak untuk mendanai tim musafir, akhirnya langkah Persijatim keluar dari Kota Solo semakin mulus.

Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan juga mendukung penuh kepindahan tersebut yang didukung GOR Jakabaring Palembang yang “menganggur” setelah PON XVI tahun 2004 di Palembang. Setelah tim  musafir hengkang, performa dan penampilan Persis Solo memang menunjukkan perkembangan yang baik dan terus menanjak.

Puncaknya pada tahun kompetisi 2006-2007. Mereka berhasil menembus final Divisi 1 dan berhak lolos untuk tampil di Divisi Utama tahun kompetisi selanjutnya meski di final kalah dari Persebaya Surabaya.

Jalan terjal Persis dalam menapaki sepak bola Indonesia terjadi lagi hingga puncaknya pada 2015 yang lalu. Persis terkena dampak berhentinya kompetisi akibat PSSI sebagai induk federasi sepak bola di Indonesia diberi sanksi oleh oleh FIFA karena dualisme kepengurusan dan kompilasi persoalan-persoalan yang lain menyangkut sepak bola di Indonesia.

Persoalan dualisme ini juga menjangkiti beberapa klub di Indonesia karena sengkarut kompetisi yang terbelah antara PT LPIS dan PT LI. Salah satu korban dualisme Persis yang cukup memilukan adalah wafatnya salah seorang pemain asing Persis versi PT LI bernama Diego Mendeita.

Ia tidak bisa pulang ke negri asalnya karena menunggu gaji yang belum dibayarkan oleh manajemen. Sebelum munculnya persoalan dualisme ini, kompetisi sepak bola Indonesia juga terpecah karena ada dua kompetisi selevel sekaligus pada 2011 yaitu Indonesian Super League (ISL) dan Indonesian Premier League (IPL).

Dalam kompetisi IPL, Kota Solo memiliki satu wakil klub yaitu Ksatira XI Solo FC atau yang biasa disebut Solo FC yang memiliki julukan Laskar Jatayu. Klub berabur bintang ini tak bertahan lama dan akhirnya hilang bersamaan dengan bubarnya kompetisi IPL tahun itu.

Persoalan dualisme Persis tidak seutuhnya pulih. Tahun 2019 muncul klub yang sangat mirip bahkan serupa dengan Persis Solo termasuk lambang klubnya yaitu Persis Muda Gotong Royong atau lebih dikenal Persis GR.

Klub ini berdiri akibat ketidakpuasan beberapa pihak atas perubahan status Persis Solo yang membentuk perseroan terbatas (PT) dalam mengelola tim. Persis GR ini digadang-gadang akan menjadi pemasok talenta muda ke tim Persis Solo meski pada perjalanannya di Liga 3 terlihat ingin menggeser keberadaan Persis Solo yang resmi bernaung dalam PT Persis Solo Saestu.

Pada akhirnya, klub Persis GR ini mengibarkan bendera putih dalam pergulatan berkonflik dengan Persis Solo di bawah naungan PT Persis Solo Seastu. Dapat kita simpulkan bahwa keberadaan klub musafir atau klub palsu di Kota Solo tidak bisa bertahan lama.

Tidak ada yang sampai saat ini bertahan dan mengalahkan eksistensi Persis Solo dalam kancah persepakbolaan nasional yang membawa nama Kota Solo. Persis mearih prestasi gemilang pada masa kolonial dan era kompetisi Perserikatan.

Persis kemudian terseok-seok bahkan hidup segan mati tak mau pada era Galatama hingga awal masa Ligina. Ini memperlihatkan Persis Solo merupakan klub asli Kota Solo yang mampu menjawab tantangan zaman dan juga melawan hegemoni dan nama besar klub-klub pendatang dari luar kota.

Kini Kota Solo kembali kedatangan klub dari luar kota. Untuk ksekian kali, kesetiaan dan loyalitas masyarakat pencinta sepak bola di Solo diuji oleh kehadiran Bhayangkara Solo FC ini. Apakah tetap setia dengan Persis Solo atau lebih memilih luluh dengan nama besar dan kompetisi yang lebih mentereng di Liga 1 yang dibawa oleh Bhayangkara Solo FC? Hati nurani pencinta sepak bola di Kota Solo yang  mampu menjawab.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom