Nasib Ekstrakurikuler Tari Tradisional di SMPN Solo, Nyaris Tak Ada yang Minat
Ilustrasi menari. (Dok)

Solopos.com, SOLO — Ekstrakurikuler menari tradisional di sejumlah SMPN di Solo nyaris tak ada peminatnya. Hanya 1%-2% dari total keseluruhan siswa yang mengikuti ekstrakurikuler tersebut. Salah satunya di SMPN 20.

Dari total siswa sekitar 650-an orang, hanya 1%-2% yang mengikuti ekstrakurikuler seni tari. Hal itu diungkapkan guru bahasa Jawa SMPN 20, Sumarmi. Ia mengatakan mayoritas siswa kurang mendalami kebudayaan Jawa mengingat jam pelajaran bahasa Jawa hanya sekali dalam sepekan. Jatahnya hanya dua jam mata pelajaran.

"Para siswa di sini memang kurang mendalami budaya Jawa. Bahasa Jawa saja masih menggunakan bahasa Jawa Ngoko. Disuruh menggunakan bahasa Jawa Krama Alus atau Krama Inggil tidak mengerti. Apalagi jika disuruh pidato bahasa Jawa. Begitu juga ekstrakurikuler seni tari tradisional. Hanya 1%-2% yang ikut ekskul itu," tutur Sumarmi saat ditemui Solopos.com, Senin (6/5/2019).

Kondisi yang sama terjadi di SMPN 19 Solo. Dengan jumlah siswa 700-an orang, kurang dari 5% yang dinilai mampu mendalami budaya Jawa. Salah satu contohnya adalah para siswa yang mengikuti ekskul seni tari tradisional. Hal itu diungkapkan Kepala SMPN 19 Solo, Agus Siswanto.

"Hanya sedikit siswa yang mengikuti seni tari. Awal tahun ajaran biasanya banyak yang ikut. Namun, lama-kelamaan semakin sedikit yang ikut. Kalau tahun ini, awalnya ada 15 siswa yang ikut. Sampai sekarang tinggal 10 anak. Mayoritas siswa pun juga belum paham saat menggunakan bahasa Jawa Krama Alus dan Krama Inggil," tutur Agus Siswanto.

Berkurangnya jumlah siswa yang mengikuti ekstrakurikuler tari adalah faktor anak itu sendiri. Belakangan ini, kata Agus, para siswa hanya ingin belajar secara instan tanpa mempelajari proses terlebih dahulu. Faktor minimnya kesadaran para orang tua juga menjadi penyebab.

"Selain faktor orang tua murid, faktor lingkungan juga memengaruhi. Mayoritas siswa di sini berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Pikiran orang tua hanya yang penting anaknya bisa makan dan kenyang, tanpa mengajarkan nilai-nilai kebudayaan seperti halnya berbahasa Jawa dengan Krama Inggil atau Krama Alus," imbuhnya.

Dekan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Solo, Sugeng Nugroho, mengakui agak sulit membuat generasi muda cinta terhadap budayanya sendiri. Perkembangan teknologi semakin canggih sehingga generasi muda lebih condong ke arah digital dan hal-hal yang mutakhir. Apalagi kebudayaan barat semakin mudah diakses melalui perangkat canggih seperti gawai.

"Jika Indonesia ingin mencontoh negara Jepang yang teknologinya semakin maju, jangan salah. Negara Jepang juga memiliki kebudayaan tradisional yang masih kuat. Jadi jika Indonesia ingin maju dengan segala kecanggihan teknologinya, penduduknya juga harus memiliki kesadaran untuk mencintai budaya sendiri," tutur Sugeng saat ditemui Solopos.com.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom