NARKOBA SRAGEN : Jadi Ajang Pesta Narkoba, Eks Kantor PBB Digerebek Polisi
Seorang tukang kebun, Mbah Geger, menunjukkan kondisi dinding ruang yang jebol di dalam eks-Kantor Pengelolaan PBB Kabupaten Sragen, Kamis (4/5/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)

Narkoba Sragen, polisi menggerebek bekas Kantor Pengelolaan PBB Sragen karena diduga jadi ajang pesta narkoba.

Solopos.com, SRAGEN -- Eks Gedung Kantor Pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen digerebek Tim Reserse Narkoba Polres Sragen lantaran dicurigai sebagai tempat pesta narkoba pada Rabu (3/5/2017) pukul 18.00 WIB.

Tiga orang digelandang ke Mapolres Sragen sementara satu orang berhasil kabur. Dari tiga orang yang ditangkap, dua orang di antaranya disebut-sebut merupakan polisi.

Satu orang lainnya diduga orang dari Lembaga Pemasyarakatan (LP). Sementara satu orang yang berhasil kabur diduga berstatus pejabat struktural Pemkab Sragen.

Aset Pemkab Sragen itu terletak di Jl. Dr. Sutomo No. 1 Sragen. Kini, kantor tersebut digunakan untuk menyimpan arsip milik Pemkab. Salah satu ruang di dalam kantor itu masih tersegel garis polisi atau police line saat Solopos.com melihat ke dalam kantor itu pada Kamis (4/5/2017) siang.

Dinding ruang yang terbuat dari hardplex sebelah barat jebol. Sekilas tak ada yang mencurigakan dari luar karena pagar pintu masuk selalu tertutup dan semua pintu kantor tertutup. Hanya pintu belakang yang terbuka saat tukang kebun masuk kerja.

Mbah Geger, 72, warga Perumahan Margoasri, Karangmalang, Sragen, menjadi tukang kebun di kantor itu. “Pada Rabu, pukul 14.00 WIB, Pak SM datang. Beliau sempat tanya nama petugas satpam yang piket malam. Lalu saya disuruh pulang. Padahal biasanya saya pulang pukul 16.30 WIB. Tadi pagi, pukul 04.30 WIB, saya datang. Saya lihat sudah ada tiga petugas satpam di kantor. Saya dipanggil Dedy [petugas satpam] yang jaga malam. Dia bercerita tentang kejadian semalam sambil menangis. Intinya Pak SM dicari polisi,” ujar Mbah Geger saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis siang.

Satpam eks Kantor Pelayanan PBB Sragen, Dedy Hendratno, 37, mengisahkan peristiwa yang terjadi di kantor yang dijaganya. Ia tiba di kantor untuk mulai jaga pada Rabu pukul 13.40 WIB.

Dedy sudah melihat ada SM. Dia mengenal SM sebagai salah satu pejabat setingkat kasubid. Dia sempat diminta untuk membelikan nasi liwet tiga bungkus untuk para tamu.

“Tiga tamu itu datang tidak bersamaan. Selisih waktunya ya sekitar 30 menit. Pak Ag dulu datang sekitar pukul 15.00 WIB. Kemudian disusul Pak Jd dan Pak Jk paling terakhir. Saya tidak tahu apa yang mereka lakukan di dalam. Saya hanya berjaga di luar kantor saja. Setelah itu, sekitar pukul 18.00 WIB, tiba-tiba ada seorang anggota reserse menangkap saya dan menanyai tentang lokasi Pak SM. Saya tidak tahu,” ujar Dedy saat dihubungi Solopos.com, Kamis sore.

Bersamaan dengan itu, sejumlah anggota reserse narkoba Polres Sragen langsung menggerebek kantor dan menangkap tiga orang. Tiga orang itu, Jd, Jk, dan Ag. Mereka digelandang ke Mapolres bersama Dedy yang saat itu menjadi saksi.

Dedy mengaku sempat melihat ada serbuk warna putih dan botol bekas air mineral yang di bagian tutupnya ada semacam sedotan. Dedy tidak tahu nama barang-barang yang disita polisi itu.

“Yang saya tahu, Pak Jd dan Pak Jk itu seorang polisi. Kalau Pak Ag itu dari LP [lembaga pemasyarakatan]. Hanya itu yang saya tahu. Kalau Pak SM saat digerebek tidak ada di lokasi. Saya tidak tahu ke mana beliau. Ya, beliau masih dicari polisi juga. Pamitnya sama saya mau jemput anak. Pesannya, kalau ada tamu suruh masuk, begitu saja,” ujarnya.

Dedy sempat diperiksa selama berjam-jam di Mapolres Sragen sebagai saksi pada Rabu malam sampai Kamis dini hari. Peristiwa penggerebakan itu menjadi perhatian warga sekitar.

Seorang pemilik toko kelontong di sebelah selatan kantor itu, Dody, mengetahui ada ramai-ramai di eks Kantor PBB sekitar pukul 19.30 WIB. Dody sempat tanya kepada salah satu polisi.

“Saat saya tanya, polisi itu bilang hanya kegiatan polisi. Saya menduga ya pasti ada tindakan kriminalitas. Saya dengar memang ada tiga orang yang ditangkap dan satu orang kabur. Siapa-siapa mereka tidak tahu,” tuturnya saat ditemui Solopos.com, Kamis siang.

Pemilik warung kopi Omah Wedangan (OW), Suwardi, juga mendengar ada ramai-ramai di depan warungnya. “Saya hanya melihat saat keluar warung mau salat. Saya tidak tanya apa ramai-ramai itu. Saya langsung masuk lagi karena tidak enak badan,” katanya.

Sementara itu, Kasubag Humas Polres Sragen AKP Saptiwi mengaku belum mendapat laporan peristiwa itu. Ia mengaku masih ada keperluan di Solo saat dihubungi Solopos.com, Kamis. Kasat Resnarkoba Polres Sragen, AKP Joko Satrio Utomo, tidak menampik saat ditanya tentang kasus penangkapan tiga orang tersebut.

“[Tanya] ke Humas [Humas Polres Sragen] saja. Ini saya masih di luar kota,” tulisnya dalam pesan singkat Whatsapp kepada Solopos.com.

Kapolres Sragen AKBP Cahyo Widiarso mengaku belum bisa memberikan data lengkap tentang ungkap kasus dugaan peredaran narkoba itu. “Belum. [Kasus itu] masih penyelidikan,” tulisnya saat dimintai data Solopos.com tentang kasus tersebut.

Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Tatag Prabawanto menolak berkomentar saat dimintai konfirmasi Solopos.com terkait indikasi pegawai negeri sipil (PNS) yang terlibat narkoba. “Ora enek, wis! [Tidak ada, sudah!]” ujar Tatag seraya mematikan ponselnya.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas II A Sragen, Rudy Djoko Sumitro, saat dihubungi Solopos.com, Kamis malam, mengonfirmasi ada pejabat fungsional LP Kelas II A Sragen berinisial AP asal Nglorog, Sragen, ditangkap polisi terkait dengan kasus peredaran narkoba.

Namun Rudy belum bisa memberi penjelasan detail terkait kasus AP itu karena masih menunggu izin dari Kapolres Sragen. “Ya, saya diberi tahu dari Polres ada pegawai LP yang tertangkap pada Rabu sore. Saat saya mau memeriksa pegawai itu ke Polres belum bisa karena masih menunggu izin Pak Kapolres,” tuturnya.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom