Naomi Osaka Emoh Main di Semifinal Turnamen WTA, Ini Alasannya
Naomi Osaka (REUTERS/Adnan Abidi)

Solopos.com, NEW YORK — Naomi Osaka bergabung dengan gelombang pemogokan di seluruh kompetisi olahraga di Amerika Serikat (AS) sebagai protes atas ketidakadilan rasial menyusul penembakan warga kulit hitam AS, Jacob Blake.

Mantan petenis nomor satu dunia itu memilih mundur dari semifinal turnamen WTA, Western & Southern (W&S) Open. Osaka dijadwalkan menghadapi petenis Belgia, Elise Mertens di empat besar. Namun mundurnya Osaka membuat Mertens langsung melaju ke babak final.

Bungkusan Nasi Dilemparkan ke Rutan Solo, Ternyata di Dalamnya Ada Sabu-Sabu

W&S Open merupakan turnamen yang digelar di New York untuk pemanasan jelang ajang grand slam US Open. Beberapa menit setelah Osaka menang 4-6, 6-2, 7-5 atas Anett Kontaveit di babak perempat final, klub NBA Milwaukee Bucks menolak mengikuti pertandingan playoff NBA melawan Orlando Magic .

Sebagai informasi, Blake ditembak tujuh kali oleh petugas polisi di Kenosha, Wisconsin Senin (24/8/2020). Penembakan tersebut dikecam karena dilakukan di depan anak-anak korban yang masih kecil.

Kondisi Kritis

Blake sendiri kabarnya berhasil selamat, tapi kondisinya sekarang masih kritis. Pemogokan atlet atas insiden tersebut kini telah menyebar ke seluruh dunia olahraga AS, termasuk tim-tim dari WNBA, MLB dan MLS.

“Sebelum menjadi atlet, saya adalah perempuan berkulit hitam. Saya merasa ada hal yang jauh lebih penting saat ini untuk diperhatikan, dibandingkan melihat saya bermain tenis,” ujar Naomi Osaka dilansir USA Today, Kamis (27/8/2020).

Petenis perempuan dengan bayaran tertinggi itu merasa sangat tersakiti sehingga memilih tidak mengayunkan raket tenisnya. Dia juga lelah dengan berulangnya kasus rasialisme di AS yang notabene menjadi tempat tinggalnya kini.

Update Kasus Ricuh Mertodranan Solo: Berkas Perkara 8 Tersangka Sudah Di Kejaksaan 

Mei lalu warga dunia dibikin geram dengan tindakan polisi Florida yang mencekik lelaki kulit hitam, George Floyd, hingga tewas. Insiden itu memantik gerakan Black Lives Matter yang merupakan dukungan ke masyarakat kulit hitam.

“Saya sangat lelah membicarakan hal ini berulang kali. Kapan itu semua terlihat cukup [untuk menghentikan pembunuhan terhadap warga kulit hitam]?,” sesal Osaka.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom