Tutup Iklan

Musnahkan Kebebalan Kawanan!

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 30 April 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Musnahkan Kebebalan Kawanan!

SOLOPOS.COM - Hery Trianto (Istimewa/Dokumen pribadi).

Solopos.com, SOLO -- Dalam tiga pekan terakhir linimasa media sosial Anda pasti penuh dengan unggahan ”tsunami corona” di India. Negeri ini terus-menerus mencatakan rekor terburuk, kematian harian maupun kasus baru. Media arus utama memberitakan hal serupa.

Krisis terbaru yang mencolok adalah membeludaknya tempat pembakaran mayat sehingga kremasi jenazah korban Covid-19 harus menunggu antrean dua atau tiga hari dan mulai membusuk. Rumah sakit telah lumpuh. Para pasien telantar tak terurus hingga ajal menjemput.

Hati saya patah ketika melihat tayangan video dua kakak beradik yang ”memboncengkan” mayat ibunda mereka. Tak ada lagi layanan ambulans. Polisi sempat menghentikan sebelum terpaksa melepas kembali karena memang tak tahu harus berbuat apa.

India seperti tengah berjuang antara hidup dan mati ketika bantuan sejumlah negara mulai berdatangan seperti tabung oksigen, ventilator, dan obat-obatan. Betapa mencekam sebuah kota jika obat-batan dan tabung oksigen langka; harus ditebus di pasar gelap dengan harga selangit.

Pandemi covid-19 yang melanda dunia ini memang kembali mencapai puncak dengan tingkat penularan harian menembus 850.000 orang. Ini adalah kabar buruk ketika vaksin sudah ditemukan tetapi kurva penularan justru menuju puncak kedua atau bahkan ketiga.

Semestinya kita cepat belajar dari India, negeri yang pernah jemawa telah mencapai imunitas kawanan dan mengendalikan kasus pada Januari 2021, lalu abai dengan menggelar upacara keagamaan kolosal di Sungai Gangga, menghidupkan kebali pasar, dan menggelar pemilihan umum di lima negara bagian.

Saya ingat betul, saat Indonesia mulai kewalahan menghadapi puncak kasus pada Januari 2021 dengan 176.000 kasus aktif, India dengan 1,35 miliar penduduk telah melandaikan kurva penularan dan menekannya hingga di bawah kita.

Dikombinasikan dengan vaksinasi yang cukup cepat, India seolah-olah meraih kemenangan melawan pandemi. Disebut sebagai ”tsunami corana”, negeri dengan jumlah penduduk lima kali lipat Indonesia itu kini berada pada puncak krisis dalam menghadapai pandemi dengan kasus harian melampaui 300.000 orang dan angka kematian menembus 2.000 jiwa.

Hingga kemarin, negeri ini mencatatkan 3,08 juta kasus aktif, kedua terbanyak setelah Amerika Serikat. Satu tempat tidur untuk merawat dua orang sakit, perebutan tabung oksigen, dan antrean jenazah menunggu dikremasi  adalah yang terjadi kini.

India bersama sejumlah negara seperti Turki, Jerman, dan Papua Nugini tengah menghadapi kenaikan kasus sangat signifikan. Para epidemolog menyebut India adalah studi kasus yang sempurna betapa herd imunity–kekebalan kawanan--yang diharapkan telah berubah menjadi herd ignorance–kebebalan kawanan.

Kekhawatiran atas kejadian serupa kini tengah menghantui Indonesia. Secara sosial dan kultural Indonesia memiliki kemiripan dengan India. Pada zaman kolonial, Indonesia bahkan disebut sebagai Hindia Belanda untuk membedakan dengan (H)India yang dijajah oleh Inggris. Kita mau menghindari nasib serupa? Tentu saja ada syaratnya.

***

Hingga Kamis (29/4/2021), angka penularan Covid-19 dunia telah menembus 150 juta orang dengan jumlah kematian 3,16 juta jiwa. Di Indonesia, kasus telah melampaui 1,66 juta orang dan telah merenggut 45.334 nyawa, berdasarkan data Covid19.go.id.

Saya termasuk orang yang rajin mengecek angka-angka itu dalam satu tahun terakhir, mungkin juga Anda. Pasti banyak perasaan yang berkecamuk setiap kali memperhatikan data kematian, orang tertular, rumah sakit kewalahan, juga para tenaga kesehatan kelelahan.

Angka 150 juta atau 1,6 juta bukanlah sekadar statistik. Di sana ada 150 juta cerita, 3,1 juta duka dan nestapa, sekaligus pelajaran. Angka-angka tersebut bukan saja penanda, tetapi juga jadi saksi dari jiwa-jiwa yang hilang, penderitaan keluarga, juga penyesalan.

Saya menyesal mengapa tidak berusaha lebih keras lagi mencegah keluarga kakak sulung saya mudik ketika libur Natal dan tahun baru 2021 dari Jepara ke Blitar. Ibu saya telah sepuh, tertular Covid-19 pada saat Indonesia mencatat puncak kasus pada pertengahan Januari 2021.

Kakak saya? Sudah terlebih dahulu sakit bersama suami dan anak sepekan sebelumnya.  Saya ingat betul pada pekan-pekan tersebut terjadi penularan harian 15.000 orang di seluruh Nusantara. Rumah sakit penuh, baik di Blitar dan Jepara, juga Pekalongan hingga Ciamis.

Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 menunjukkan empat kota tersebut memiliki tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit 100%, ketika itu. Ada empat rumah sakit yang kami datangi, tiga di antaranya menolak.

Satu rumah sakit mau merawat ibu saya di instalasi gawat darurat (IGD) dan tak memiliki ruang perawatan ketika tes PCR menunjukkan hasil positif. Ibu saya dua malam menginap di tenda depan IGD sebelum akhirnya dipindahkan di rumah sakit di Kota Malang.

Pada ujungnya, penyesalan itu memang selalu pada akhir. Seperti yang dikisahkan kemarin oleh Gubernur Jawa Barat Barat Ridwan Kamil dalam rapat koordinasi pelarangan mudik bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo, bupati/wali kota, camat, hingga kepala desa di Jawa Barat.

Kang Emil menuturkan kisah penderitaan dan penyesalan satu keluarga di Ciamis yang kehilangan ibu mereka karena memaksa mudik dari Bogor tahun lalu. Sang ibu memiliki penyakit bawaan, tak kuasa menahan ganasnya virus dan meninggal dunia, ketika anak cucu mereka tertular terlebih dahulu dan nyaris tanpa gejala.

Bahwa kluster mudik itu nyata sebenarnya sudah berhari-hari dikisahkan oleh media massa. Seperti kejadian di Pati, Jawa Tengah, ketika warga yang pulang kampung dari perantauan menggelar syukuran dan mengundang warga setempat makan malam. Akibatnya, 39 warga Desa Kuryokalangan, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, tertular Covid-19.

Ada jutaan kisah dari para penyintas Covid-19 beserta semua pelajarannya. Virus ini satu satunya vektor penularan adalah manusia, jadi jalan mencegahnya adalah mengurangi mobilitas manusia  yang selalu berbanding lurus dengan terjadinya kerumunan.

Semua orang Indonesia sudah mengetahui ini, tetapi mengapa sebagian diantara mereka abai? Pelajaran besar bahwa setiap liburan panjang selalu meningkatkan mobilitas lalu diikuti oleh panen kasus dua pekan sesudahnya adalah contoh. Kita sudah memiliki empat pengalaman liburan yang memilukan sejak Idulfitri tahun lalu ketika untuk kali pertama kali mudik dilarang oleh pemerintah.

***

Sungguh tidak mudah membangun kesadaran kolektif tentang betapa berbahayanya Covid-19. Sulit mengubah perilaku patuh dengan protokol kesehatan memakai masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan serta mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

Pendekatan persuasif saja tidak cukup, perlu dibarengi dengan upaya menciptakan rasa takut; virus ini membunuh; penyakit memiliki efek jangka panjang bagi penyintas; bahwa kebebalan seseorang dengan tetap memaksa  mudik–misalnya—adalah bisa menyebabkan kematian.

Mata kita memang benar terbuka, tetapi empati mesti dibangkitkan dari hati. Dengan penurunan kasus aktif yang menjadi 43% dalam kurang dari tiga bulan terakhir di Indonesia bukanlan sinyal pandemi negeri ini telah dikendalikan.

Jumlah orang sakit yang ditemukan dibandingkan orang yang diperiksa (positivity rate) masih di atas 10%, jauh di atas anjuran WHO, di bawah 5% untuk menyebut wabah terkendali. Satu tahun lebih semua pengorbanan yang kita lalukan ternyata belum apa-apa.

Kerugian ekonomi nasional pada 2020 mencapai Rp1.356 triliun sebagaimana disebut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Buktinya, pada pekan lalu, 19 provinsi mengalami kenaikan kasus, ketika mobilitas warga  meningkat sejak menjelang  Ramadan yang berbarengan dengan libur Paskah.

Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 menunjukkan mobilitas warga meningkat di 33 provinsi dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan kasus di 19 provinsi pada pekan lalu adalah hasil dari peningkatan mobilitas warga yang terjadi dua pekan sebelumnya.

Menjelang Ramadan yang bertepatan dengan libur panjang akhir pekan Paskah dimanfaatkan masyarakat untuk mudik kecil dalam tradisi munggahan, mengunjugi makam leluhur di kampung halaman. Hasilnya, klaster munggahan terjadi di Tangerang, Banten. Tercatat 46 warga terpapar Covid-19.

Berbagai fenomena ini apakah belum  cukup meyakinkan publik agar mengerem aktivitas mereka dahulu? Perlukah kita terus-menerus menunjukkan krisis kemanusiaan di India sebagai refkesi berharga agar kita tidak mengulangi  di sini?

Sungguh kita tidak memiliki kemewahan waktu untuk menunggu kekebalan kawanan hadir dengan vaksinasi.  Kita memerlukan kesadaran kolektif bahwa apa pun pengorbanan yang kita lakukan dengan tidak mudik, napas berat karena hidung dan mulut tertutup masker, adalah sebuah cara  untuk melindungi diri sendiri dan keluarga.

Sebelum mencapai kekebalan kawanan saat 80% populasi Indonesia disuntik vaksin, kebebalan kawanan sudah selayaknya kita musnahkan. Sekarang.

 

 

 

 

Berita Terkait

Berita Terkini

Sinergi Semua Pihak untuk Suksesnya Vaksinasi Covid-19

Artikel ini ditulis dr. Farahdila Mirshanti, MPH, Kepala UPT Puskesmas Purwodiningratan Solo-Mahasiswi S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat UNS

Bahasa Indonesia Era Industri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 16 Juni 2021. Esai ini karya Duwi Saputro, guru Bahasa Indonesia di MTsN 1 Solo.

Esensial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Juni 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Berolahraga di Tengah Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 15 Juni 2021. Esai ini karya Diksanda Savero Robiyono, mahasiswa keolahragaan di Universitas Negeri Malang.

Oposisi Biner dan Lawan Kata

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 14 Juni 2021. Esai ini karya Joko Setiyono, pustakawan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Mengenal Orang-Orang Arab di Israel

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 12 Juni 2021. Esai ini karya Ronny P. Sasmita, Direktur Eksekutif Economic Action (EconAct) Indonesia dan peminat tema-tema hubungan internasional.

Menyehatkan Lahan Sakit

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 10 Juni 2021. Esai ini karya Bambang Pujiasmanto, guru besar di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.

Guru Modis Guru Idola Masa Kini

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 9 Juni 2021. Esai ini karya Astutiati, guru di SDN 1 Brangkal, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Garuda di Dadaku

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 11 Juni 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Menjaga Kebebasan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 9 Juni 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Tantangan Feminis pada Era Kontemporer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 3 Juni 2021. Esai ini karya Ester Lianawati, penulis buku Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan, psikologi dan pendiri Hypatia Pusat Penelitian Psikologi dan Feminisme di Prancis.

Pernikahan Dini Masa Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 8 Juni 2021. Esai ini karya Dila Sulistianingsih, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang.

100 Hari Kerja Mas Wali Kota

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 7 Juni 2021. Esai ini karya Krisnanda Theo Primadita, mahasiswa pascasarjana Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Solo dan Wellness Tourism

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 5 Juni 2021. Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, dosen Marketing di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Surakarta.

Chief of Transformation Officer Itu Bernama...

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 4 Juni 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seribu Hari Masih Lama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 2 Juni 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, wartawan Solopos.

Menjaga Kebudayaan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 2 Juni 2021. Esai ini karya Yuliyanti Dewi Untari, guru Bahasa Jawa di SMAN 1 Solo.

Menggemakan Nilai-Nilai Pancasila

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 31 Mei 2021. Esai ini karya Leo Agung S., Ketua Pusat Studi Pengamalan Pancasila Universitas Sebelas Maret.

Mimpi Juara Perusahaan Teknologi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 29 Mei 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Agama dan Kemanusiaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 27 Mei 2021. Esai ini karya Joko Yuliyanto, penggagas Komunitas Seniman Nahdlatul Ulama, penulis buku dan naskah drama.

Kisah di Balik Sajian Makanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa 25 Mei 2021. Esai ini karya Adib Baroya Al Fahmi, mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia UIN Raden Mas Said Surakarta.

Memperkuat Gastro-Diplomasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 24 Mei 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Pangan dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universitas Sebelas Maret.

Kajian Fiskal Regional

Penulis adalah Pengawas pada KPPN Klaten. Pendidikan Magister Hukum UGM

Impelementasi Catur Gatra Tunggal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 22 Mei 2021. Esai ini karya Y. Argo Twikromo, dosen di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, antropolog, dan peneliti di MINDSET Institute.

Sinyal Pemulihan Kian Terang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 21 Mei 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Lebaran Covid-19

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 19 Mei 2021. Esai ini karya Suwarmin, wartawan Solopos.

PLTA Kali Samin Simbol Kemandirian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 20 Mei 2021. Esai ini karya Eko Sulistyo, Komisaris PT PLN (Persero).

Kritik untuk Sangkar Buku Kegiatan Ramadan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 19 Mei 2021. Esai ini karya Rohmah Jimi Sholihah, guru Pendidikan Agama Islam di SDN Tasikhargo, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah.

Palestina dan Jurnalisme Islam

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 18 Mei 2021. Esai ini karya Dhima Wahyu Sejati, mahasiswa Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam Institut Agama Islam Negeri Surakarta.

Jalan Panjang Pemulihan Ekonomi Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 17 Mei 2021. esai ini karya Anton A. Setyawan, guru besar Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Memaknai Desa Sadar Kerukunan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 10 Mei 2021. Esai ini karya Muhammad Taufik Ismail, anggota panitia Festival Toleransi di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Rajakaya untuk Kecukupan Daging Nasional

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 11 Mei 2021. Esai ini karya Fransiskus Raymon, mahasiswa Program Studi Peternakan Universitas Sebelas Maret.

Jangan Mendadak "Bagong"

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 6 Mei 2021. Esai ini karya Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda Badan Ketahanan Pangan Kementeria Pertanian.

Royalti, Radio, dan Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi sabtu, 8 Mei 2021. Esai ini karya Ariyanti Mahardina, freelancer yang pernah bekerja di radio dan kini masih aktif di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Solo.

Kita Harus Menjadi Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 5 Mei 2021. Esai ini karya Ardian Nur Rizki, guru di Sekolah Indonesia Luar Negeri Johor Bahru, Malaysia.

Resiliensi Sektor informal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 4 Mei 2021. Esai ini karya Muhammad Taufik Nandito, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyan Surakarta dan aktif di Lingkar Studi Sasadara di Kleco, Kota Solo.

Mitos Kekinian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 5 Mei 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute.

Narasi Tunggal Soal Mudik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat. 7 Mei 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Hadiah Lebaran dari Mas Edi

Buat saya, di tengah pandemi seperti saat ini, orang-orang seperti Mas Edi inilah bantalan kuat bagi ketahanan ekonomi Indonesia.

Wajah Pendidikan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 3 Mei 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Musnahkan Kebebalan Kawanan!

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 30 April 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Menolak Jalan Impunitas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 29 April 2021. Esai ini karya St, Tri Guntur Naryawa, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Wantok

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 28 April 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Rumah Tempat Debat dan Mufakat

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 26 April 2021. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncel Bilik Literasi.

Pelajaran Dari Gawok

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 23 April 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Sinergi Mencegah Perkawinan Anak

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 April 2021. Esai ini karya Retno Winarni, guru Bahasa Indonesia di SMAN Kerjo, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Bisnis Monyet Tanaman Hias

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 20 April 2021. Esai ini karya Nadia Aliya Azki, mahasiswa Program Studi Manajamen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

(Andai) Demokrasi Tanpa Oligarki

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 19 April 2021. Esai ini karya Siti Farida, Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah.

Perlawanan Perempuan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 April 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Singkong Goreng dan Segelas Wine

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 16 April 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI)

Punden-Punden Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 15 April 2021. Esai ini karya Albertus Rusputranto P.A., dosen di Institut Seni Indonesia Surakarta.

Membaca Perempuan Kini

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 24 April 2021. Esai ini karya Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Bukan Cuma Kebaya dan Sanggul

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 22 April 2021. Esai ini karya Elly Jauharah Asriani, guru Matematika di MTsN 7 Klaten, Jawa Tengah.

Menunggu Musikus Jadi Kaya Raya

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 17 April 2021. Esai ini karya Tito Setyo Budi, doktor Kajian Musik, wartawan, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Kabupaten Sragen.

UUD 1945 dan the Living Constitution

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 13 April 2021. Esai ini karya Salma Abiyya, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Menyikapi Waktu Subuh Yang Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 12 April 2021. Esai ini karya Muh. Nursalim, Ketua Komisi Kajian Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sragen.

Investasi Sosial Wakaf Uang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 9 April 2021. Esai ini karya Wawan Sugiyarto, analis Pusat Analisis dan Harmonisasi Kebijakan Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan dan peraih gelar akademis PhD di Queensland University of Technology, Brisbane, Australia.

Dihantui Masa Lalu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 14 April 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.

Teror dan Agama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 6 April 2021. Esai ini karya Arif Yudistira, tuan rumah Pondok Filsafat Solo.

Berolahraga di Atas Bus Berjajar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 5 April 2021. Esai ini karya Agus Kristiyanto, Guru Besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret.

Cerita dari Bontang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 7 April 2021. Esai ini karya Suwarmin, wartawan Solopos.

Mencegah Terorisme Lagi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 3 April 2021. Esai ini karya Soleh Amini Yahman, psikolog dan dosen di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Catur dan Uang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 1 April 2021. Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo.

Film sebagai Sumber Sejarah Alternatif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 31 Maret 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Harapan Kota Solo Bebas dari Sampah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 29 Maret 2021. Esai ini karya Mochamad Syamsiro, Direktur Center for Waste Management and Bioenergy dan dosen di Jurusan Teknik Mesin Universitas Janabadra Yogyakarta.

Lupakan Saja Swasembada Gula

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 24 Maret 2021. Esai ini karya Jojo, kandidat Doktor Ilmu Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor atau IPB University.

Tema dan Kontroversi Lama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 27 Maret 2021. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi.

Sisi Lain Proyek Mercusuar Presiden Joko Widodo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 27 Maret 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Filantropi Ruwahan Era Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 25 Maret 2021. Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Fakultas Adab dan Bahasa Institut Agama Islam Negeri Surakarta.

Pekerjaan Rumah Mas Wali

Soloraya akan menjadi megapolitan baru. Apalagi bila Mas Wali dapat memimpin langkah sinergi dan kolaborasi dengan pemerintahan lainnya di kawasan Soloraya.

Youtube Lebih daripada Televisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 20 Maret 2021. Esai ini karya Imam Subkhan, pengelola studio dan pembuat konten yang tinggal di Karanganyar.

Aspek Pajak dalam Zakat ASN

Rencana pemerintah untuk memotong gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) sebesar 2,5% untuk pungutan zakat kembali naik ke permukaan.

Prospek Cerah Budi Daya Porang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 16 Maret 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Pangan dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universita Sebelas Maret.

Irasionalitas Impor Beras

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 15 Maret 2021. Esai ini karya Haris Zaky Mubarak, peneliti sejarah dan Direktur Jaringan Studi Indonesia.

Rekayasa Sosial dan Ubah Laku

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 3 Maret 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Rumah Versus Sekolah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 19 Maret 2021. Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015), tertarik dengan tema-tema filsafat pendidikan, filsafat agama, dan ekonomi politik.

Pencurian Artefak Bersejarah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 18 Maret 2021. Esai ini karya Christianto Dedy Setyawan, guru Sejarah di SMA Regina Pacis Solo dan anggota staf Litbang Soeracarta Heritage Society.

Toleransi Bukan Sekadar Kata-Kata

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Maret 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute dan Pemimpin Proyek Internalisasi Literasi Keberagaman Melalui Jurnalisme di SMA/SMK di Soloraya yang dikelola Solopos Institute.

Jebakan Wacana Tiga Periode

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Maret 2021. Esai ini karya Ronny P. Sasmita, analis senior di Indonesia Strategic and Economic Action Institution.

Prospek Cerah Budi Daya Porang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 16 Maret 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Pangan dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universitas Sebelas Maret.

Irasionalitas Impor Sejuta Ton Beras

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 15 Maret 2021. Esai ini karya Haris Zaky Mubarak, peneliti sejarah dan Direktur Jaringan Studi Indonesia.

Penguatan Demokrasi di Daerah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 13 Maret 2021. Esai ini karya M. Dwi Sugiarto yang tertarik dengan tema-tema demokrasi dan pemilihan umum, pernah menjadi anggota Panitia Pengawas Kecamatan Teras pada pemilihan kepala daerah Kabupaten Boyolali 2020.

Pendidikan Nonformal yang Terlupakan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 9 Maret 2021. Esai ini karya Muhammad Ivan, Sarjana Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Jakarta dan analis kebijakan di Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Macet Itu Menyenangkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 12 Maret 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia atau GrupJaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Prioritas Pembangunan Desa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 6 Maret 2021. Esai ini karya Mulyanto, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret dan Ketua Bidang Kajian dan Publikasi ISEI Solo.

”Ular Besi” Vorstenlanden

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 3 Maret 20201. Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan pelaju KRL dan Prameks Solo-Jogja.

UNS di Sepuluh Besar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 10 Maret 2021. Esai ini karya Tundjung W. Sutirto, dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret Solo.

AHY versus Moeldoko

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 8 Maret 2021. Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo.

Perpisahan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 10 Maret 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Pengadaan Tanah untuk Tol Solo-Jogja

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 2 Maret 2021. Esai ini karya Himawan Pambudi, sosiologi perdesaan yang bekerja sebagai pekerja sosial di Yayasan Satunama dan warga yang tinggal di Kabupaten Klaten dan terdampak pembangunan tol Solo-Jogja.

Media Massa dan Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 1 Maret 2021. Esai ini karya Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Green Wasathiyyah Campus

Green Wasathiyyah Campus adalah kepedulian terhadap sustainability/keberlanjutan, bagaimana manusia tidak hanya sekadar memikirkan cara bertahan hidup di masa sekarang tetapi juga berpikir untuk kehidupan jangka panjang.

Subsidi Agrobisnis Pangan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 22 Februari 2021. Esai ini karya Agus Wariyanto, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah.

Orang Kaya Baru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 23 Februari 2021. Esai ini karya Yohanes Bara, mahasiswa Magister Manajemen Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan pengelola Tobemore Learning Center di Cangkringan, Sleman, DIY.

Clubhouse dan Kesan Pertama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 26 Februari 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Menerka Pesta Demokrasi 2024

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 25 Februari 2021. Esai ini karya Nursahid Agung Wijaya, Kepala Subbagian Keuangan Umum dan Logistik Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Wonogiri.

Keruntuhan Imajinasi Publik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 27 Februari 2021. Esai ini karya Abdul Jalil, jurnalis Solopos dan mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret.

Buzzer, Politik, dan Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 20 Februari 2021. Esai ini karya Dwi Munthaha, peneliti di Bhuminara Institute dan mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta.

The Chinese Way

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 19 Februari 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).