Ilustrasi angin puting beliung. (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)

Solopos.com, WONOGIRI – Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, mengimbau warga menyiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan bencana, termasuk puting beliung, pada musim penghujan ini. Angin kencang dapat mengakibatkan sejumlah kerusakan.

Puting beliung tak hanya merusak atap rumah, tetapi bisa merobohkan rumah, menumbangkan pohon, merobohkan baliho, dan lainnya. Pohon yang sudah sangat tinggi dan rantingnya menjulur lebih baik ditebang, apalagi jika letaknya dekat dengan hunian.

“Tahun lalu tak sedikit pohon tumbang yang menimpa rumah. Saat hujan lebar jangan berada di dekat baliho atau berteduh di dekat pohon,” terang Bambang Haryanto saat berbincang dengan Solopos.com, Sabtu (8/2/2020).

BPBD Wonogiri juga mendorong pembentukan desa tangguh bencana. Dengan begitu desa dapat menanggulangi bencana secara mandiri. Tak hanya tanggap darurat, tetapi juga dapat mengurangi risiko bencana.

Sampai akhir 2019 lalu, 132 desa dari total 251 desa di Kota Sukses menjadi destana (desa tanggap bencana). Delapan desa masuk kategori destana utama, satu destana madya, dan 123 destana pratama. Anggaran pembentukan bersumber dari APB desa masing-masing.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, bencana akibat hujan deras terjadi di sejumlah wilayah di Wonogiri, Minggu (2/2/2020) lalu. Bencana alam itu meliputi banjir, talut rumah ambrol, dan pagar sekolah runtuh.

Banjir terjadi di Dusun Bulu, Desa Baleharjo, Eromoko. Air sungai yang meluap menggenangi jalan dusun hingga masuk ke empat unit rumah warga. Air sungai mulai meluap pukul 16.00 WIB atau setelah beberapa lama hujan deras mengguyur.

Genangan di jalan dusun dan permukiman saat itu mencapai 30-50 cm. Penghuni rumah yang terdampak dapat menyelamatkan diri sebelum genangannya tinggi. Selang satu jam banjir surut.

Pada hari yang sama, talut halaman rumah Warino, 55, warga Dusun Lemah Mendak RT 001/RW 014, Desa Kepuhsari, Manyaran, sepanjang 30 meter dan tinggi 7 meter, ambrol menimpa dinding rumah Pandi.

Akibatnya, dinding rumah Pandi berstukrut kayu (gebyok) roboh. Berungtung, saat itu penghuni rumah tak berada di dekat dinding, sehingga mereka selamat. Sebelum dinding rumah selesai diperbaiki, Pandi mengungsi di rumah saudaranya.

Kerugian yang dialami korban mencapai Rp80 juta. Sementara itu, pagar halaman SMPN 2 Jatiroto, Kecamatan Jatiroto sepanjang lebih kurang 18 meter setinggi lebih kurang 1 meter, roboh, pada hari yang sama.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten