Muhammadiyah: Santri Jangan Sekehendaknya, dengan Alasan Agama & Nasionalisme
KH Ma\'ruf Amin bersama Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (kanan) di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (5/9/2018). (Antara - Hafidz Mubarak A)

Solopos.com, JAKARTA -- Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir meminta setiap santri untuk menjaga perilakunya karena tidak dibenarkan bertindak sekehendak sendiri.

"Santri tidak dibenarkan berbuat sekehendaknya, apalagi dengan menggunakan alasan agama dan nasionalisme," kata Haedar kepada wartawan di Jakarta, Selasa (23/10/2018).

Pernyataan tersebut terkait Hari Santri Nasional. Haedar mengatakan kaum santri agar menjauhi segala perilaku yang tercela, yang merugikan diri sendiri, orang lain, dan lingkungannya.

Santri, katanya, tidak melakukan akhlak yang buruk, seperti kekerasan kepada siapa pun dan apapun, seperti menyiksa, membakar, dan berbuat onar atau anarkis di ruang publik atas nama perbuatan baik. Dalam berbagai keadaan, dia mengatakan santri harus tetap baik, damai, dan toleran jika berbeda paham atau pandangan.

Ia menjelaskan bahwa mengajarkan kebaikan dan mencegah kebatilan (amar ma'ruf bernahi munkar) harus dilakukan dengan cara yang baik. Prinsip tersebut, kata dia, sesuai dengan prinsip dakwah yang dilakukan dengan cara yang bijaksana, dengan pelajaran yang baik dan dialogis.

Menurut dia, sosok santri adalah perlambang kebajikan beragama atau berislam sehingga kesantrian harus menunjukkan jiwa, pikiran, perilaku, dan tindakan yang benar-benar islami secara nyata, bukan hanya dalam klaim dan retorika.

Haedar mengatakan santri secara umum adalah julukan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan agama Islam di pesantren. Dalam diri santri melekat dunia pesantren yang mendidik beragama dengan benar dan baik.

Lebih dari itu, kata dia, penyebutan santri bisa menunjuk pada Muslim yang taat menjalankan agama Islam. Betapa luhurnya penyebutan santri yang sering disamakan sebagai kaum putih perlambang bersih atau suci.

"Karena itu kaum santri tentu harus menunjukkan sikap, tutur kata, dan tindakan yang berakhlak mulia sebagaimana diajarkan di pesantren tempat para santri dididik agama dengan sebaik-baiknya. Sebutlah akhlak jujur, amanah, menjaga lisan, sopan santun, damai, toleran, tawadu, kata sejalan tindakan, dan segala perangai yang mulia serta menebar rahmat bagi orang lain dan lingkungannya," kata dia.

Dia mengatakan jika kaum santri dapat menunjukkan teladan yang baik maka umat dan bangsa akan menjadi terbaik dan tidak membuat resah publik. Sebaliknya, kata dia, manakala tidak mampu menunjukkan keteladanan akhlak mulia maka kesantrian menjadi "jauh panggang dari api".

"Lantas publik akan hilang kepercayaan kepada kaum santri, yang tentu saja berdampak luas pada citra umat Islam di negeri ini," kata dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom