Ilustrasi penyandang tuna netra memasukkan surat suara saat pemilihan umum. (Harian Jogja-Desi Suryanto)

<p><strong>Solopos.com, SEMARANG &mdash;</strong> Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah Tafsir menilai kondusivitas situasi provinsi ini saat Pilkada 2018 ini jangan sampai disebabkan oleh sikap masa bodoh masyarakat terhadap pesta demokrasi lima tahunan tersebut.</p><p>"Jangan-jangan pilgub tenang bukan karena dinamis, tetapi karena masyarakatnya masa bodoh," kata Tafsir saat menjadi narasumber dalam <em>Diskusi Pilkada Bebas SARA</em> yang digelar si kampus Universitas Muhammadiyah Semarang, Kamis (24/5/2018).</p><p>Ia mengaku bersyukur atas situasi keamanan yang kondusif selama tahapan pilkada ini. Namun, lanjut dia, ada dua dugaan atas situasi konduaif tersebut, yakni dinamis atau permisif. "Kita tentu tidak ingin terbangun suasana tenang yang negatif," ucapnya.</p><p>Oleh karena itu, lanjut dia, sudah menjadi tugas ulama untuk mendorong umat berpastisipasi pada pilkada. "Jangan golput, pilih calon dengan cara yang rasional," ucapnya.</p><p>Muhammadiyah sendiri, lanjut dia, sudah menghadirkan kedua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur agar bisa dikenal oleh umat.</p><p>Sementara pengamat politik dan pemerintahan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Yuwanto menilai realitas pilkada sering menunjukkan kepribadian ganda. "Di satu sisi menunjukkan wajah mememsona penuh harapan, di bagian lain terdapat sisi gelap," tuturnya.</p><p>Pada sisi gelap ini, kata dia, pilkada diibaratkan sebagai pasar taruhan yang ditandai dengan pemunculan kandidat yang bersifat bayangan. "Model calon bersponsor samacam ini akan menghasilkan pemimpin yang kleptokrasi, pemimpin yang dikuasai para cukong," ujarnya.</p><p>Kondisi itu, lanjut dia, merupakan bagian dari kegagalan pilkada. Salah satu biang kerok dari kegagalan pilkada, menurut dia, ialah partai politik. "Calon oportunis dan pragmatis, soal menang kalah. Sama sekali tidak ada unsur pendidikan politik. Jika pola pikir masyarakat masih semacam itu maka kita akan mudah terjebak dalam isu SARA," ujarnya.</p><p><em><strong><a href="http://semarang.solopos.com/">KLIK</a> dan <a href="https://www.facebook.com/SemarangPos">LIKE</a> di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya</strong></em></p>


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten