Tutup Iklan
Kelapa Staf Presiden Moeldoko (kiri) berbincang dengan Menkopolhukam Wiranto dan Kepala BIN Budi Gunawan di Istana Negara Jakarta, Rabu (16/5/2018). (Antara - Wahyu Putro A)

Solopos.com, JAKARTA -- Pemerintah mengungkap adanya penyelundupan senjata untuk upaya adu domba membuat kekisruhan saat pengumuman hasil Pemilu 2019 secara resmi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada https://news.solopos.com/read/20190520/496/993418/hendropriyono-massa-prabowo-mulai-ompong-aksi-22-mei-cuma-sedikit" target="_blank" rel="noopener">22 Mei 2019.

"Sangat mungkin. Tuduhannya, ujung-ujungnya adalah pemerintah, ujung-ujungnya TNI-Polri menjadi korban tuduhan," jelas Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko di Gedung Bina Graha, Jakarta, Senin (20/5/2019).

Menurut Moeldoko, sejumlah senjata yang diselundupkan antara lain senjata api dengan peredam dan senjata untuk penembak runduk. KSP menjelaskan pemerintah membuka informasi itu kepada masyarakat untuk mencegah kesalahpahaman.

Dia menjelaskan aparat keamanan saat menjaga kondisi sewaktu https://news.solopos.com/read/20190520/496/993418/hendropriyono-massa-prabowo-mulai-ompong-aksi-22-mei-cuma-sedikit" target="_blank" rel="noopener">22 Mei 2019 tidak akan menggunakan peluru tajam.

"Untuk itulah kami rapat di Menko Polhukam menyepakati hindarkan TNI-Polri dari senjata amunisi tajam. Tidak ada lagi sekarang amunisi tajam itu, dilarang. Berikutnya kita menghindari kontak langsung dengan massa," tegas Moeldoko.

Sebanyak 28 ribu personel aparat keamanan disiapkan menjaga kondisi pada 22 Mei 2019. Moeldoko juga mengimbau masyarakat tidak perlu berkumpul dalam unjuk rasa dan tidak membawa senjata.

Avatar
Editor:
Adib M Asfar

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten