Moeldoko Jelaskan Fotonya dengan Bos Asia Sentinel: Demokrat Jangan Baper
Kelapa Staf Presiden Moeldoko (kiri) berbincang dengan Menkopolhukam Wiranto dan Kepala BIN Budi Gunawan di Istana Negara Jakarta, Rabu (16/5/2018). (Antara - Wahyu Putro A)

Solopos.com, JAKARTA -- Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko membantah tudingan bahwa dirinya terkait pemberitaan Asia Sentinel yang dianggap Partai Demokrat menyudutkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dia pun menjelaskan latar belakang foto dirinya bersama co-founder Asia Sentinel, Lin Neumann, yang diunggah Wasekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik.

Asia Sentinel -- media daring berbahasa Inggris yang berbasis di Hong Kong -- merilis tulisan mengenai kasus Bank Century yang mendapatkan dana talangan triliunan rupiah pada masa pemerintahan SBY. Bahkan, artikel itu mengaitkan SBY dengan kasus itu.

Setelah Asia Sentinel merilis tulisan berjudul Indonesia\'s SBY Government: Vast Criminal Conspiracy itu, para petinggi Demokrat bereaksi keras. Terakhir, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Rachland Nashidik mengunggah foto yang menunjukkan Moeldoko bersama sejumlah orang, termasuk yang disebut sebagai Lin Neumann.

"Apakah Istana terlibat dalam fitnah pada SBY?" kicau Rachland. Menanggapi cuitan Rachland itu, Moeldoko menyatakan pihak Demokrat jangan baper dengan menduga seperti itu.

"Jadi jangan buru-buru baper begitu menduga. Dilihat dulu latar belakangnya seperti apa. Menduga-duga, bagaimana. Kalau saya sebagai orang yang akan mengendalikan operasi intelijen, kira-kira [jika] itu operasi intelijen, bodoh banget saya terbuka begitu. Mungkin saya bisa enggak jadi Panglima TNI kalau begitu," kata Moeldoko yang menjabat sebagai Panglima TNI pada masa pemerintahan SBY.

Moeldoko menceritakan latar belakang foto itu. Menurutnya, pada Mei 2018, Kantor Staf Kepresidenan menggelar diskusi dengan American Chamber. Dalam diskusi itu, Moeldoko menyampaikan sejumlah hal seperti perkembangan situasi politik dan keamanan di Indonesia. Pada saat itu, Moeldoko tidak mengetahui bahwa ada salah satu orang yang hadir itu adalah Lin Neumann yang belakangan diketahui terkait Asia Sentinel.

"Jadi enggak ada kaitannya atau politik apapun. Itu hanya kepentingan Kepala Staf Kepresidenan untuk bisa memberi penjelasan kepada investor, para pengusaha-pengusaha luar [negeri], yang sudah menanamkan uangnya di dalam negeri dan kita ingin menarik investasi lain, yang ingin tahu tentang situasi negara. Itu poin pertama yang ingin saya sampaikan. Jangan mengait-ngaitkan dengan yang enggak-enggak," katanya.

Moeldoko kemudian memberi contoh. Pada suatu saat, dia bisa bertemu dengan kerumunan massa. Dalam kesempatan itu, dia bertemu dengan seorang perempuan yang ingin berfoto dengannya. Pada saat itu, sambung Moeldoko, bisa saja tangannya dipegang. "Tapi sudah keburu difoto, jepret. Nah, [kemudian orang bilang] Pak Moeldoko ini berselingkuh. Kan enggak mungkin tangannya saya banting," kata Moeldoko.

Dalam laporan berjudul Indonesia\'s SBY Government: Vast Criminal Conspiracy, laman Asia Sentinel menyebutkan adanya konspirasi pencurian uang negara sebesar US$12 miliar yang melibatkan 30 pejabat negara dan mencucinya melalui perbankan internasional.

Laporan itu ditulis John Berthelsen sebagai editor Asia Sentinel. Namun kini judul artikel itu telah berubah menjadi Asia Sentinel Story on Indonesia Corruption Goes Viral. Intinya, John menceritakan bahwa tulisannya tersebut menjadi viral di Indonesia dan mendapatkan respons politik yang luar biasa. Dia juga menyebutkan respons petinggi Demokrat yang mendiskusikan rencana gugatan hukum kepada Asia Sentinel.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom