Moderasi dalam Keluarga Beda Agama

Artikel Mimbar Mahasiswa oleh Dwiky Bagas Setiawan ini telah dimuat di Harian Solopos, Selasa, 26 April 20022.

 Dwiky Bagas (Solopos/Istimewa)

SOLOPOS.COM - Dwiky Bagas (Solopos/Istimewa)

Salah satu topik yang akhir-akhir ini mengundang perdebatan yang menarik dan serius adalah mengenai relasi kebebasan beragama dan pro-kontra pernikahan beda agama. Topik ini selalu ada dan sering menjadi perdebatan mengingat masyarakat Indonesia yang plural. Karena itu, sangat memungkinkan terjadinya pernikahan dengan latar belakang perbedaan agama, suku, dan sebagainya.

Secara historis perdebatan menyangkut topik-topik tersebut telah dimulai dalam Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) sebagaimana klausul Pasal 29 UUD 1945. Menarik sekali bahwa persoalan kebebasan beragama ini tidak pernah tuntas diperdebatkan sejak rapat di BPUPKI pada 1945 sampai sekarang. Akibatnya rumusan Pasal 29 yang berbunyi “Negara berdasarkan atas Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” kemudian mengalami perubahan dalam rapat pada 18 Agustus 1945 menjadi “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa”. Rumusan terakhir itulah yang dipakai dalam konstitusi Indonesia sampai sekarang.

PromosiPelajaran Penting dari Keruntuhan Sang Raksasa Seluler Nokia

Situasi ini dapat dilihat sebagai bagian dari dinamika menjadi bangsa Indonesia yang multikultural. Keberhasilan dari proses-proses tersebut sangat ditentukan oleh kesediaan seluruh komponen bangsa untuk melakukan pembelajaran bersama secara terbuka dan jujur terhadap pengalaman sejarah berkaitan dengan keanekaragaman. Ada berbagai  kepentingan yang harus diperhatikan dan disikapi berdasarkan prinsip-prinsip kesetaraan, keadilan, dan kebebasan.

Implementasi dari prinsip-prinsip tersebut menjadi batu uji bagi perjalanan mewujudkan cita-cita membangun kebangsaan multikultural Indonesia.

Menurut Prof. Musdah Mulia, saat ini terjadi polarisasi klaim yang membedakan antara agama asli versus tidak asli, agama induk versus sempalan, dan agama langit dan agama bumi. Polarisasi semacam itu berpotensi melahirkan tindakan diskriminatif, serta tidak kondusif bagi bangunan kebangsaan Indonesia yang multikultural ini.

Salah satu yang menjadi isu menarik perbincangan saat ini adalah pernikahan beda agama. Soal topik ini, menurut Abdul Moqsith Ghazali, ulama Islam terbelah ke dalam tiga kelompok. Pertama, ulama yang mengharamkan secara mutlak (Q.S. Al-Baqarah: 221) dan (Q.S Al-Mumtahanah: 10).

Kedua, ulama yang berpendapat keharaman menikah orang musyrik dan kafir sudah dibatalkan Q.S. Al-Maidah: 5 yang membolehkan laki-laki menikahi perempuan Ahli Kitab. Konteks permusuhan kaum musyrik itulah yang saat itu dikhawatirkan akan menghancurkan harapan suci pernikahan yang biasa disebut sebagai mitsaqan ghalidzan. Oleh sebab itu persoalan kafa’ah (kesetaraan) atau kesamaan dalam agama bagi pasangan yang mau menikah juga ditekankan dalam yurisprudensi Islam klasik.

Ketiga, ulama yang membolehkan secara mutlak. Ulama terakhir ini melanjutkan asumsi ulama kedua yang tak tuntas. Jika ulama kedua hanya membolehkan laki-laki muslim menikahi perempuan Ahli Kitab, maka ulama terakhir ini membolehkan hukum sebaliknya, permpuan Muslimah menikah dengan laki-laki Ahli Kitab. Menurut kelompok terakhir ini, tak ada teks dalam al-Qur’an yang secara eksplisit melarang pernikahan beda agama.

Kemudian mitos nikah beda agama rawan konflik dan perceraian, kuat menancap dalam alam kesadaraan masyarakat. Sebenarnya permasalahan konflik keluarga bukan semata karena berbeda agama. Asalkan setiap pasangan suami istri mampu mengelola konflik dengan baik, takkan terjadi perceraian.

Menurut ulama ketiga ini, keluarga pernikahan beda agama (PBA) bisa saja menetralisasi perbedaan agama, ditutup oleh persamaan-persamaan dalam aspek lain. Orang bisa saja berpikir persoalan agama adalah urusan saya dengan Tuhan.

Faktor-faktor tersebutlah yang kadang mendorong mereka melakoni PBA. Kadang kita juga menemukan kasus suami istri PBA yang saling bermusuhan. Hal ini terjadi karena masing-masing meyakini agamanya sembari menyalahkan agama pasangannya. Ketika mengatakan agama kita benar, bukan berarti menyalah-nyalahkan atau mencaci maki.

Benny Ridwan dari IAIN Salatiga dalam bukunya berjudul Proses Menjadi Indonesia Negara, Kebebasan Beragama dan Pernikahan Beda Agama,  menyapaikan pasangan suami istri pernikahan beda agama mempunyai strategi untuk menjawab tantangan internal dan eksternal. Sangatlah menarik mencermati strategi dan kreativitas mereka mulai dari mengatur menu makanan, memilih simbol keagamaan di rumah, mengatur pendidikan anak, mengikuti tradisi keagamaan keluarga besar, dan sebagainya.

Untuk mengakhiri perdebatan dan sengkarut pernikahan beda agama ini, seluruh elemen bangsa membangun sinergi, bergandengan tangan, bahu-membahu untuk menegakkan hak dan prinsip kebebasan beragama. Ada langkah  dan upaya konkret yang bisa dilakukan.

Pertama, rekonstruksi budaya melalui jalur pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya, baik pendidikan formal, nonformal, maupun informal. Perlu sekali mengubah masyarakat yang eksklusif, intoleran, dan senang kekerasan menuju budaya inklusif, toleran, cinta damai, dan pluralis.

Kedua, merevisi sejumlah undang-undang dan peraturan yang tidak kondusif bagi terwujudnya kebebasan beragama di Tanah Air.

Ketiga, reinterpretasi ajaran agama sehingga tersosialisasikan ajaran agama yang membebaskan manusia dari berbagai belenggu kebencian menuju negara baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (kehidupan damai dan sejahtera).

Artikel Mimbar Mahasiswa oleh Dwiky Bagas Setiawan ini telah dimuat di Harian Solopos, Selasa, 26 April 20022.

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini". Klik link https://t.me/soloposdotcom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Solopos.com Berita Terkini

Berita Terkait

Berita Lainnya

Espos Plus

Konsumen dan Aktivis Desak McDonald’s Asia Tinggalkan Kandang Baterai

+ PLUS Konsumen dan Aktivis Desak McDonald’s Asia Tinggalkan Kandang Baterai

Koalisi organisasi perlindungan hewan Act for Farmed Animals bersama Open Wing Alliance menyelenggarakan protes massal menuntut McDonald’s Asia menghentikan penggunaan telur ayam dari kandang baterai.

Berita Terkini

Syafii Maarif Mengalahkan Rasa Takut

Kini, Buya Syafii Maarif berpulang pada usia 86 tahun. Seharusnya, 31 Mei 2022 Buya berulang tahun. Kita kehilangan sosok guru bangsa yang menjaga moral bangsa.

Apem, Kolak, dan Ketan

Pura Mangkunegaran bikin gebrakan kecil. Beberapa paket wisata disajikan untuk masyarakat umum. Antara lain paket kuliner khas Pura berupa apem, kolak pisang dan ketan.

Kue Ekonomi Lebaran

Lebaran tahun ini menjadi evidence alias bukti yang nyata. Mudik bukan sekadar perjalanan spiritual menengok kampung leluhur atau sungkem kepada orang tua, melainkan juga menjadi manifestasi geliat ekonomi wisata yang nyata.

Adil dalam Pikiran dan Perbuatan

Sekarang ini, orang cenderung menyukai informasi atau pendapat yang memperkuat keyakinan atau nilai-nilai mereka sebelumnya. Mereka mengabaikan bukti-bukti baru yang berbeda dengan keyakinannya.

Saling Menguatkan, Saling Memulihkan

Lebaran tahun ini, ada kebahagiaan membuncah. Kerinduan panjang tak bersua bakal terobati.

Mudik, Rohali, dan Rojali

Bayangkan perputaran uang yang tercipta dari sekitar 85 juta orang itu. Tentu tidak sedikit. Apalagi, dua tahun sudah agenda mudik ini tidak dilakukan. maria.benyamin@bisnis.com 

Hukum Cagar Budaya dan Agraria

Bagimana untuk mencegah terjadinya perusakan bangunan, struktur, situs cagar budaya terkait keberadaan masyarakat yang menempatinya? Tentu saja harmonisasi hukum antara UU Cagar Budaya dan UU Agraria perlu dijalankan.          

Surga Kuliner

Keunggulan kuliner Solo bukan muncul tiba-tiba, melainkan berakar dan bertumbuh seiring perkembangan kota.

Menjadi Ekalaya

Pandemi telah berlangsung lebih dari dua tahun. Learning loss pun sudah tampak.

Moderasi dalam Keluarga Beda Agama

Untuk mengakhiri perdebatan dan sengkarut pernikahan beda agama ini, seluruh elemen bangsa membangun sinergi, bergandengan tangan, bahu-membahu untuk menegakkan hak dan prinsip kebebasan beragama.

Vandalisme Keraton Kartasura

Selama ini, saya rasa terdapat pemahaman keliru dalam memaknai “ibu kandung” Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Kasultanan Yogyakarta, Pura Mangkunegaran, dan Pura Paku Alaman tersebut.

Digital Entrepreneurship: Kewirausahaan di Era Digital

Dari semua aktivitas digitalisasi dalam prinsip digital entrepreneurship perlu dipahami bahwa implementasinya tidak bergantung sepenuhnya pada hal yang berkaitan dengan teknologi atau digital.

Amerika Polah, Ekonomi Dunia Kepradah

Mungkin hari ini dalam konteks geopolitik dan geoekonomi global, analogi itu bisa dipakai. Amerika polah, ekonomi dunia kepradah.

Perangnya Amerika Serikat, Krisis Ganda bagi Dunia

Yang bikin pusing Indonesia, Amerika juga mengancam "boikot" KTT G-20 akhir tahun ini, bila mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin. Begitu kira-kira.

Saling Menguatkan, Saling Memulihkan

Momentum mudik Lebaran 2022 menjadi momentum untuk saling menguatkan saling memulihkan. Tulisan opini ini juga dimuat di rubrik Selasar Koran Solopos

Hilang Tanpa Coretan

Apakah kematian bisa diartikan sebagai ketidakadaan? Bisakah ada dan tidak ada hadir dalam satu waktu?