Pengunjung berswafoto dengan latar belakangan hamparan bunga Celosia di kebun bunga Telaga Nursery Prambanan, Dukuh Tlogo Lor, Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Klaten, Selasa (28/8/2018).(Solopos/Cahyadi Kurniawan)

<p><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;"><b>Solopos.com, KLATEN &ndash;</b></span></span><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;"> </span></span><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Di era media sosial, membuat foto yang indah dan unik untuk diunggah menjadi &ldquo;kebutuhan.&rdquo; Kini ada tempat baru untuk didatangi dan menjadi tempat berfoto yang unik, yaitu <a href="http://soloraya.solopos.com/read/20180816/492/934485/ngehits-spot-selfie-bunga-matahari-boyolali" title="Ngehits, Spot Selfie Bunga Matahari Boyolali">kebun bunga</a> Celosia milik Telaga Nursery Prambanan, Dukuh Tlogo Lor, Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Klaten.</span></span></p><p><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Kebun itu baru dibuka sekitar sepekan lalu. Namun, orang-orang dari berbagai daerah seperti Jogja, Solo, Jakarta hingga Kalimantan sengaja datang ke kebun itu untuk menikmati hamparan bunga Celosia. Mereka juga mengabadikan keindahan itu menggunakan ponsel atau kamera yang dibawa.</span></span></p><p><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Untuk menikmati hamparan bunga, pengunjung dikenai biaya Rp5.000 untuk anak-anak dan Rp8.000 untuk dewasa. &ldquo;Harganya sangat terjangkau. Apalagi sepertinya ini baru satu-satunya di Klaten,&rdquo; kata salah satu pengunjung Alissa Natalia, 35, di sela-sela berswafoto bersama putranya, Amadeo Aloysius Konzaga, 6, Selasa (28/8/</span></span><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">2018</span></span><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">).</span></span></p><p><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Ia dan putranya mengenakan caping untuk meredam panas terik mentari pagi. Di celah antara barisan bunga, keduanya berfoto dengan merah dan kuning celosia. Alissa sesekali meminta putranya berfoto di dekat sepeda lawas yang disediakan pengelola.</span></span></p><p>&ldquo;<span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Awalnya hanya jalan-jalan. Kebetulan si kecil [Amadeo] suka bunga-bunga. Dia minta ke sini buat foto-foto. Kalau bisa ditambah semacam gazebo atau kafe jadi bisa nongkrong sambil menikmati hamparan bunga,&rdquo; harap dia, sambil menyeka keringat.</span></span></p><p><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Di kebun itu, selain menikmati bunga celosia, pengunjung bisa membeli benih bunga celosia dan benih aneka buah lainnya seperti kelelngkeng, jambu, dan lainnya. Kebun bunga itu dikelola Telaga Nursery Prambanan milik Isto Suwarno.</span></span></p><p><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Bagi Isto, melihat pengunjung muda-mudi hingga generasi tua berfoto di kebun bunga miliknya menjadi kepuasan tersendiri. Pernah ada seorang pengunjung berce</span></span><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">rita padanya, berfoto di kebun celosia serasa berfoto di Belanda.</span></span></p><p>&ldquo;<span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Padadal bunga ini asli Indonesia. Dulu kita sebut jengger ayam. Hanya saja, menanamnya tidak pernah ditata dan dihimpun di satu lokasi seperti saat ini,&rdquo; tutur dia.</span></span></p><p><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Teknik menanam bunga ia dapatkan dari <a href="http://viral.solopos.com/read/20180501/486/913718/grup-paduan-suara-thailand-nyanyikan-doa-khatam-alquran" title="Grup Paduan Suara Thailand Nyanyikan Doa Khatam Alquran">Thailand</a> saat belajar budidaya buah-buahan. Benih bunga ia dapatkan di dalam negeri. Untuk menanami lahan seluas 700 meter persegi itu, ia hanya butuh modal membeli benih Rp200.000. Benih itu disemai lalu ditanam di lahan dengan proses layaknya menanam pohon cabai.&nbsp;</span></span>&ldquo;<span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Perawatannya enggak sulit. Harga satu pak benih isi 300 biji hanya Rp25.000. Tanaman bunga ini murah dan mudah perawatannya,&rdquo; tutur dia.</span></span></p><p><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Ia berharap setiap desa setiap kecamatan di Klaten mengembangkan bunga serupa untuk inovasi pemanfaatan lahan. Selain untuk aspek estetika, menanam bunga memiliki nilai ekonomi tersediri.</span></span></p><p>&ldquo;<span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Sekarang taruhlah dikunjungi 100 orang per hari, ada pendapatan Rp800.000. Padahal, bunga ini bisa berumur empat bulan. Kalau ditanami <a href="http://soloraya.solopos.com/read/20180407/493/907500/penanaman-padi-raja-lele-hasil-mutasi-genetik-di-klaten-diperluas" title="Penanaman Padi Raja Lele Hasil Mutasi Genetik di Klaten Diperluas">padi</a> berapa pendapatannya?&rdquo; tanya dia.</span></span></p>


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten