MOBIL MURAH : Menhub: Awasi Populasi LCGC!
Menteri Perhubungan Evert Erenst Mangindaan (Nurul Hidayat/JIBI/Bisnis)

Solopos.com, JAKARTA — Menteri Perhubungan (Menhub) Evert Erenst Mangindaan mengingatkan masih terbatasnya infrastruktur jalan di Indonesia. Karena itu, kendati mendukung program mobil murah dan berteknologi ramah lingkungan (low cost green car/LCGC), dia tetap menginginkan jumlah mobil itu dibatasi. "Mobil murah jangan terlalu banyak karena infrastruktur belum memadai," kata E.E. Mangindaan di Jakarta, Selasa (17/9/2013).

Menhub berpendapat bila produksi mobil murah dipaksakan dalam jumlah banyak, dikhawatirkan akan menambah kemacetan lalu lintas yang kini sudah padat. Hal tersebut seperti di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi yang kerap dilanda kemacetan jalan sehari-hari.

Ia mengemukakan kecemasan itu mengingat program pembangunan mass rapid transportation (MRT) dan monorail di Jakarta masih belum terealisasikan. Menhub mengaku yakin bila pembangunan transportasi publik telah dapat diwujudkan, program mobil murah lebih dapat dilaksanakan dengan baik. “Semakin bertambahnya kendaraan bukanlah solusi atas kemacetan tetapi dengan membangun sistem transportasi publik massal yang nyaman dan memadai.”

Sebelumnya, M.S. Hidayat mengatakan rencana kementeriannya mendorong pengembangan produksi LCGC di Indonesia sebagai langkah persiapan menghadapi pasar bebas ASEAN 2015. "LCGC ini sebetulnya persiapan menuju pasar bebas ASEAN 2015. Pada saat itu kita akan diserbu oleh produk yang sama, yang dijual oleh Thailand, Malaysia, dengan bebas," ujar Hidayat.

Menteri menjelaskan Indonesia akan mempersilakan agen tunggal pemegang merek (ATPM) memproduksi LCGC dengan diberikan insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM). Sejauh ini telah lima perusahaan otomotif besar yang menyatakan akan ikut serta dengan total investasi sebesar 3,5 miliar dolar AS.

Terpisah Menteri Keuangan Chatib Basri menyatakan mobil murah yang sudah dirancang sedemikian rupa tidak akan menggunakan BBM bersubsidi. "Mobil LCGC kan enggak pakai BBM subsidi," ungkapnya.

Dalam Rancangan APBN 2014 dicantumkan, kuota BBM bersubsidi akan mencapai 48 juta kiloliter (KL) hingga 50,5 juta KL. Chatib berharap volume kuota bersubsidi tahun depan tetap terjaga. "Komisi VII mengusulkan 48-50,5 juta KL jadi harus diputus dalam range itu. Bisa jadi di bawah 50,5 juta KL tergantung pembicaraan Komisi VII dan Kementerian ESDM. Semoga realisasinya juga di bawah itu," jelas Chatib.(JIBI/Solopos/Antara/Detikcom)



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom