Polisi berjaga di depan kantor PT Krishna Alam Sejahtera di Dukuh Kringinan, Desa Kajen, Kecamatan Ceper, Klaten, Sabtu (13/7/2019). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Sejumlah mitra kerja PT Krishna Alam Sejahtera Klaten mendatangi Mapolres Sukoharjo untuk mengadukan dugaan penipuan oleh direktur perusahaan tersebut, Senin (15/7/2019).

Para mitra asal Sukoharjo tersebut mengadu ke polisi karena merasa menjadi korban penipuan investasi pengeringan bahan jamu atau supplier rempah herbal. Mereka menuntut jajaran direksi PT Krishna Alam Sejahtera bertanggung jawab mengembalikan modal para mitra.

Beberapa mitra kerja PT Krishna Alam Sejahtera datang ke Mapolres Sukoharjo sekitar pukul 09.30 WIB. Mereka membawa dokumen berisi identitas diri mitra serta nominal modal yang disetorkan. Mereka membuat laporan ihwal dugaan penipuan investasi herbal di Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Mapolres Sukoharjo.

Kemudian mereka diarahkan untuk menemui penyidik di Satreskrim Polres Sukoharjo. Mereka langsung dimintai keterangan ihwal kasus dugaan penipuan investasi herbal itu. 

“Jumlah mitra kerja di Sukoharjo tak begitu banyak seperti di Klaten. Mungkin sekitar 80 orang yang menjadi mitra kerja,” kata seorang mitra kerja PT Krishna Alam Sejahtera asal Desa Mulur, Kecamatan Bendosari, Agus Riyanto, saat berbincang dengan Solopos.com, Senin.

Agus merupakan mitra kerja pertama PT Krishna Alam Sejahtera yang berasal dari Sukoharjo. Kala itu, Agus tergiur tawaran menjanjikan dengan keuntungan berlipat ganda. 

Dia lantas menyetor modal awal Rp8 juta dan mendapatkan penghasilan Rp1 juta per pekan. Setelah menerima gaji beberapa kali, Agus ingin menambah modal awal menjadi Rp16 juta.

Lantaran merupakan mitra pertama di Sukoharjo, Agus dipercaya manajemen PT Krishna Alam Sejahtera menjadi pengawas lapangan. Dia bertugas mengoordinir mitra kerja lainnya di wilayah Kabupaten Jamu. 

“Saya bergabung menjadi mitra kerja sejak Maret [2019]. Modal awal yang hanya Rp8juta saya upgrade paket B senilai Rp16 juta. Itu pun modal awal pinjam uang ke bank,” papar dia.

Sementara mitra kerja PT Krishna Alam Sejahtera, Yoga, mengatakan uang yang disetorkan ke perusahaan tidak masuk rekening kantor melainkan rekening pribadi Direktur PT Krishna Alam Sejahtera, Alfarizi. 

Kejanggalan lainnya, manajemen kantor tak mengetahui konsumen yang memesan bahan jamu yang telah dikeringkan oleh mitra kerja. Karena itu, para mitra kerja meminta agar jajaran direksi PT Krishna Alam Sejahtera ikut bertanggung jawab terhadap nasib para mitra kerja. 

“Sebenarnya mereka tahu modus investasi herbal tak masuk akal. Namun, mengapa mereka membiarkan sehingga jumlah mitra yang ditipu bertambah banyak,” kata dia. 

Sebagaimana diinformasikan, PT Krishna Alam Sejahtera diduga telah menipu sekitar 1.800 orang dengan modus tawaran kerja sama sebagai mitra sebagai investor. Mereka merekrut warga sebagai mitra kerja di mana warga diminta membayar sejumlah uang sebagai modal. 

Lalu para mitra harus melakukan pekerjaan mengeringkan bahan jamu atau rempah dengan oven yang diberikan oleh PT Krishna Alam Sejahtera. Para mitra mendapat upah mulai Rp1 juta per pekan sesuai nominal modal yang disetor.

Awalnya usaha tersebut berjalan lancar. Upah bagi mitra juga lancar. Namun, sejak pekan lalu, direktur PT Krishna Alam Sejahtera, Alfarizi, menghilang. Para mitra kemudian menggeruduk kantor perusahaan itu di Klaten, Jumat (12/7/2019). 

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten