Mitos Pohon Nangka di Asale Dukuh Kebonso Boyolali
Makam Demang/Lurah K.A.Dm. Matangrono di Dukuh Kebonso, Desa Pulisen, Boyolali. (Solopos/dok)

Solopos.com, BOYOLALI – Dukuh Kebonso, Desa Pulisen, Kecamatan/Kabupaten, Boyolali, Jawa Tengah, sering dianggap masyarakat sebagai daerah yang menghasilkan daun melinjo. Namun ternyata daerah Dukuh Kebonso pada zaman dulu bukanlah kebun melinjo.

Lantas, tahukah Anda bagaimana asal-usul Dukuh Kebonso dan apa saja kepercayaan yang masih dipegang teguh masyarakat sampai saat ini? Simak uraian tim Solopos berikut ini:

Masyarakat Dukuh Kebonso, Desa Pulisen, Boyolali, masih memegang teguh suatu kepercayaan, yakni tidak boleh menjual hasil dari pohon nangka. Baik itu berupa buah maupun kayu nangka. Jika seseorang melanggar kepercayaan itu, maka dia akan mendapatkan kesengsaraan.

Hal itu dikatakan salah satu tokoh masyarakat, Sutaryo Hamijoyo. Ia mengatakan hingga saat ini masyarakat asli Dukuh Kebonso masih ada yang memegang teguh kepercayaan tersebut.

“Itu salah satu kepercayaan di dukuh ini. Masyarakat di sini lebih suka memberikan hasil kayu dan buah nangka ke tetangga daripada dijual. Kalau buahnya dimakan tidak apa–apa, namun jangan di jual. Hingga saat ini masih ada warga yang masih percaya,” kata dia saat ditemui Solopos.com di kediamannya, Sabtu (25/1/2020).

Sutaryo Hamijoyo mengatakan, saat itu masyarakat lebih suka menggunakan kayu nangka untuk kontruksi rumah. Sebab kayu nangka dipercaya mampu menolak bala. “Dulu, warga menggunakan kayu nangka untuk kontruksi rumah,” sambung dia.

Selain itu, kebanyakan masyarakat Dukuh Kebonso zaman dulu cenderung membangun rumah menghadap ke sisi selatan. Mereka juga dan enggan membangun rumah di depan jalan raya. Hal ini sangat kontras dengan kegiatan banyak orang masa kini.

“Pada zaman sekarang rumah yang berdekatan jalan raya memiliki nilai jual tinggi. Namun pada zaman dahulu mereka lebih suka membangun rumah di tengah gang daripada di pinggir jalan. Coba saja dilihat, ada beberapa rumah lama di sini mayoritas menghadap selatan,” jelasnya.

Pemakaman di Dukuh Kebonso juga berbeda. Ada dua pemakaman di sana, yakni makam gede dan makam cilik. Makam gede pada zaman dahulu digunakan untuk kaum berkasta tinggi. Sementara makam kecil dibuat untuk masyarakat biasa.

“Sebelum dibuka untuk umum, makam gede itu digunakan untuk kaum kaum orang berpangkat. Sedangkan makam cilik digunakan untuk rakyat biasa. Di dalam makam gede ada salah satu makam milik demang atau lurah yang bernama K.A.Dm. Matangrono. Makam itu hingga saat ini masih dijaga dan di rawat oleh masyarakat sekitar,” tandas Sutaryo Hamijoyo.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho