Mitos Kekinian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 5 Mei 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute.

 Sholahuddin (Istimewa/Dokumen pribadi).

SOLOPOS.COM - Sholahuddin (Istimewa/Dokumen pribadi).

Solopos.com, SOLO — Beberapa hari ini di dunia maya orang ribut membahas fenomena babi ngepet. Seorang laki-laki merekayasa bisa menangkap babi ngepet sehingga menjadi pembicaraan banyak orang. Rekayasa itu untuk menjawab pertanyaan banyak penduduk yang kehilangan uang.

Banyak orang percaya rekayasa ini. Kasus lain, seorang perempuan menuduh tetangganya memelihara babi ngepet sehingga bisa kaya tanpa bekerja. Ini kasus absurd, tidak masuk akal. Kasus babi ngepet ini menjadi bukti mitos masih menjadi bagian dari hidup masyarakat.

Hakikatnya mitos merupakan tahap pemikiran manusia paling awal. Mitos ada karena ketidakmampuan manusia menjelaskan atau menjawab fenomena, termasuk fenomena alam. Ketidakmampuan ini karena belum ditemukan atau terbatasnya penguasaan ilmu pengetahuan yang bisa menjawab rasa penasaran manusia.

Manusia kemudian membangun sebuah cerita supranatural untuk menemukan jawaban. Sudah menjadi fitrah manusia selalu bertanya-bertanya, mencari jawaban setiap fenomena yang dihadapi. Fitrah manusia ini yang menyebabkan kehidupan manusia bisa terus berkembang peradabannya sampai sekarang.

Dalam alam pemikiran mitos, antara fenomena dan jawaban sebenarnya tidak berhubungan sama sekali, tapi tetap diyakini kebenarannya karena hanya itu jawaban yang tersedia. Saat saya masih duduk di sekolah dasar, saat terjadi gerhana bulan banyak mengatakan fenomena gerhana terjadi karena bulan dimakan buta.

Buta atau raksasa adalah kepercayaan supranatural yang digambarkan makhluk berbadan sangat besar yang bisa memakan bulan. Saat terjadi gerhana, saya mendengar orang memukul kentungan agar si buta tidak jadi memakan bulan sehingga bulan kelihatan utuh kembali.

Sebenarnya saat itu ilmu pengetahuan sudah maju sehingga bisa menjelaskan fenomena gerhana bulan atau matahari dengan pendekatan sains. Tapi, ilmu pengetahuan ini belum dipahami semua warga masyarakat sehingga masih muncul mitos soal gerhana bulan seperti yang saya alami.

Apakah mitos yang masih hidup saat ini juga bagian dari ketidakmampuan manusia memahami sebuah fenomena, baik fenomena sosial maupun fenomena alam? Apakah masih layak orang menjawab fenomena orang punya banyak uang dengan membangun mitos babi ngepet?

Saya melihat kecenderungan, pada era kekinian, orang membangun atau percaya mitos bukan karena keterbatasan kemampuan manusia untuk memberi penjelasan, tapi lebih karena karena faktor ketidakmauan manusia berpikir secara benar.

Jadi, membangun mitos-mitos baru pada era saat ini  muncul karena kesengajaan manusia dengan berbagai kepentingan. Berbeda dengan mitos tempo dulu karena benar-benar ketidakmampuan.

Saya memaknai memitoskan sesuatu adalah memberi penjelasan atau menjawab atas sebuah fenomena tapi penjelasan/jawaban itu sesungguhnya tidak berkaitan sama sekali dengan fenomena yang dijelaskan. Kemudian dipaksakan agar orang memercayainya sebagai kebenaran.

Mitos model seperti ini karena ketidakmauan manusia membangun cara berpikir yang benar dalam menganalisis sebuah fenomena. Saya mengatakan ”ketidakmauan” karena cara berpikir ala mitos ini lahir dari orang-orang yang sebenarnya bisa memanfaatkan sains untuk menjawab sebuah fenomena.

Menghasilkan Pengetahuan

Saya jadi ingat tulisan-tulisan Jujun S. Suriasumantri kala membahas filsafat ilmu. Dia mengatakan berpikir pada dasarnya merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan berupa pengetahuan.

Dengan kata lain, berpikir yang benar adalah proses berpikir yang bisa menghasilkan pengetahuan sehingga bisa menuntun orang dari tidak tahu menjadi tahu. Syukur-syukur bisa menghasilkan ilmu pengetahuan sebagai level tertinggi hasil pemikiran manusia.

Berpikir ala mitos memang dipelihara. Orang yakin dengan sesuatu meski dia tidak bisa menunjukkan jawaban logis dan empiris atas keterkaitan sesuatu tersebut. Orang yang mengatakan pandemi Covid-19 hanya bagian dari konspirasi juga menunjukkan cara berpikir ala mitos.

Konspirasi seperti menjadi makhluk supranatural yang tidak bisa diverifikasi tapi digunakan menjawab fenomena pandemi. Seorang teman begitu percaya diri menulis status di media sosial bahwa di tempat ibadah tidak bakal ditemukan kasus Covid-19, padahal faktanya tempat ibadah juga bisa menjadi tempat penyebaran virus.

Teman saya ini lebih suka membangun khayalan sebagai jawaban ketimbang berpijak pada fakta empiris. Pemahaman seperti ini yang kemudian mendorong orang cenderung mengabaikan bahkan menentang protokol kesehatan saat beribadah. Pemikiran yang sebenarnya bertentangan dengan substansi ajaran agama.

Kata seorang teman, Covid-19 tak kenal agama, bisa menyerang siapa saja, di mana saja. Kaum elite yang begitu percaya diri membangun kesan di panggung depan juga bagian dari cara berpikir ala mitos karena bisa jadi apa yang disampaikan di depan panggung tak berhubungan sama sekali dengan dunia nyata (dunia belakang panggung).

Ia membangun mitos atas sesuatu agar orang lain mempercayai apa yang mereka sampaikan. Mitos adalah bagian dari pemikiran masa lalu tapi sebagian di antara kita masih loyal menikmatinya.

Mitos dan pola pikir era post truth (pasca kebenaran) sebenarnya sebangun dan sejalan. Kedua-duanya tidak mempercayai hal logis dan empiris. Lebih percaya pada sesuatu yang diyakini. Cara berpikir mitos (dan post truth tentunya) tak bisa menghasilkan pengetahuan karena tidak lahir dari cara berpikir yang benar. Sebaliknya justru melahirkan sampah informasi…

Berita Terkait

Berita Terkini

Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?

Opini ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

Melawan Begal Digital

Esai ini ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia Group, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 22 September 2021.

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.

Pitulungan

Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seni Memasarkan PPKM Level 4

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Sabtu 7 Agustus 2021, ditulis oleh Mohammad Eko Fitrianto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.