Tutup Iklan
Salah satu warga Boyolali memanfaatkan air Sumur Kridanggo peninggalan Belanda untuk mencuci muka, Sabtu (2/11/2019). (Solopos/Tamara Geraldine)

Solopos.com, BOYOLALI -- Di kawasan Simpang Siaga (Patung Kuda) di jantung kota Kabupaten Boyolali terdapat satu sumur timba yang sampai saat ini airnya masih dimanfaatkan warga.

Letaknya di dekat prasasti Sangga Buwana. Meski berada di jantung kota dan di tengah-tengah persimpangan jalan, sumur ini masih dimanfaatkan warga, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun oleh para pedagang makanan/minuman di sekitarnya.

Mereka setiap hari mengambil air di sumur itu dengan cara menimba manual. Kapan pun memerlukan, mereka datang dan mengambil air di sumur tersebut tanpa ada yang melarang.

Boyolali Undercover: Muda-Mudi Pacaran Ngamar di Hotel Part 1

Tidak diketahui pasti siapa yang membuat sumur tua itu. Bambang Widiasto Nugroho, tokoh masyarakat di wilayah yang masuk Kampung Gudang, RT 003/RW 004, Siswodipuran, Boyolali, tersebut mengatakan sumur di jantung kota Boyolali itu sudah ada sejak lama.

Menurut Bambang, sumur itu merupakan peninggalan dari zaman penjajahan Belanda. Pada waktu itu, kawasan Simpang Siaga adalah lapangan untuk sarana olahraga warga sekitar.

Di dekat sumur tersebut ada sarana Mandi Cuci Kakus (MCK) yang digunakan masyarakat untuk mandi setelah berolahraga. “Kalau orang sini menyebutnya sumur Kridanggo. Sebelum pembangunan Simpang Siaga ini, di sini adalah area olahraga yang diberi nama Sasono Kridanggo. Di sini dulu ada lapangan voli, lapangan bola, area bermain anak, dan masih banyak lagi,” kata dia saat ditemui Solopos.com di dekat sumur Kridanggo, Sabtu (2/11/2019).

Gamelan Ditabuh, Sekaten Solo Dimulai

Ia mengatakan saat pembangunan Simpang Siaga (Patung Kuda), para warga sekitar meminta untuk keberadaan sumur Kridanggo ini jangan sampai digusur.

Meski berada di jantung kota dan di tengah-tengah persimpangan jalan, sumur ini ternyata masih dimanfaatkan warga, baik rumah tangga atau para pedagang makanan/ minuman di sekitarnya.

Mereka setiap hari mengambil air dengan cara menimba. Kapan pun memerlukan, mereka datang dan mengambil air di sumur tersebut.

Di sisi lain, Bambang mengungkapkan sumur tersebut punya keunikan. Meski berada di lahan yang relatif tinggi, sumur itu menyimpan air dengan volume yang besar.

Dipanggil Senat UGM Jelaskan Plagiarisme, Rektor Unnes Mangkir

Jarak permukaan air sumur hanya sekitar 8 meter dari permukaan tanah. Bahkan pada musim penghujan ketinggian permukaan airnya naik menjadi sekitar 4 meter dari permukaan tanah sehingga memudahkan warga saat menimba airnya.

Selain itu, airnya tidak pernah surut meski pada musim kemarau. Tidak diketahui secara pasti kapan sumur itu dibangun dan siapa yang membangun.

Warga sekitar mengatakan sumur itu sudah ada pada zaman Belanda dan tetap lestari sampai saat ini,” kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten