Kategori: Klaten

Misteri Makam Kuno di Kemalang Klaten Selamat dari Erupsi Merapi, Punya Siapa Ya?


Solopos.com/Newswire

Solopos.com, KLATEN – Bangunan makam kuno berdiri tegak di kawasan wisata Deles Indah, Desa Sidorejo, Kecamatan Klaten, Jawa Tengah. Hanya ada satu makam di wilayah terpencil yang berada di atas bukit kawasan rawan bencana (KRB) Gunung Merapi itu.

Bukit tersebut berjarak sekitar 300 meter dari Pesanggrahan Raja Surakarta, Susuhunan Pakubuwono (PB) X. Akses ke lokasi berada di tepi jurang menuju jalur pendakian Sapu Angin dengan ketinggian 800-1.300 mdpl.

Kuburan tunggal dengan cungkup makam itu dikelilingi pagar tembok. Di sekelilingnya ditumbuhi rumput ilalang yang rapat. Tidak ada jalur khusus menuju ke makam kuno di kawasan Klaten itu, kecuali menyibak ilalang.

Baca juga: Hilang Misterius, Orang Pintar Dikerahkan Cari Luweng di Pracimantoro Wonogiri, Hasilnya? 

Tidak ada papan nama atau keterangan apapun di makam kuno tersebut. Menurut cerita yang berkembang, masyarakat mengenal makam itu sebagai makam Mloyopati atau makam Ki Ajar Merta Hyang Gatra.

"Dikenal warga di sini sebagai makam Ki Ajar Merta Hyang Gatra. Hanya satu makam itu sejak dulu," tutur juru kunci makam, Marno Sumarmo, 65, kepada detikcom di rumahnya, Minggu (28/2/2021).

Ki Ajar Merta adalah kerabat Ki Ageng Mangir di masa Mataram. Dia melarikan diri dari peperangan bersama seorang sahabatnya yang kemudian di makamkan sekitar tempat tersebut.

"Kedua orang itu lari dari peperangan. Satu di makamkan di Dusun Deles, satu di sini (Dusun Kembangan) dan dua orang ini bersahabat," lanjut Marno.

Baca juga: Sempat Dikira Bayi Hantu, Bayi di Makam Klaten Mau Diadopsi

Legenda

Marno menambahkan, kedua orang itu melarikan diri saat terjadi peperangan antara Mangir dengan Mataram. Ki Ajar meninggal di lokasi dan tidak ada kaitannya dengan Pesanggrahan raja Pakubuwono (PB) X.

"Ini tidak ada kaitannya dengan Pesanggrahan PB X. Sebab jauh sebelum itu dan konon Ki Hajar ini prajurit," sambung Marno.

Makam kuno di Klaten itu dulu tidak dipagar tembok. Pagar tembok dibangun sekitar tahun 1990-an. "Dulu hanya dipagar bambu. Tapi setelah ada warga dari Warungboto, Yogya datang ke makam kemudian dibangun," jelas Marno.

Makam kuno itu dianggap sebagai ikon budaya yang dimeriahkan dengan kirab hasil bumi. Kirab setiap bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa dimulai dari Pesanggrahan ke makam.

"Kirab dulu rutin setiap Ruwah namanya kirab Wulu Pawetu. Saat acara tidak boleh di wilayah di atas makam, musik Hadrah harus di bawah lokasi makam, tapi setelah ada Covid-19 kirab tidak diadakan," tambah Marno.

Baca juga: Mobil Dinas Gibran Wali Kota Solo Cuma Innova Putih, Bekas Dipakai Istri Rudy

Selamat dari Erupsi

Makam kuno tersebut berada di wilayah KRB Merapi di Klaten. Namun, makam itu tidak pernah terdampak erupsi Merapi.

Makam tersebut bahkan selamat dari terjangan awan panas erupsi Merapi pada 2010 lalu. Awan panas hanya sampai di hutan Pinus seberang jalan dari makam.

"Banyak pohon Pinus di hutan perbatasan dusun hangus tapi awan panas tidak sampai di makam dan dusun. Padahal hutan Pinus hanya di seberang makam," pungkas Marno.

Baca juga: Makan Korban di Sragen, Pengobatan Sangkal Putung Bisa Digugat?

Makam Mlayapati

Sementara Kades Sidorejo, Gotot Winarso mengatakan legenda yang ada sejak dulu, makam itu dikenal sebagai makam Mlayapati atau makam Ki Ajar Merta Hyang Gatra. Prajurit yang melarikan diri.

"Jadi Ki Hajar ini dulu prajurit yang melarikan diri sampai ke Dusun Kembangan. Mendirikan padepokan di puncak Gunung Merapi," ungkap Gotot.

Menurut Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Pemkab Klaten Yuli Budi Susilowati menurut catatan Dinas makam itu sudah masuk data tahun 2012. Makam itu dikenal sebagai makam Mlayapati.

"Itu makam Kiai Mlayapati dan terdata tahun 2012. Cuma sejarah makam itu tidak ada sejarah yang jelas, yang ada hanya legenda-legenda warga," jelas Yuli.

Share
Dipublikasikan oleh
Chelin Indra Sushmita