Pengunjung di gapura pintu masuk kompleks Keraton Agung Sejagat Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Purworejo, Jawa Tengah, Selasa (14/1/2020). (Solopos-Anis Efizudin)

Solopos.com, SLEMANToto Santoso Hadiningrat yang mengaku sebagai Raja Keraton Agung Sejagat (KAS) di Purworejo tinggal di Godean, Sleman. Polisi telah menggeledah kontrakan Toto pada Rabu (15/1/2019) dinihari.

Sebanyak empat sepeda motor dan satu mobil Mercedes Benz C-Class terparkir di sebelah kiri rumah bercorak kolonial itu. Di tempat yang sering dijadikan ritual kanuragan itu selama ini dijadikan markas besar Keraton Agung Sejagat. Rumah di Jl Berjo Pare Dusun Ngabangan, Desa Sidoluhur, Kecamatan Godean, Sleman, itu sebenarnya milik Sutarjo yang dikontrak oleh Toto.

Pengurus kontrakan, Tejo, 46, menjelaskan Toto sudah mengontrak di rumah milik keluarganya sejak 2018. Namun saat mengontrak, Toto tidak menggunakan namanya sendiri, tetapi atas nama orang lain. "Selama ini adanya kegiatan malam hari," ungkap Tejo.

Menurut Tejo, lima bulan terakhir, setiap hari ada anggota yang berjaga secara bergantian dengan memakai seragam. Warga di sekitar rumah tersebut sebenarnya sudah menaruh curiga terhadap keberadaan Toto dan sejumlah orang di dalamnya. Namun, karena Toto berkilah bahwa aktivitas tersebut merupakan syuting angkringan, kecurigaan warga hilang dengan sendirinya.

Salah satu tetangga Toto, Deki Rinawan, 31, sempat sudah menaruh curiga atas aktivitas yang dilakukan Toto bersama anggotanya karena dilakukan pada malam hari dan mengganggu warga. Di mata Deki, Totok orang yang jarang bersosialisasi dengan warga.

"Dia [Totok] bahkan tidak pernah ikut gotong royong, justru seringnya di dalam rumah membuat kegiatan bersama dengan anggotanya," ujar Deki, Rabu (15/1/2020).

Meski begitu, masyarakat sekitar tidak melakukan tindakan apapun dan hanya memantau aktivitas Toto. Warga lainnya, Niken Puji Lestari, mengaku bisa bernafas lega setelah penggeledahan dan penangkapan Toto serta istrinya. Pasalnya, dia sering terganggu dengan bau menyengat dupa dari sesajen yang berasal dari kontrakan Toto.

"Apalagi rumah kami sebelahan dengan dia [Toto Santoso], baunya sampai masuk rumah dan kami menjadi terganggu," ungkap Niken.

Intaningrum, warga Dusun Kwagon, Sidorejo, Godean, Sleman, mengatakan warga menganggap kegiatan di tempat itu sebagai kegiatan koperasi dari luar desa. Kegiatan yang diadakan di rumah kontrakan Toto di Angkringan Ambu cukup sering dilakukan. Tempat itu tak pernah sepi orang dan hampir tiap akhir pekan ada pertemuan. "Kami tahunya itu koperasi," kata Intaningrum.

Dia mengaku tempat itu memang sering menyita perhatiannya karena acapkali ada pertemuan yang orang-orangnya membawa mobil-mobil mewah. Kendaraan-kendaraan itu terparkir berjejer di pinggir jalan.

Tempat itu juga lumayan cepat berkembang. Dari semula terkesan hanya jadi tempat pertemuan para anggota koperasi, lantas membuka usaha angkringan. Baru saja cabang usaha baru itu buka, layanannya sudah nongol di menu aplikasi pesan makanan online. "Kan di daerah sini masih jarang yang buka usaha makan terdaftar layanan online. Termasuk melek teknologi pengelolanya," kata dia.

Belum lama ini Intan mengaku melihat orang-orang yang berkegiatan di situ dengan baju-baju prajurit. Dia mengira para anggota koperasi di tempat itu sedang mengikuti kontes atau hendak pentas. Tidak tahunya, pemakaian baju-baju tradisional itu bagian dari kegiatan seremonial Kerajaan Agung Sejagat.

Tertutup

Kasi Pemerintahan Balai Desa Sidoluhur, Adi Arya Pradana, menjelaskan saat penggeledahan Toto yang memiliki nama asli R Toto Santoso (tertulis di KTP) juga turut dihadirkan di lokasi beserta tangan kanannya, Bandi.

Menurut Adi, tempat tinggal Toto merupakan rumah yang dikontrak oleh Bandi, warga asal Sidoagung. Sejak 2018, Adi curiga terhadap rumah yang awalnya dikontrak untuk mengajukan izin pendirian Koperasi Inkor itu. Namun, izin tidak diberikan lantaran dia mencurigai salah satu anggota KAS yang merupakan mantan anggota Jogja DEC, organisasi bentukan Toto.

Beberapa tahun lalu, Toto yang mengaku sebagai Dewan Wali Amanat Panitia Pembangunan Dunia untuk Wilayah Nusantara mendirikan ormas Jogja DEC di bawah naungan Word Development Committe (WDC). Organisasi itu, kata Toto, merupakan organisasi kemanusiaan dan tidak memandang etnis dan agama, lalu juga tidak berafiliasi dengan partai politik.

Kehadirannya di Indonesia, kata Toto Santoso, ingin mengubah kondisi bangsa Indonesia dan juga dunia yang dianggapnya sudah kritis dan berbahaya jika tidak segera ditangani serius. "Kami ingin menawarkan solusi bagi Indonesia, bekerja sama membangun negeri demi mencapai kesejahteraan," ujar Toto beberapa waktu yang lalu.

Totok mengklaim anggota Jogja-DEC di DIY sudah mencapai angka 10.000-an. Ormas yang diklaimnya sudah terdaftar di pemerintah itu menargetkan 500.000 anggota di empat kabupaten dan kota se-DIY.

Kemudian, setelah mendapatkan penolakan pada 2018, Toto kembali mengajukan izin tempat berkumpulnya Laskar Merah Putih di kediamannya. Namun, hal tersebut kembali ditolak lantaran berkas yang diajukan keasliannya disangsikan. "Serta stigma Laskar Merah Putih yang negatif di masyarakat," ujar Adi saat ditemui di Balai Desa Sidoluhur.

Toto nyatanya tidak putus asa. Ia tidak menyerah begitu saja dengan penolakan yang ia terima. Pada Juni 2019, Toto kembali mengajukan izin membangun usaha berupa angkringan, bernama Ambu.

Sebelum permasalahan ini muncul, kata Adi, pemdes telah curiga karena adanya ritual yang dilaksanakan oleh Toto dan pengikutnya. Namun saat ditanya, alasan mereka adalah syuting film bertema kolosal di angkringan.

Menurut Adi, angkringan Ambu yang diklaim milik Toto Santoso juga tergolong lengang dan hanya ramai oleh anggota KAS. "Pernah ada teman pura-pura menjadi pembeli, tetapi ditolak dengan alasan belum siap," ujar Adi.

Sekretaris Desa Sidoluhur, Kecamatan Godean, Fajar Nugroho, menyebutkan kecurigaan lain saat kirab manten salah seorang anggota KAS. Ia mengira awalnya merupakan tradisi Jawa seperti biasanya. "Namun dari segi pakaian dan lainnya ternyata kok bukan," kata Fajar.

Menurut Fajar, jumlah anggota Kerajaan KAS sekitar 300-an orang. Namun sebagian anggotanya bukanlah warga Sidoluhur.

Sumber: Harian Jogja


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten