Ilustrasi minayk goreng curah. (Freepik)

Solopos.com, SOLO – Pemerintah berencana melarang peredaran minyak goreng curah di pasaran mulai 1 Januari 2020. Alasannya, minyak curah berbahaya bagi kesehatan. Tapi, benarkah demikian?

Selama ini, banyak orang beranggapan kandungan gizi minyak curah jauh lebih rendah ketimbang minyak bermerek. Namun, harga yang lebih murah menjadikan minyak goreng curah sebagai pilihan utama masyarakat. Lantas, benarkah minyak curah tidak bergizi?

"Minyak yang dijual dengan merek, produsen sudah menambah dengan fortifikasi misalnya ada tambahan gizi. Minyak curah itu tidak ada tambahan, hanya kelapa sawit," ujar Medical Department Kalbe Farma, dr Dedyanto Henky Saputra, seperti dilansir Antara, Rabu (9/10/2019).

Minyak curah yang telah dipakai berkali-kali dan disaring hingga kembali bening. Kandungan lemak pada minyak tersebut menjadi tidak stabil karena telah berkali-kali dipanaskan.

"Struktur dari lemak semakin sering dipanaskan, rantainya tidak stabil atau dikenal sebagai minyak trans. Semakin dipanaskan lemak jadi tidak stabil. Kandungan lemak trans tinggi," papar Dedy.

Lemak trans bisa meningkatkan kolesterol jahat atau LDL yang memicu penyakit jantung serta risiko diabetes tipe 2. Sehingga mengonsumsi makanan yang digoreng dengan minyak yang telah berkali-kali dipakai jelas tidak sehat.

Meski demikian, sebenarnya minyak kelapa sawit disarankan dipakai untuk proses menggoreng. Sebab tidak ada ikatan rangkap yang bakal berubah menjadi lemak trans.

"Justru minyak yang ada ikatan rangkap tidak boleh untuk menggoreng. Semakin banyak ikatan rangkapnya pada saat dipanaskan akan mudah menjadi lemak trans," kata Dedy.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten