MIMBAR MAHASISWA: Ironi Program Kreativitas Mahasiswa
Kalis Mardi Asih
Mahasiswa Program Studi
Bahasa Inggris
Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret. (FOTO/Istimewa)

Bagi Anda, para mahasiswa perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS), pasti tidak asing dengan istilah program kreativitas mahasiswa (PKM). Program ini diselenggarakan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Ditjen Dikti Kemendikbud) untuk mengembangkan penalaran, daya pikir ilmiah serta kreativitas mahasiswa.

PKM meliputi lima jenis program yakni bidang penelitian (PKM-P)), bidang kewirausahaan (PKM-K), bidang pengabdian masyarakat PKM-M), bidang teknologi (PKM-T) dan bidang rekayasa (PKM-R). Tiap tahun, seluruh perguruan tinggi di negeri ini berkompetisi untuk mengirimkan PKM sebanyak-banyaknya. Pengirim karya terbanyak akan memperoleh rasa bangga tersendiri, lebih-lebih jika dapat menyabet medali emas sebanyak-banyaknya pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas).

Dua  pekan yang lalu, pengumuman PKM yang lolos dan didanai Kemendikbud telah dipublikasikan baik lewat surat resmi kepada rektor maupun laman Ditjen Dikti Kemendikbud. Sebanyak 7.045 karya dinyatakan lolos untuk didanai. Jika dihitung kasar dengan anggaran Rp10 juta tiap karya, berarti pemerintah mengeluarkan dana hampir Rp71 miliar. Dana ini belum terhitung untuk gagasan tulis (GT) dan artikel ilmiah (AI) yang masih dibuka pendaftarannya hingga akhir Maret.

Fenomena mahasiswa yang senang karena PKM-nya lolos dan didanai sudah biasa saya lihat selama hampir empat tahun saya menjadi pengurus harian organisasi keilmiahan di universitas. Namun, rasa senang para mahasiswa ini patut dicurigai mengingat uang Rp10 juta bukan uang yang banyak jika seseorang ingin secara sungguh-sungguh mengadakan sebuah kegiatan penelitian atau pengabdian masyarakat. Dibandingkan dengan proses birokrasi yang berbelit-belit, dana Rp10 juta tentu tidak seberapa.

Fakta yang kemudian saya dapati adalah ada mahasiswa yang lolos didanai hingga lima karya dalam satu periode. Yang lebih mengejutkan lagi, karya yang lolos tersebut ternyata telah lolos juga pada tahun sebelumnya, kemudian ia kirimkan lagi bahkan tanpa disunting sedikit pun. Si mahasiswa calon penerima dana ini kemudian dengan bangga berkata tidak akan menjalankan program sebagaimana mestinya karena ia bisa saja memakai laporan dan dokumentasi tahun lalu dan semuanya akan beres. Dana yang ia dapat dari lima karya yang lolos tahun ini akan dengan aman masuk ke kantong sendiri.

Menilik kasus di atas, kita dapat berangkat dari sebuah pemikiran yang logis bahwa bagaimana mungkin Ditjen Dikti Kemendikbud dapat melakukan proses seleksi yang valid apabila dalam waktu sebulan mereka harus menyeleksi lebih dari 20.000 karya yang beragam jenisnya. Sistematika yang dipakai untuk mekanisme pelaporan adalah laporan pertanggungjawaban di mana mahasiswa yang dapat memberikan dokumentasi dan perhitungan anggaran maka telah dianggap selesai.

Walaupun sebuah hal yang ironis, namun PKM sesungguhnya adalah sebuah cita-cita mulia untuk memberikan wadah bagi mahasiswa untuk berpikir ilmiah serta mengabdikan diri kepada masyarakat. Kita dapat membayangkan apabila setiap tahun ribuan gagasan ilmiah nankreatif dihasilkan oleh sebuah rahim ilmu pengetahuan bernama perguruan tinggi lewat budaya berpikir mahasiswa maka seharusnya persoalan-persoalan masyarakat dapat diatasi sedikit demi sedikit.

Program-program yang terintegrasi mulai dari penelitian, pengembangan teknologi, kewirausahaan, pengabdian masyarakat tentu bisa menjawab sebuah ungkapan kegelisahan WS Rendra (1978) dalam Sajak Sebatang Lisong, yakni: Diktat-diktat hanya boleh memberi metode, tapi kita sendiri yang musti merumuskan keadaan.

 

Beban Negara

Ada sebuah cerita menarik lainnya ketika saya dan kawan-kawan saya sedang melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di sekitar Keraton Kasunanan Surakarta. Masyarakat ternyata hanya mau berkumpul dan belajar bersama untuk diedukasi jika mendapat sejumlah uang yang jelas nominalnya beserta bingkisan. Pola berpikir pragmatis ini menunjukkan betapa kegiatan mengedukasi masyarakat adalah  hal yang tidak mudah.

Kegiatan bernegosiasi berkali-kali ini bisa saja tidak membuat para mahasiswa bersemangat untuk mengabdi, namun justru terjebak pada pragmatism berpikir pula, yakni: konten edukasi tak penting, yang penting masyarakat mau berkumpul sebentar kemudian kita dapat mengumpulkan bahan untuk dokumentasi laporan pertanggungjawaban.

Selanjutnya, kita juga harus bertanya-tanya kembali tentang ribuan karya yang dihasilkan mahasiswa tiap tahun itu. Mengapa peringkat Indonesia dalam publikasi ilmiah masih jauh di bawah sehingga tahun lalu sempat menggegerkan jagat pendidikan tinggi? Tentu sistem yang menjadi jawabannya. Pragmatisme berpikir menghasilkan tujuan-tujuan praktis yang akan terwujud dengan budaya-budaya hidup praktis.

Sayangnya, mengapa budaya pragmatis ini justru lahir dari sebuah pusat keilmuan bernama perguruan tinggi yang menjunjung tinggi budaya berpikir ilmiah dengan mengedepankan aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi dari setiap tindakan?

Sebagai pegiat organisasi keilmiahan, saya hanya dapat berharap bahwa perubahan dalam ironi program kreativitas mahasiswa ini dapat dimulai dari mahasiswa sendiri. Adalah hal yang memalukan apabila mahasiswa yang berikrar sebagai guidance of value justru mengingkari nilai-nilai kemanusiaan dan sosial budaya masyarakat. Adalah hal yang memalukan apabila mahasiswa yang meneriakkan untuk melawan korupsi justru menjadi pribadi yang korup.

Sistem audit PKM seharusnya bersih sejak dari tingkat universitas. Bahkan jika diperlukan, tiap fakultas menyelenggarakan seleksi terhadap semua karya yang masuk dan kemudian disaring di tingkat universitas. Dengan demikian, seleksi terhadap karya tidak hanya terpusat di Ditjen Dikti Kemendikbud. Pihak universitas juga harus dapat bersifat kooperatif terhadap persoalan-persoalan masyarakat sehingga tidak hanya bangga dengan kuantitas karya untuk bersaing dengan universitas lainnya.

Hal yang lebih membanggakan adalah berita tentang universitas-universitas yang entah kapan dapat menyelesaikan persolan-persoalan masyarakat, bukan justru menjadi penghasil terbesar sarjana yang tak kompetitif sehingga menjadi tambahan beban negara. Semoga!



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom