Milenial Tak Malu Lagi Gandrungi Dangdut Koplo dan Campursari

 Solopos Digital Media - Panduan Informasi dan Inspirasi

SOLOPOS.COM - Solopos Digital Media - Panduan Informasi dan Inspirasi

Solopos.com, SOLO — Kita bisa memilah genre musik dengan stempel “berkelas” untuk disukai. Tapi soal bunyi dan suara, adalah urusan telinga. Malu mengakui, tapi lama-lama ikut jatuh cinta juga.

Seperti kegandrungan generasi milenial pada dangdut koplo dan campursari. Mereka meramu musik akar rumput tersebut agar sesuai selera. Local pride menjadi identitas baru yang diperbincangan di skena indie maupun media sosial belakangan ini.

“Dulu orang seperti rasis kalau membahas soal dangdut. Mereka yang suka koplo dipandang sebelah mata. Ada semacam kasta yang membuat saya jadi malu mengakui,” kata Laras, 28, salah satu penikmat musik koplo saat diwawancara belum lama.

Setahun terakhir ia merasa lebih bebas memilih. Alunan koplo terdengar di mana-mana. Bahkan di kafe yang biasa lebih sering memutar folk atau pop.

Disusul anak muda yang ramai-ramai menggarap lagu koplo dengan rekayasa digital atau dikenal metode remix. Tak tanggung-tanggung, beberapa bahkan mengubah lagu indie yang edgy menjadi musik baru bernafaskan dangdut.

Duo broman asal bandung Maulfi Ikhsan, 26, dan Tendi Ahmad Hidayat, 26, salah satunya. Tembang kritis Efek Rumah Kaca berjudul Sebelah Mata tak luput dari tangan mereka. Dengan iringan koplo, lirik satire tersebut menjadi materi musik yang juga asyik disambut goyangan.

Untuk kali pertama, Feel Koplo tampil di Solo Kamis (27/6/2019) malam. Mereka membawa pukulan kendang dan napas dangdut lainnya ke Music Room (Musro) The Sunan Hotel Solo yang lazim dengan lagu-lagu Barat.

Konsep anyar bertajuk Musro Van Java ini diapresiasi. Penonton yang mayoritas anak muda membeludak. Di bawah lambu disko, para clubbers khusyuk menikmati aransemen koplo.

Maulfi bahkan sudah mempersiapkan tembang andalan yang membuat penonton sing along sambil bergoyang. Stasiun Balapan karya penyanyi campursari Didi Kempot dilempar sebagai karya spesial di Kota Bengawan.

“Setiap tempat kami lemparkan lagu yang berbeda-beda sesuai dengan crowd-nya. Melihat bagaimana antusias yang datang nanti. Ada satu lagu spesial, Stasiun Balapan yang kami persiapkan,” kata dia saat jumpa pers sebelum pentas.

Maulfi tak pernah menduga respons penikmat musik Indonesia begitu besar pada remix garapannya dan Tendi. Mereka baru resmi membentuk Feel Koplo Oktober 2018, tapi showcase tak pernah sepi. Festival musik indie di Jakarta hingga gigs kecil-kecilan kampus selalu membuatnya tergeleng-geleng. Tak ada yang jaim, pria wanita menyambut dengan goyang riang.

Maulfi memang penyuka musik dangdut sejak masih kecil. Beranjak dewasa, ia mulai resah. Selera musiknya dipandang sebelah mata oleh rekan-rekan seusia. Hingga akhirnya membentuk orkes dangdut untuk tampil di sekolah-sekolah Bandung, berlanjut proyek Feel Koplo bareng Tendi.

Tak sekadar remix, mereka juga riset kecil-kecilan dengan rajin mendengarkan Orkes Melayu (OM) Sera untuk menyamakan persepsi. “Awalnya Feel Koplo main di Halloween Party yang dibuat oleh temen. Responsnya bagus, temen yang dulu kayak ‘alergi’ sama dangdut juga antusias. Akhirnya bikin remix lagu-lagu lain, kemudian viral. Kami jejali lagu-lagu lama juga agar semua kenal lagu lama,” kata dia.

Komunitas Penggemar

Tak hanya dangdut, lagu-lagu campursari dan Bahasa Jawa pun demikian. Anak muda Solo ramai-ramai merapal lagu Didi Kempot. Apalagi setelah adanya video viral nonton bareng Didi di Taman Balekambang Solo saat libur Lebaran awal Juni. Sampai akhirnya dibentuk komunitas penggemar yang diberi nama Solo Sad Bois Club.

Kelompok yang memberi gelar Lord alias Godfather of Broken Heart kepada Didi Kempot ini diresmikan saat Musyawarah Nasional pertama di Rumah Blogger Indonesia (RBI) Solo pada pertengahan Juni. Disusul aktifnya akun Instagram paguyuban Solo Sad Bois Club bernama Sobat Ambyar. Diikuti 1.003 follower, SobatAmbyar kerap mengunggah materi foto atau video yang berkaitan dengan Didi Kempot.

Kepopuleran Didi Kempot bahkan sampai ke telinga duo musikus muda asal Belanda, Ciao Lucifer. Saat manggung di Tembi Rumah Budaya, Kamis (27/6/2019), Marnix Dorrestein (gitar, vokal), dan Willem Wits (grum, dan vokal) membawakan lagu Bojo Anyar dengan aransemen musik pop yang powerfull.

“Karena populer [Bojo Anyar], kami mencoba memainkannya. Bagian dari kolaborasi musik lokal Indonesia dengan Belanda. Latihannya hanya beberapa hari,” terang mereka saat jumpa pers sebelum konser di Lokananta Solo, Senin (1/7/2019).

Didi mengatakan selama 23 tahun berkarya, gerakan anak muda tersebut paling berarti baginya. Sosok yang mengaku telah melahirkan 700an judul ini mengaku trenyuh melihat mereka sangat menikmati dan hafal lagu-lagunya.

Etnomusikolog dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Aris Setiawan, Senin, mengibaratkan musik seperti gerbong kereta. Mereka berangkat pada satu titik, kemudian kembali pada titik awal.

“Awal kemunculan, Bahasa Jawa dicibir, sekarang dicintai. Kalau pergeseran selera musik anak muda ke lagu-lagu Bahasa Jawa dikarenakan kedekatan kultur musikal dan bahasa,” kata dia.

Karya Didi Kempot menurutnya sangat berpengaruh. Tetapi gejala menyukai lagu-lagu Bahasa Jawa dimulai ketika bahasa daerah dikawinkan dengan gaya musikal musik populer. Dua biduan koplo Via Vallen dan Nella Kharisma juga punya peran penting ikut memopulerkannya.

“Akibatnya pada satu sisi, lagu-lagu Didi Kempot mengalami perkembangan yang baik dalam konteks selera anak muda. Namun di sisi lain, mengalami penurunan ritme dalam gaya campursari. Lagunya kemudian lebih ‘berdangdut’ dibanding dengan bergaya ‘Jawa’. Sebagaimana gaya anak muda, membutuhkan keringkasan dan fleksibilitas,” kata dia.


Berita Terkait

Berita Terkini

Jebakan Pinjaman Online Meresahkan Pelaku UMKM

Praktik pinjaman yang menjebak bukan hanya dilakukan pinjaman online ilegal, tapi juga oleh sebagian fintech peer-to-peer (P2P) lending resmi di bawah naungan Otoritas Jasa Keuangan.

10 Berita Terpopuler: Mustakim Lari Salatiga-Klaten, Klaster PTM Solo

Kabar tentang Khoirudin Mustakim, yang berlari sekitar 58 kilometer (km) dari Salatiga hingga rumahnya di Klaten menjadi berita terpopuler di Solopos.com.

Waduk Pidekso Wonogiri Diklaim Tahan Gempa Megathrust

Waduk Pidekso di Giriwoyo, Wonogiri, diklaim tahan gempa megathrust karena fondasinya tidak dibangun dengan beton.

PPKM Jawa-Bali Diperpanjang Dua Pekan, 9 Daerah Level 1

Pemerintah kembali memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berbasis level di Jawa-Bali hingga dua pekan ke depan.

Sst.. Ada Jembatan 'Siluman' di Cianjur, Ini Penampakannya

Jembatan Leuwi Dahu di Kampung Cibitung, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat dijuluki sebagai jembatan 'siluman'.

Aturan Baru PPKM Cek, Berlaku Mulai Hari Ini!

Pemerintah menyesuaikan beberapa aturan terkait PPKM brlevel yang diterapkan di Jawa-Bali untuk menekan laju persebaran Covid-19.

Sedih! SKTM Ditolak, Pasutri di Brebes Tak Bisa Ambil Bayi di RS

Kisah sedih dialami keluarga di Brebes yang tidak bisa membawa pulang bayinya dari rumah sakit setelah pengajuan SKTM ditolak.

Permintaan Pengepul Anjlok, Ikan Nila Boyolali Dijual Siap Santap

Para pembudidaya ikan nila di Boyolali berinovasi dengan menjual nila hasil olahan yang siap santap demi mempertahankan bisnis.

Prediksi PSG Pati Vs PSIM : Laskar Mataram Waspadai Debut Joko Susilo

PSIM Yogyakarta bakal menjamu PSG Pati dalam lanjutan pekan keempat Liga 2 di Stadion Manahan pada Selasa (19/10/2021) pukul 15.15 WIB.

Pesona Waduk Pidekso Wonogiri: Sarana Irigasi hingga Wisata Air

Waduk Pidekso di wilayah Giriwoyo, Wonogiri, menjadi solusi air bersih di bagian selatan dan berpotensi menjadi objek wisata.

11 Jam Tuntaskan Nazar Lari Salatiga-Klaten, Mustakim Sujud Syukur

Khoirudin Mustakim, pesilat peraih medali emas PON XX Papua asal Klaten, Jawa Tengah (Jateng) menuntaskan nazar berlari dari Salatiga-Klaten.

Museum Purba Klaster Dayu Karanganyar Sudah Dibuka Lur

Objek wisata Museum Purba Dayu di Karanganyar kembali dibuka untuk pengunjung mulai 16 Oktober 2021.

Rugi Bandar! Sawah di Sragen, Grobogan & Rembang Menyusut Jadi Industri

Sawah lahan pertanian produktif di wilayah Sragen, Grobogan, serta Rembang terus menyusut beralih menjadi kawasan industri.

Kaesang dan Gibran Serukan Evaluasi, Ini Respons Pelatih Persis Solo

Menuut pelatih Eko Purdjianto, Persis Solo tidak seharusnya kemasukan di babak kedua karena pelatih sudah mengubah taktik dan strategi.

Tak Ada Honor, Perlintasan KA di Bedowo Sragen Tak Dijaga Petugas

Perlintasa kereta api (KA) di wilayah Dukuh Bedowo, Desa Jetak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, tidak dijaga petugas karena tidak ada honornya.

Hebat! Atlet Paralayang Sukoharjo Sabet 4 Medali PON

Atlet paralayang asal Sukoharjo, Jawa Tengah, memborong empat medali di ajang PON Papua 2021.