Messi
Suwarmin (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO — Messi. Nama lengkapnya Lionel Andres Messi. Ia kini berusia 33 tahun. Mahabintang sepak bola Barcelona dan tim nasional Argentina ini adalah salah seorang pemain sepak bola terbaik di dunia sepanjang massa. Mungkin memang yang terbaik.

Salah satu bukti yang paling sahih adalah gelar pemain terbaik dunia atau Ballon d’Or yang enam kali dia raih. Dia juga meraih penghargaan sepatu emas atau pemain yang paling sering mencetak gol di Eropa sebanyak enam kali, tiga kali di antaranya diraih secara berturut-turut.

Dia mempunyai banyak rekor yang pemain manapun akan sangat sulit mendekati. Selama 10 musim berturut-turut dia mencetak minimal 40 gol dari tahun 2009  hingga 2019. Pernah mencetak minimal 10 gol dalam kurun waktu 14 musim beruntun. Masih banyak lagi rekor lainnya.

Sudah lebih dari satu dekade setiap akhir pekan Messi menghibur penikmat sepak bola di seluruh dunia dengan aksi dribling atau tendangan bebas yang menawan, atau gol-gol yang sering kali terlihat ajaib. Hanya bintang Portugal Christiano Ronaldo yang paling sering didekatkan dengan prestasi individual Messi.

Orang-orang terdekatnya mempunyai pujian khusus kepadanya. Pelatih Manchester City Pep Guardiola yang pernah membesutnya selama empat musim di Barcelona menyebut hanya Messi satu-satunya pemain sepak bola di dunia yang sanggup membawa bola lebih cepat daripada saat berlari biasa.

Seniornya di tim nasional Argentina, Diego Armando Maradona, mengatakan tak pernah melihat pemain manapun mengontrol bola sebaik Messi mengontrol bola. Para penggemarnya menjuluki dirinya sebagai dewa sepak bola.

Sering kali pula disebut ”alien”, pemain dari planet lain yang berkelebat di lapangan di tengah-tengah manusia bumi. Disebut pula dengan istilah GOAT, the greatest of all time. Banyak komentator dan pundit atau analis sepak bola dunia memuji setinggi langit.

Komentator terkenal asal Inggris, Ray Hudson, beberapa kali menangis menyaksikan keindahan permainan atau gol Messi. Begitulah. Messi bukan alien. Bukan dewa. Dia manusia biasa yang bisa memanjat prestasi hingga setinggi langit, tetapi bisa pula terpuruk dan terhinakan.

Dia pernah muda, pernah berjaya, tetapi seperti manusia yang lain, usia tak pernah bisa ditipu. Dia kini menapaki usia senja di lapangan yang membesarkan namanya. Dia sudah semakin jarang memperlihatkan aksi magis. Dia lebih sering berjalan-jalan di lapangan, lalu beraksi beringas saat diperlukan.

Itu pun tidak cukup. Pada pertengahan Agustus lalu, sekali lagi Messi dipermalukan di panggung yang biasa mengelu-elukan namanya. Timnya, FC Barcelona, dikalahkan Bayern Munchen 2-8 di perempat final Liga Champions.

Sebuah rekor kekalahan terbesar Barcelona. Bayern akhirnya menjadi juara di laga tersebut. Barcelona yang terlihat tua dan keropos hancur saat menghadapi mesin modern Bayern yang terorganisasi secara rapi. Tak lama kemudian, Messi mengumumkan kepada publik bahwa dia ingin pergi meninggalkan Barcelona, klub yang dia huni sejak usia 12 tahun, klub yang pernah membiayai perawatannya karena mempunyai masalah hormon pertumbuhan.

Dia merasa bisa pergi melenggang tanpa fee transfer. Rupanya dia keliru. Barcelona dan La Liga tentu saja tak mau kehilangan aset berharga dengan melepas sang bintang begitu saja. Manajemen klub dan pengelola kompetisi La Liga berpendapat klausul pelepasan berharga 700 juta Euro masih berlaku.

Angka itu kurang lebih setara dengan dengan Rp12 triliun. Angka yang fantastis dan tidak mungkin dijangkau klub manapun di dunia. Selama masa pandemi Covid-9, klub-klub sepak bola dunia, tanpa kecuali, merasakan pukulan finansial yang tidak kecil.

Pelarangan suporter ke stadion menjadi pukulan yang paling mematikan. Tribun penonton kosong, sponsor berguguran. Sudah pasti, angka Rp12 triliun untuk seorang pemain sepak bola, termasuk seorang Messi sekalipun, sangat tidak masuk akal.

Messi butuh waktu 20 hari untuk berbicara dengan media setelah petaka 2-8 di Lisbon  itu. Dia merasa dikhianati. Dia merasa dihujat. Demi klub dan keluarganya, dia akhirnya memilih bertahan di Barcelona.

Jadi, musim depan, para penggemar sepak bola di seluruh dunia masih melihat Messi dengan seragam Barcelona. Entah bagaimana nanti jadinya pola hubungan dengan sang pelatih baru, Ronald Koeman.

Usia

Drama Messi adalah drama kehidupan, kegemilangan dan kegagalan diperjalankan di antara manusia. Orang bisa belajar kehidupan di mana pun. Orang bisa mencari makna seperti itu di jalanan, di lapangan bola, atau di lembar-lembar kertas kerja.

Orang bisa hebat luar biasa di satu lapangan, tetapi bisa gagal terpuruk di lapangan yang lain. Orang bisa dielu-elukan bak dewa. Waktu bisa mengubah segala pujian itu menjadi hinaan pada kesempatan yang berbeda.

Messi memang nyaris sempurna sebagai seorang pemain sepak bola. Dia juga banyak dikritik karena miskin prestasi internasional. Dia “hanya” mengantar Argentina jadi juara Piala Dunia junior tahun 2005, lalu bersama Juan Roman Requelme membawa Tim Tango meraih juara Olimpiade Beijing 2008.

Selebihnya, prestasi Messi bersama Argentina hanya mentok menjadi runner up atau finalis. Publik masih ingat tangis Messi di akhir final Piala Dunia Brasil 2014, saat dikalahkan Jerman 0-1. Empat tahun kemudian, Messi kembali gagal di Piala Dunia Rusia 2018.

Kali ini lebih pahit, Messi gagal membawa timnya menuju perempat final. Di antara Piala Dunia itu, Messi gagal membawa Argentina juara Copa America dalam dua final berturut-turut, yakni tahun 2015 dan 2016. Dua-duanya kalah melalui adu tendangan penalti melawan tim yang sama, yakni Chile.

Messi relatif jarang marah di lapangan bagaimanapun perlakuan pemain lawan kepadanya. Dia pun selalu menata kalimatnya dengan baik saat di depan media. Mungkin karena menara prestasinya yang segunung membuat dirinya menjadi sosok yang kurang tegar menghadapi kekalahan.

Dia membiarkan orang lain mengambil tanggung jawabnya berbicara di depan media setelah Argentina kalah di final Piala Dunia atau setelah Barcelona dibantai Bayern. Messi beberapa kali mengatakan pensiun dari tim nasional, tetapi akhirnya kembali lagi berseragam Albiceleste, julukan tim nasional Argentina.

Entah bagaimana dengan Piala Dunia 2022 di Qatar nanti. Kini Messi kembali akan bergabung dengan kawan lama dan kawan barunya di FC Barcelona setelah sempat menyatakan akan pergi. Sudah pasti Messi belum akan berhenti bermain.

Sisa-sisa masa kejayaannya sesekali masih bisa dinikmati. Waktu nanti yang akan menjawab sampai kapan pendulum prestasinya akan berhenti karena usianya yang terus merambat naik….



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom