Meski Pandemi, Jangan Tunda Pengobatan Kanker Pada Anak
ilustrasi (Freepik)

Solopos.com, SOLO–Apabila seorang anak dengan kanker terinfeksi Covid-19, ia harus menunda terlebih dahulu terapi kankernya untuk mengobati Covid-19. Padahal, pengobatan untuk pasien kanker tidak bisa ditunda.

Penundaan terapi bagi anak dengan kanker bisa terjadi apabila menderita Covid-19 dengan gejala. Penundaan ini bisa berlangsung hingga 14 hari. Padahal, pasien leukemia misalnya harus menjalani kemoterapi setiap pekan. Hal serupa juga berlaku pada jenis tumor padat lainnya.

“Tidak baik untuk leukemia karena setiap pekan harus kemoterapi. Tumor padat juga sama. [Apabila ditunda] kami berharap tumornya tidak menyebar,” kata Kepala Bidang Medis RS Kanker Dharmais, Haridini Intan S. Mahdi, dalam talkshow virtual yang digelar Satgas Penanganan Covid-19, Senin (15/2/2021).

Baca Juga: Minta Liga Segera Bergulir, Jokowi Pantau Langsung…

Selama hampir setahun pandemi, RS Kanker Dharmais menemukan ada 6 anak dengan kanker terkonfirmasi positif Covid-19 dari 284 anak baik lama maupun baru pada periode Maret hingga Desember 2020. Lalu, ditemukan lagi empat anak pada Januari 2021.

Intan menceritakan pada awal pandemi, akses anak terhadap layanan kemoterapi sempat terhambat akibat adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hal ini terlihat dari menurunnya jumlah kunjungan pasien saban harinya.

Namun, begitu PSBB dicabut, banyak ditemukan pasien kanker dengan kondisi kronis. Ia mencontohkan pasien kanker yang semula ada di stadium 1 atau 2 naik menjadi stadium 3 atau 4. Padahal, seorang anak dengan kanker yang diobati pada stadium awal, peluang kesembuhan mencapai 80 persen.

Baca Juga: Inspiratif, 20 Perempuan Donor Plasma Konvalesen

“Ada yang harus kemoterapi tapi tidak dapat, akhirnya relapse [kambuh] bahkan meninggal dunia,” kata Intan.

Selama pandemi, pasien dengan kanker termasuk anggota keluarga yang mengantar harus menjalani skrining Covid-19 sebelum bisa mendapatkan pelayanan rumah sakit. Apabila terkonfirmasi positif, ia akan dirawat di ruang isolasi. Pasien akan ditangani oleh perawat khusus.

“Ini tentu tidak mudah [bagi anak]. Kanker sudah berat ditambah Covid-19. Rumah sakit menyediakan pendampingan psikolog kepada pasien misal di atas 10 tahun,” ujar dia.

Baca Juga: Di Klaten, Pasien Tanpa Gejala Pilih Isolasi di Rumah

Kenali Sejak Dini

Intan menjelaskan pentingnya mengenali dini kanker pada anak. Orang tua harus cermat apabila anak berwajah pucat, perut besar, dan ada benjolan. Deteksi dini juga dilakukan kepada anak dengan kasus retinoblastoma atau kanker retina mata. Sebab, apabila seorang kakak terkena kanker retina mata, adiknya berpeluang 50 persen terkena kanker yang sama.

“Kalau ibunya punya kanker payudara, anaknya setelah menstruasi harus periksa payudara. Karena ada kekhawatiran anaknya juga terkena kanker payudara,” ujar dia.

Kanker pada anak umumnya 60-70 persen mengalami leukemia. Selain itu ada pula anak dengan tipe kanker padat misalnya kanker retina mata pada usia 0-3 tahu, nasofaring pda usia 10 tahun, osteosarkoma pada usia 10 tahun dan lainnya. “Biasanya pada usia 3 tahun ke atas hingga sebelum 10 tahun,” ujar Intan.

Baca Juga: Di Klaten, Pasien Tanpa Gejala Pilih Isolasi di Rumah

Untuk mencegah kanker pada anak, Intan menganjurkan orang tua menerapkan pola hidup sehat dan memberikan imunisasi lengkap kepada anak. Orang tua jangan khawatir soal imunisasi lantaran dijamin keamanannya.

Ketua Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI), Ira Soelistyo, menceritakan YKAKI menyediakan pendampingan bagi pasien dan orang tuanya yang berada di rumah singgah selama menjalani terapi. Kondisi pandemi, mengubah metode pendampingan ini termasuk skrining untuk memastikan tidak menularkan Covid-19.

Secara sederhana, pasien dan orang tua dari daerah zona merah akan menjalani tes antigen. Apabila negatif, ia akan menjalani isolasi diri di tempat khusus yang disediakan YKAKI. Apabila dalam 3-7 hari tidak menunjukkan gejala, yang bersangkutan bisa bergabung dengan pasien lain di rumah singgah.

Baca Juga: Pangdam & Kapolda ke Boyolali demi Dukung PPKM Mikro

YKAKI juga menyediakan pengajar bagi anak dengan kanker di rumah singgah. Sedangkan, anak yang dirawat di RS belajar secara daring. “Kami sedang menjajaki dengan RS untuk memfasilitasi wifi untuk mereka agar mereka bisa berkomunikasi dengan guru dan keluarganya. Sebab, tidak semua rumah sakit menyediakan wifi untuk anak,” kata Ira.

Pembelajaran secara daring ini juga mempermudah guru membantu para siswa yang menderita kanker. Sebagai contoh, guru dari Jakarta bisa membantu siswa dari Semarang atau guru dari Jogja bisa membantu siswa di Manado. YKAKI juga mengembangkan model belajar sambil bermain kepada anak-anak agar lebih menyenangkan.

Perubahan juga terjadi pada cara orang berdonasi. Selama pandemi, banyak orang berdonasi bahan makanan dan sembako, bukan uang. Ada pula orang yang berdonasi dengan meminjamkan mobil dan sopirnya untuk menjemput dan mengantar pulang pasien dan orang tua menjalani pengobatan. Dengan begitu, pasien dan orang tua tidak perlu naik moda transportasi umum.



Berita Terkini Lainnya








Kolom