Tutup Iklan
Buruh gendong pasir di Desa Gubug, Cepogo, Boyolali, berjalan sambil menggendong pasir. (Solopos/Akhmad Ludiyanto)

Solopos.com, BOYOLALI -- Pekerjaan menjadi buruh gendong pasir bukanlah pekerjaan ringan. Apalagi untuk perempuan. Mereka harus berjalan puluhan bahkan mungkin ratusan meter dengan menggendong keranjang berisi pasir puluhan kilogram (kg).

Itu lah yang dijalani Partini, seorang buruh gendong pasir di tepi sungai Desa Gubug, Kecamatan Cepogo, -ini-dikabarkan-ajak-istri-maju-pilkades-boyolali" title="Petahana Ini Dikabarkan Ajak Istri Maju Pilkades Boyolali">Boyolali, Sabtu (11/5/2019). Sama seperti muslim lainnya, Partini hari itu juga menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Namun, dia tetap bekerja menjadi buruh gendong pasir seperti biasa. Dengan menggendong sekeranjang pasir di punggung, dia menuju gundukan pasir di pinggir sungai.

Sambil menjaga keseimbangan, Partini mulai menaiki gundukan pasir dan kemudian berhenti di puncaknya. Ia melepas gendongannya kemudian menuang pasir di keranjang.

Ini adalah keranjang pasir ke-25 yang ia bawa dari sumber -warga-tertimpa-longsor-penambangan-sukabumi-boyolali-dihentikan-sementara" title="2 Warga Tertimpa Longsor, Penambangan Sukabumi Boyolali Dihentikan Sementara">penambangan pasir tradisional di aliran sungai itu hari itu. Keringat membasahi wajah wanita berusia 59 tahun ini dan segera ia menyekanya menggunakan ujung kain jarit yang dia pakai untuk pengikat keranjang ke punggungnya.

Matahari di atas ubun-ubun menjadi penanda waktu sudah memasuki tengah hari. Artinya, ini adalah waktunya beristirahat.

Partini yang siang itu naik dari sungai bersama temannya sesama buruh gendong pasir, Prapti, 47, memutuskan duduk di tepi gundukan pasir yang teduh. Pada waktu hampir bersamaan, suara azan Duhur dari kejauhan mulai terdengar sayup-sayup.

Sambil mengibas-ngibaskan kain jaritnya, Partini menceritakan setiap hari dia mengangkut rata-rata 50-60 keranjang pasir. Dengan beban pasir sekitar 50 kg per keranjang, dia berjalan menanjak lumayan jauh dari lokasi penambangan menuju titk pengumpulan pasir itu.

“Yang di sini buruh gendongnya ada 4, yaitu saya, Prapti, lalu ada dua lagi yaitu Sumi dan Temu yang sekarang masih di bawah [di sungai]. Semuanya orang sini saja. Masing-masing dari kami mengangkut 50-60 keranjang setiap hari,” ungkap Partini.

Untuk -dan-getaran-tuntun-ari-temukan-2-penambang-tertimbun-longsor-di-boyolali" title="Gemuruh dan Getaran Tuntun Ari Temukan 2 Penambang Tertimbun Longsor di Boyolali">mengangkut pasir sebanyak itu, mereka mulai bekerja sejak pukul 06.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Menurutnya, pekerjaan ini memang berat dan melelahkan. Namun mereka mengaku tidak punya pilihan lain untuk bertahan hidup.

Penghasilan suami mereka yang kebanyakan adalah buruh tani dan buruh bangunan tak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, pekerjaan ini sudah mereka geluti sejak kecil.

Untuk satu keranjang pasir yang mereka angkut, mereka mendapatkan upah Rp1.000 dari pengepul pasir. “Upahnya Rp1.000 per keranjang. Biasanya kami menghitung sendiri berapa keranjang pasir yang kami angkut untuk memperhitungkan upah kami,” kata Partini.

Sementara itu, Prapti menambahkan pada Ramadan ini, mereka tetap bekerja seperti bulan-bulan lainnya. Bahkan para buruh gendong ini tetap berpuasa.

“Meskipun berat, kami tetap berpuasa. Soalnya kalau kami libur kerja, kami mau dapat uang dari mana?” ucap Prapti.

Lalu apakah dengan beban berat dan sengatan cuaca panas siang hari tidak membuat mereka merasakan haus yang menyengat? “Sebenarnya haus juga sih, tetapi mau bagaimana lagi, masa mecah puasanya. Kami juga sudah biasa begini,” imbuh dia.

Agar pekerjaan tetap dijalankan dan puasa tetap bisa ditunaikan, para penambang ini hanya mengurangi intensitas pengangkutan. “Memang kalau puasa begini kami kurangi menjadi 40-45 kali angkut supaya tidak terlalu lelah,” imbuh ibu tiga anak ini.

Partini dan Prapti hanya berharap dengan menjalani pekerjaan berat sambil tetap berpuasa bisa semakin mendatangkan berkah bagi hidup mereka. Sementara itu, pengepul pasir di lokasi itu, Marni, 45, mengatakan tidak pernah memaksa para butuh gendong tersebut bekerja pada Bulan Puasa.

“Kami hanya menerima. Kalau mereka kerja ya monggo, tidak juga enggak apa-apa, namanya juga sedang puasa. Tapi mereka biasanya merasa mampu,” kata dia.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten