Mesin Tanam Padi Diujicoba di Kulonprogo, Ini Hasilnya
Irjen Kementerian Pertanian RI, Justan Ridwan Siagaan dan Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo berusaha mengoperasikan rice transplanter atau mesin tanam padi di Bulak Wetan Kepek, Dusun Jimatan, Desa Jatirejo, Kecamatan Lendah, Kulonprogo, Selasa (2/2/2016). (Rima Sekarani I.N/JIBI/Harian Jogja)

Mesin tanam padi diujicoba di Lendah Kulonprogo

Solopos.com, KULONPROGO- Mesin tanam padi diujicoba di Bulak Wetan Kepek, Dusun Jimatan, Desa Jatirejo, Kecamatan Lendah, Kulonprogo, Selasa (2/2/2015). Kegiatan itu menggunakan sawah di salah satu petak sawah milik Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Jati Makmur.

Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo dan Irjen Kementerian Pertanian RI, Justan Ridwan Siagaan berusaha mengoperasikan rice transplanter atau mesin tanam padi. Mesin itu bekerja layaknya orang yang menanam padi. Bibit padi akan tertancap secara teratur di setiap titik tanam.

Namun, penggunaan rice transplanter tidak semudah yang dibayangkan. Beberapa kali kedua pejabat itu tampak berhenti untuk membenarkan posisi mesin agar tetap berjalan lurus ke depan. Deretan padi hasil kerja mereka pun masih meliuk-liuk.

“Ternyata enak dan cepat tapi kesulitan itu selalu ada. Semua butuh latihan. Saya juga bisa terampil operasi setelah latihan berkali-kali,” kata Hasto sambil membersihkan kakinya dari lumpur usai mencoba rice transplanter.

Kesan senada disampaikan Justan. Dia hanya bisa tersenyum ketika melihat hasil kerjanya yang tampak tidak rapi hari itu. Meski begitu, menerapkan sistem pertanian moderen tetap perlu mulai dilakukan untuk mendukung upaya ketahanan pangan.

Bantuan alat pertanian moderen pun diberikan kepada para kelompok tani secara bertahap setiap tahun. Tidak hanya rice transplanter, tetapi juga traktor dan combine harvester atau mesin panen padi. “Ini jadi lebih efisien,” tuturnya.

Gapoktan Jati Makmur menyediakan lahan seluas 100 hektare (ha) sebagai lokasi program percontohan sistem pertanian moderen. Lahan itu tidak terpusat di Jatirejo saja, tapi sebagian ada di wilayah Desa Wahyuharjo dan Bumirejo, Lendah.

Mereka difasilitasi dengan bantuan tiga unit traktor roda empat, lima unit traktor roda dua, tiga rice transplanter, satu combine harvester, serta lima unit pompa air. Ketua Gapoktan Jati Makmur, Tukiyana mengatakan, meski bantuan sudah diberikan sejak 2015, mereka baru menggunakannya tahun ini.

“Kemarin sudah lewat waktunya, jadi baru kami operasikan pada musim tanam ini,” ucap Tukiyana.

Tukiyana membenarkan betapa efisiennya menggunakan alat moderen. Petani hanya butuh lima jam untuk mengolah lahan seluas satu ha dengan traktor roda empat, tidak seperti sebelumnya yang butuh waktu seharian. Begitu juga dengan rice transplanter, petani hanya menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk setiap lahan seluas 100 meter persegi.

Namun, dia juga mengeluhkan banyaknya kendala yang dihadapi petani. Kondisi lahan pertanian yang dikelilingi irigasi permanen membuat traktor susah masuk dan keluar dari sawah sehingga membutuhkan bantuan tangga atau alat lainnya. Petani juga harus hati-hati agar tidak merusak pematang yang menjadi batas kepemilikan lahan.

“Jika kedalaman lumpur lebih dari 15 sentimeter, transplanter tidak bisa jalan. Mungkin karena operatornya belum terbiasa,” tambah Tukiyana.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom