Merasa Tak Adil, Pekerja Seni Bacakan Surat Terbuka, Begini Isinya
Hajatan disertai hiburan campursari di Dukuh Singge, Desa Poleng, Gesi, Sragen, dibubarkan aparat polisi dan TNI, Kamis (1/9/2020). (Istimewa-Polsek Gesi)

Solopos.com, SRAGEN -- Kalangan pekerja seni yang tergabung dalam Seniman Nusantara (Setara) Jawa Tengah (Jateng) membacakan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Para seniman ini merasa diberlakukan tidak adil oleh pemerintah dengan kebijakan-kebijakan yang dianggap merugikan mereka selama terjadi pandemi Covid-19.

Setara Jateng dideklarikan di Warung Apung Tiga Putri di tepi Waduk Kedung Ombo (WKO) tepatnya di Dukuh Ngasinan, Desa Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang, Sragen, Jumat (26/2/2021). Ketua Setara Jateng, Dwi Sunarto, mengatakan setelah dideklarasikan, Setara Jateng langsung menggelar rapat koordinasi.

Rapat koordinasi itu diikuti perwakilan pengurus Setara dari 35 kabupaten/kota di Jateng. Di sela-sela rapat, Dwi membacakan surat terbuka kepada Presiden Jokowi terkait kebijakan pemerintah yang dianggap tidak menguntungkan kalangan pekerja seni.

Baca juga: Inspiratif! Begini Cara Istimewa Seniman Solo Merespons Pandemi

Dalam surat terbuka itu disebutkan Setara Jateng mengungapkan pandemi Covid-19 telah menghancurkan kehidupan para seniman karena mereka dilarang bekerja dan berkarya. Dalam setahun terakhir, para pekerja seni mengalami penurunan pendapatan yang drastis akibat kebijakan larangan menggelar kegiatan pentas seni maupun hajatan. Para pekerja seni ini pun mendesak supaya kebijakan larangan menggelar pentas seni dan hajatan bisa dicabut sehingga mereka bisa bekerja kembali.

“Sekarang, kami merasa diperlakukan tidak adil. Pentas seni dan hajatan dilarang, tapi pasar, pusat perbelanjaan, bahkan pabrik dengan ribuan karyawan tetap buka. Kami juga ingin nasib pekerja seni diperhatikan oleh pemerintah. Kami bersedia menjadi bagian dari tim penanggulangan Covid-19 supaya kebijakan yang dibuat pemerintah tidak merugikan para seniman,” papar Dwi Sunarto kepada Solopos.com.

Baca juga2 Siswa Berprestasi SMPN 1 Sragen Bagikan Tips Jadi Jago Matematika

Bisa Diantisipasi

Dwi Sunarto menilai penularan virus corona sebetulnya mudah diantisipasi dalam kegiatan hajatan. Pasalnya, sudah ada kepanitian hajatan yang bisa mengawasi secara ekstra terkait protokol kesehatan. Jumlah tamu juga bisa dibatasi sesuai dengan kapasitas ruangan.

“Yang sulit dikendalikan itu justru pasar, pusat perbelanjaan dan pabrik-pabrik. Namanya pabrik itu pasti jadi tempat berkumpul karyawan. Kerumunan sudah pasti ada di pabrik itu,” ucap Dwi Sunarto.

Dwi berharap pemerintah mengambil kebijakan yang tidak menimbukan kecemburuan sosial di kalangan pekerja seni. “Kami berkumpul di sini dengan jumlah terbatas sesuai dengan protokol kesehatan. Kami ingin berembuk terkait apa yang perlu dilakukan untuk memperjuangkan nasib pekerja seni. Mungkin lewat audiensi atau lobi-lobi,” papar Dwi.

 

 



Berita Terkini Lainnya








Kolom