Kolom erupsi Gunung Merapi terlihat dari wilayah Dukuh Gondang, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kamis (13/2/2020) sekitar pukul 05.16 WIB. (Istimewa/Jainu)

Solopos.com, KLATEN – Erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada Kamis (13/2/2020) pagi WIB tak memengaruhi aktivitas warga yang tinggal lereng gunung tersebut. Mereka tetap melakukan aktivitas sehari-hari seperti ngarit atau mencari rumput untuk pakan ternak serta menambang pasir dan batu di alur Kali Woro.

Kondisi itu seperti di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang. Warga setempat hilir mudik berangkat atau pulang ngarit ke berbagai lokasi yang ditumbuhi rumput. Salah satu lokasi yang kerap dijadikan tempat mencari rumput yakni di kawasan sekitar objek wisata Kali Talang yang berjarak sekitar 4,5 km dengan puncak Merapi.

Lawan Persis Solo, Persib Bandung Tanpa Bobotoh

Sementara itu, di sejumlah lokasi alur Kali Woro yang berhulu di Merapi, penambang manual beraktivitas seperti biasa seperti menggali pasir serta batu hingga menaikkan ke truk. Salah satu warga Dukuh Gondang, Desa Balerante, Medi, 55, mengatakan sudah terbiasa dengan peristiwa erupsi Merapi hingga tak memengaruhi aktivitas mencari pakan ternak untuk tiga sapi miliknya.

“Tadi mencari pakan ternak sejak pukul 07.30 WIB. selain saya ada banyak yang mencari rumput pakan ternak di sini [sekitar objek wisata Kali Talang],” jelas Medi saat ditemui Solopos.com seusai mencari rumput.

Bikin Merinding, Ini Lokasi Video Gerobak Berjalan ke Ruang Jenazah

Meski tak khawatir dengan ancaman erupsi, Medi dan para pencari rumput lainnya tetap waspada. Setiap kali berniat mencari pakan, Medi melihat terlebih dahulu kondisi puncak Merapi. Ketika mencari pakan, Medi sering mewaspadai setiap suara yang dia dengar terutama ketika ada suara gemuruh.

“Kalau gludak-gluduk dilihat kondisi Merapi. Kalau terus meningkat aktivitasnya lebih baik langsung pulang,” kata dia.

Warga Dukuh Sukorejo, Desa Balerante, Darmo, juga mengaku tak takut untuk tetap ngarit pada Kamis pagi meski Merapi baru saja mengalami erupsi. “Nak sekirane nyemelangi ya mudun. Biasa nak ngoten niku. Niki wau termasuk alit [Kalau sekiranya membahayakan ya turun. Sudah terbiasa ada erupsi. Yang terjadi pada Kamis pagi termasuk erupsi kecil],” kata Darmo.

Seorang warga membawa rumput hasil ngarit di kawasan Objek Wisata Kali Talang, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kamis (13/2/2020). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Kaur Perencanaan Desa Balerante, Jainu, mengatakan erupsi Merapi terjadi sekitar pukul 05.16 WIB. Erupsi diawali dengan suara gemuruh serta suara sinyal seismograf yang dipasang pada gardu pemantau di tengah Dukuh Gondang terdengar meliuk-liuk.

Hal itu membuat warga di wilayah Balerante keluar rumah mereka untuk melihat kondisi puncak Merapi. Kolom asap terlihat sudah membumbung di puncak. “Warga tetap tenang dan tidak ada yang sampai berlarian. Warga hanya melihat dari depan rumah mereka, tidak ada yang panik,” jelas Jainu yang tinggal di Dukuh Gondang.

Tiket KA Lebaran Bisa Dipesan Mulai Besok

Jainu menjelaskan warga tetap tenang lantaran erupsi yang terjadi pada Kamis pagi tak disertai luncuran awan panas. Hanya terlihat kolom asap yang membumbung dengan ketinggian sekitar 2 km dari puncak Merapi. Hujan abu tipis sempat mengguyur sebagian wilayah Balerante. “Abu yang jatuh di wilayah kami sangat tipis. Karena arah angin cenderung ke wilayah barat laut,” urai dia.

Berdasarkan informasi yang dihimpun pada akun instagram (IG) BPPTKG, erupsi pada Kamis terjadi pukul 05.16 WIB. Erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo 75 mm dan durasi 150 detik. Tinggi kolom erupsi teramati sekitar 2.000 meter dengan arah angin ke barat laut. Status Merapi dipastikan tetap pada level waspada yang sudah diberlakukan sejak 21 Mei 2018.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten