Merancang Kota Pascapandemi
Andi Setiawan (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Sejarah mencatat wabah penyakit ikut membentuk perkembangan kota. Pemerintah Kota London memperbaiki jaringan drainase kota pada pertengahan abad ke-19 untuk menanggulangi wabah kolera.

Wabah kolera juga menyerang Kota Jakarta (Batavia saat itu) pada awal abad ke-19. Hal ini mendorong pemindahan pusat kota lebih ke selatan ke daerah Weltevreden (Lapangan Banteng). Di Kota Solo, khususnya di wilayah Mangkunegaran, wabah pes pada 1915 tidak hanya mengubah sebagian lanskap Kota Solo, tetapi juga perilaku warganya.

Saat ini Covid-19 mewabah di seluruh penjuru dunia. Kota Solo tidak luput dari wabah ini. Saat ini kota-kota masih berjuang menjinakkan wabah tersebut. Masalah selanjutnya adalah bagaimana kota harus berbenah pascapandemi. Salah satu diskusi yang mengemuka adalah pilihan pengembangan kota apakah harus dirancang memadat (densification) atau memisah (disaggregation). Dalam dekade terakhir desainer kota cenderung mendorong kota berkembang memadat.

Pengembangan kota harus mengoptimalkan lahan. Pilihan tersebut untuk mewujudkan ide ”kota hijau” yang berkelanjutan. Kota memadat menghasilkan efisiensi energi yang lebih baik (terutama energi untuk mobilitas manusia dan barang) dibanding dikembangkan memisah.

Pandemi Covid-19 memberi pelajaran pentingnya menjaga jarak (distancing). Hal tersebut akan tercapai jika kota dirancang memisah. Pengembangan kota memisah membuat penyekatan wilayah menjadi lebih mudah dilakukan dalam rangka membatasi persebaran wabah.

Satu hal yang disepakati bahwa pengembangan kota masa depan harus mempertimbangkan kemungkinan menyebarnya lagi wabah penyakit yang menurut WHO akan lebih sering terjadi. Pengelola kota perlu menyiapkan konsep pembangunan pascapandemi dengan memberi perhatian pada ketahanan kota terhadap serangan wabah penyakit pada masa depan, menyiapkan kondisi hidup berdampingan dengan wabah penyakit.

Jika selama ini kota selalu mengejar pertumbuhan ekonomi dengan prioritas pada pembangunan infrastruktur ekonomi seperti pasar, transportasi, dan sarana penunjang pariwisata, pada masa depan kota menggeser prioritas ke sektor kesehatan publik.

Rumah warga di kampung kota dan lingkungannya mutlak harus dibenahi. Kualitas interior rumah, termasuk di antaranya aspek penghawaan, pencahayaan, dan sanitasi perlu dibenahi. Kualitas lingkungan, misalnya drainase lingkungan, akses jalan untuk mobil ambulans dan pemadam kebakaran, serta penerangan lingkungan pada malam hari wajib dipenuhi.

Membangun Ulang Hunian

Di wilayah yang memang sulit dibenahi, tidak menutup opsi membangun ulang hunian (hunian vertikal maupun hunian tapak). Satu hal yang penting untuk diperhatikan adalah keterlibatan komunitas warga. Kualitas ruang dan fasilitas publik juga perlu mendapat perhatian serius. Standar higienitas yang selama wabah Covid-19 telah diusahakan perlu dipertahankan dan dijadikan standar minimal fitur desain.

Pada masa depan kota perlu mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk kelompok masyarakat yang rentan ketika menghadapi serangan wabah penyakit. Warga miskin kota merupakan salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian.

Kelompok ini menghadapi ancaman tidak hanya dari penyakit, melainkan juga dari berkurangnya pendapatan ekonomi. Suatu jaring pengaman sosial yang tangguh di level kota perlu didesain ulang agar masyarakat miskin mendapat jaminan perlindungan sosial ekonomi ketika wabah menyebar.

Kelompok rentan lainnya adalah warga lanjut usia. Mereka perlu mendapat perhatian karena ketahanan tubuh mereka yang lebih lemah. Pengelola kota perlu merancang pula sistem perlindungan khusus terhadap warga lanjut usia.

Pelajaran penanganan wabah dari beberapa kota di dunia menunjukkan peran penting teknologi informasi dalam mengolah data untuk pengambilan kebijakan. Korea Selatan dan Jepang siap dengan dukungan terknologi yang memungkinkan penelusuran jejak (tracing) pasien Covid-19 selama 14 hari ke belakang.

Dalam kondisi normal, pengelolaan data yang akurat bisa memudahkan pengelolaan kota, sedangkan pada saat wabah menyerang, bisa menjadi senjata ampuh untuk menentukan langkah-langkah pencegahan, pengobatan, maupun pemulihan pascawabah. Ide ini bisa diintegrasikan dengan konsep smart city.

Kritiknya adalah tanpa kontrol yang memadai sistem itu  dikhawatirkan akan mengawasi (surveillance) berlebihan terhadap setiap individu warga kota. Potensi ini dikhawatirkan menjadi alat bagi penguasa kota untuk menjalankan kebijakan otoritarianisme, dengan melakukan represi kepada warga yang berusaha menentang, karena seluruh informasi dan pergerakan mereka diawasi.

Pengembangan sistem teknologi informasi perlu diawasi bersama. Warga kota perlu dilibatkan dalam proses desain sistem tersebut. Langkah pelibatan warga adalah untuk memastikan kinerja sistem tersebut bertujuan meningkatkan pelayanan terhadap warga.

Dengan partisipasi warga dalam proses desain sistem teknologi informasi tersebut, maka sistem itu akan secara efektif bekerja untuk memitigasi ketika kota mengalami serangan wabah penyakit, tanpa terlampau jauh membahayakan privasi warganya.

Menjalankan Sistem

Selain proses desain, perhatian juga perlu diberikan pada saat sistem tersebut dijalankan. Pelajaran dari Kota Daegu di Korea Selatan adalah pentingnya transparansi data aktual penanganan Covid-19. Data aktual yang selalu diperbaharui dan bisa diakses publik membuat masyarakat waspada dan mampu mengambil langkah mitigasi pribadi yang tepat dalam menghadapi persebaran wabah.

Sebaliknya menutup akses data dari publik hanya akan menimbulkan bom waktu bencana di belakang hari. Pelajaran dari respons warga kota di Indonesia saat menghadapi pandemi Covid-19 adalah menonjolnya peran komunitas warga yang secara mandiri mengorganisasi dan bersolidaritas melakukan langkah-langkah pencegahan maupun penanganan dampak wabah.

Kita bisa menyebut penyekatan wilayah yang dilakukan kampung-kampung secara swadaya dan berbagai solidaritas untuk mengumpulkan bantuan dan menyalurkan kepada kelompok yang sangat membutuhkan. Untuk menyebut salah satu contoh di Kota Solo adalah pengorganisasian lumbung pangan oleh Komunitas Rumah Banjarsari dan Komunitas Jolijolan. Lumbung pangan tersebut membuktikan penanganan dampak wabah bisa secara efektif dikelola oleh komunitas warga.

Pengembangan kota pascapandemi tentu perlu memberi ruang kepada komunitas warga semacam ini. Komunitas warga merupakan aktor yang dalam keseharian bergerak berdampingan dengan masyarakat. Merekalah yang memahami situasi riil di lingkungan mereka. Peran mereka sangat vital dalam merancang kota yang berketahanan. Setiap ada indikasi persebaran penyakit, komunitas warga bisa dengan cepat memberikan respons, baik vertikal kepada pemerintah kota, maupun respons horizontal kepada lingkungan.

Komunitas warga juga merupakan wadah yang paling efektif untuk membangun solidaritas sehingga kebijakan dalam  penanganan wabah atau bencana lainnya bisa berjalan efektif di tangan komunitas sebagai ujung tombak. Tentu dengan mengitegrasikan peran komunitas warga dalam sistem teknologi informasi tadi akan memudahkan partisipasi mereka saat menghadapi wabah. Kota masa depan sudah seharusnya dirancang untuk menginvestasikan dana lebih kepada manusia daripada pertumbuhan ekonomi.

Menjaga kualitas manusia penghuni kota dengan sendirinya akan menjaga keberlangsungan ekonomi kota. Kota tersebut harus mempunyai sistem ketahanan yang memadai agar penduduknya mampu menghadapi atau bahkan hidup berdampingan dengan wabah penyakit.

Seandainya datang pandemi (lagi), warga kota tetap dapat beraktivitas menggerakkan kota. Tidak sebagaimana saat ini, kota berhenti bekerja saat pandemi datang. Sudah saatnya menggeser parameter kemajuan kota dari pertumbuhan ekonomi menjadi kualitas kesehatan warga.

 

 

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho