Menyusut 6.391 Ton, Alokasi Pupuk Subsidi NPK di Wonogiri 34,43 Persen

Alokasi awal pupuk bersubsidi jenis NPK Phonska sebesar 17.752 ton atau 34,43 persen dari rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK).

 Pupuk NPK Phonska. (Istimewa/Dokumentasi PT Petrokimia Gresik)

SOLOPOS.COM - Pupuk NPK Phonska. (Istimewa/Dokumentasi PT Petrokimia Gresik)

Solopos.com, WONOGIRI—Kabupaten Wonogiri pada 2022 ini mendapat alokasi awal pupuk bersubsidi jenis NPK Phonska sebesar 17.752 ton atau 34,43 persen dari rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK).

Alokasi itu menyusut 6.391 ton dibanding alokasi terakhir pupuk bersubsidi jenis yang sama pada 2021. Pemerintah Kabupaten atau Pemkab Wonogiri akan meminta tambahan alokasi.

PromosiPelajaran dari Fenomena Mencari Orang Kuat di Indonesia dan Filipina

Sebagai informasi, pupuk NPK Phonska atau biasa disebut NPK menjadi pilihan petani karena memiliki sejumlah unsur hara makro yang bermanfaat bagi tanaman pangan, seperti padi. Unsur hara makro yang terkandung, yakni nitrogen (N), phospor (P), kalium (K), dan sulfur (S).

Baca Juga: Kartu Tani Belum Familiar, Penyaluran Pupuk Bersubsidi Wonogiri Rumit

Pupuk NPK bersubsidi kandungan unsur hara makronya, meliputi N 15, P 10, K 12. Manfaatnya, seperti membuat tanaman lebih hijau dan segar, memacu pertumbuhan akar dan sistem perakaran yang baik, memacu pembentukan bunga, mempercepat panen, dan menambah kandungan protein.

Data yang Solopos.com peroleh dari Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan Pangan) Wonogiri, Jumat (28/1/2022), kebutuhan pupuk bersubsidi NPK yang tertuang dalam RDKK setiap tahun paling tinggi. Penebusan atau serapannya pun maksimal.

Sebagai gambaran, RDKK NPK 2020 tercatat 51.624 ton, pemerintah memberi alokasi 21.742 ton, terserap 21.689 ton atau 99,76 persen, dan hanya tersisa 53 ton. RDKK NPK 2021 72.348 ton. Alokasi yang diperoleh 24.143 ton. Serapannya mencapai 24.141 ton atau 99,99 persen dan hanya tersisa 2 ton. Sementara, RDKK NPK 2022 tercatat 51.561 ton, tetapi alokasi yang diberikan 17.752 ton atau 34,43 persen dari RDKK.

Baca Juga: Kompleks, Masalah Pupuk Bersubsidi di Wonogiri Belum Terurai

Kepala Bidang (Kabid) Sarana Prasarana (Sarpras) Dispertan Pangan Wonogiri, Giyanto, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Jumat, menyampaikan alokasi tersebut masih sementara. Dia tak memungkiri alokasi NPK tahun ini lebih kecil dari alokasi tahun-tahun sebelumnya.

Dibanding alokasi terakhir 2021, alokasi NPK 2022 menyusut lebih dari 6.000 ton. Pihaknya akan meminta tambahan alokasi atau realokasi, terutama jenis NPK, ketika rapat koordinasi (rakor) tentang pupuk bersubsidi di tingkat provinsi mendatang.

Menurut Giyanto, alokasi NPK 2022 berpeluang bertambah. Berkaca pada 2021 lalu alokasi terakhir NPK bertambah, meski hanya 100 ton. Dia meyakini, alokasi pupuk jenis lain mencukupi. Hal itu becermin pada serapan tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga: Terkait Kelangkaan Pupuk, Begini Penjelasan Dinas KUKM dan Perindag Wonogiri

Harga Murah

Selama tiga tahun terakhir serapan urea berkisar 25.000 ton-26.000 ton. Pada 2021 alokasi terakhir urea tercatat 28.213 ton terserap 24.226 ton atau 85.87 persen, masih tersisa 3.987 ton. Sementara, alokasi awal urea 2022 ini tercatat 27.179 ton.

“Petani menggunakan NPK karena banyak keuntungannya. NPK adalah pupuk majemuk. Menurut petani memakai NPK lebih praktis dan efisien dari sisi tenaga dan ekonomi,” kata Giyanto.

Dia berharap jika alokasi pupuk bersubsidi yang diperoleh dinilai kurang, petani bisa mencukupi kebutuhan menggunakan pupuk nonsubsidi. Namun, fakta di lapangan petani masih sangat mengandalkan pupuk bersubsidi lantaran harganya jauh lebih murah dari pada harga pupuk nonsubsidi.

Baca Juga: Kepala Dispertan Beri Penjelasan soal Sinyal Pupuk Langka di Wonogiri

Terpisah, petani warga Desa Jaten, Kecamatan Selogiri, Rusdiyanto, mengatakan alokasi pupuk bersubsidi setiap tahun tidak bisa memenuhi RDKK. Alokasi yang diperoleh selalu kurang.

Dia mencontohkan, dalam 1 hektare (ha) membutuhkan lebih kurang 5 kuintal pupuk. Namun, faktanya alokasi yang diterima hanya lebih kurang 300 kg atau 3 kuintal.

Hal itu yang selalu membuat masalah selalu muncul di lapangan. Belum lagi stok pupuk bersubsidi di tingkat kios pupuk lengkap (KPL) tak selalu ada saat dibutuhkan.

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

IPAL Terpadu Limbah Ciu di Sukoharjo Diharapkan Segera Dibangun

Dampak yang dirasakan dari pembuangan limbah ciu yakni bau yang menyengat. 

Pedagang di Pasar Mebel Gilingan Solo Kesulitan Cari Lokasi Penyimpanan

Para pedagang Pasar Mebel Gilingan, Solo, mengaku bingung dan kesulitan mencari lokasi penyimpanan barang-barang dagangan mereka setelah kios dibongkar.

Ssttt... Rektor UNS Solo Beri Bocoran Kapan PTM Penuh Dimulai

Rektor UNS Solo, Jamal Wiwoho, memberikan bocoran kapan perkuliatan tatap muka atau PTM secara penuh akan dimulai setelah dua kuliah daring dan hybrid.

Teka-Teki Bantuan Hukum Rp795 Juta yang Jerat BUMDes Berjo Ngargoyoso

Dana bantuan hukum Rp795 juta dalam proyek pemugawan Telaga Madirda diduga jadi sumber penyimpangan di BUMDes Berjo yang merugikan negara. Kasus ini sedang ditangani Kejari Karanganyar.

Di Balik Mistis Alas Donoloyo Wonogiri dan Pohon Jati Ratusan Tahun

Alas Donoloyo Wonogiri yang telah berstatus Cagar Alam memiliki cerita mistis, salah satunya pantangan menebang pohon jati ratusan tahun di kawasan itu.

Revitalisasi Rawa Jombor Jalan Terus, Ini Harapan Penjaring Ikan

Revitalisasi Rawa Jombor, Kecamatan Bayat, Klaten, masih berjalan hingga sekarang, Selasa (17/5/2022).

Peserta Membeludak, Kejurkab Bulu Tangkis Sragen Diperpanjang

PBSI Sragen menggelar Kejurkab Bulu Tangkis yang diikuti 405 peserta dari berbagai daerah di Soloraya. Kejurkab ini memperebutkan piala Bupati Sragen.

Siswa SMP di Sukoharjo Bikin Eco Enzyme untuk Netralkan Limbah Ciu

Aksi penuangan eco enzyme untuk menetralisasikan lingkungan, mengingat aliran sungai di persawahan itu tercampur limbah ciu dari pabrik etanol setempat.

Warga Klaten Pemilik 9 Bidang di 5 Desa Terima UGR Tol Solo-Jogja

Proses pembayaran uang ganti rugi (UGR) lahan terdampak proyek tol Solo-Jogja di Klaten terus bergulir.

Kendaraan Listrik Wisata Solo Dan Sepur Kelinci Boleh Jalan, Tapi...

Kendaraan wisata berbasis listrik dari Pemkot Solo maupun sepur keinci sebenarnya boleh boleh beroperasi namun ada syarat yang harus dipenuhi.

Ternyata Banyak Juga, Ini Jumlah Kereta Kelinci di Klaten

Usaha mengoperasikan kereta kelinci di Klaten terus menjamur. Hingga sekarang, jumlah kereta kelinci di Klaten sudah lebih dari 200 unit.

Waspadai PMK, Disnakkan Sragen Gandeng Polisi Awasi Hewan Ternak

Disnakkan menggandeng Polres Sragen dalam melakukan pemeriksaan kesehatan hewan di masyarakat untuk mendeteksi ada tidaknya indikasi penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK).

Tak Terawat, Area Bermain Anak di Utara SMAN 8 Solo Mirip Taman Mati

Taman dan area bermain anak-anak di kawasan Mojosongo, Jebres, tepatnya di utara SMAN 8 Solo kini kondisinya tak terawat hingga mirip taman mati.

Kereta Kelinci di Klaten Jadi Transportasi Favorit Warga untuk Tilik

Keberadaan kereta kelinci alias sepur kelinci dinilai sangat membantu masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah.

Murah Pol! Segini Tarif Jarak Dekat dan Jauh Kereta Kelinci di Klaten

Keberadaan kereta kelinci alias sepur kelinci dinilai sangat membantu masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah. Di sisi lain, tarif untuk naik kereta kelinci di Klaten ternyata terbilang murah.

Jembatan Jurug: Saksi Modernisasi Masyarakat Kuli di Kota Bandar, Solo

Jembatan Jurug yang bakal direvitalisasi tahun ini menjadi salah satu saksi bisu modernisasi Kota Solo yang semula adalah kota bandar yang dihuni masyarakat kuli, menjadi kota kerajaan.