Menyelamatkan Regenerasi Pengrajin Wayang Kulit di Klaten
Saiman, 58, warga Dukuh Butuh RT 024/RW 012 Desa Sidowarno, Wonosari, Klaten, menunjukkan wayang kulit karyanya, Minggu (2/12/2018). (Solopos-Irawan Sapto Adhi)

Solopos.com, KLATEN -- Beberapa tahun terakhir, Saiman, 55, gundah. Perasaan itu muncul bukan karena kerajinan wayang kulit karyanya tak lagi diminati pasar, melainkan karena proses regenerasi pengrajin wayang kulit di lingkungan tempat tinggalnya, Dukuh Butuh, Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari, Klaten, Jawa Tengah, tak berjalan mulus.

Saiman melihat banyak pemuda di Butuh belakangan memilih bekerja sebagai buruh pabrik. Mereka merantau ke luar Jawa setelah lulus SMA. Sebenarnya kebanyakan pengrajin wayang kulit di Butuh telah mendorong anak-anak mereka belajar tatah sungging wayang kulit. Namun, anak-anak itu memilih jalan lain setelah terpengaruh dunia luar.

Dilihat dari faktor ekonomi atau penghasilan, pekerjaan sebagai pengrajin wayang kulit di Butuh sebenarnya cukup menjanjikan. Menurut Saiman, masih ada banyak dalang maupun kolektor wayang kulit yang meminati karya para pengrajin di Butuh.

Namun, dia merasa sebagian anak muda di Butuh menganggap pekerjaan sebagai pengrajin wayang kulit tidak terlalu memiliki prestise. Padahal penghasilannya selama ini bisa mencapai 3-7 kali lipat dari upah minimum kota (UMK) Klaten.

Pendapatan tersebut diperoleh dari hasil menjual karya wayang kulit. Harganya mulai Rp400.000/buah hingga Rp5 juta/buah. Dia mematok harga wayang kulit bervariasi, menyesuaikan tingkat kesulitan dan ukuran wayang.

Dalam melayani pesanan wayang kulit, Saiman dibantu anak bungsunya, Pendi Istakanudin, 29. Anaknya kini adalah pengrajin wayang kulit termuda di Butuh. Saiman bersyukur Pendi bersedia meneruskan perjuangan keluarga dalam melestarikan tradisi pembuatan wayang kulit. Dia berharap semangat Pendi bisa diikuti para pemuda lain atau dicontoh anak-anak di Butuh.

“Mengajak anak kecil belajar tatah sungging sekarang susah. Godaannya semakin banyak. Contoh, salah satu cucu saya, Bintang Pratama, yang masih berusia sekitar 10 tahun. Kalau dipanggil buat natah, dia terkadang ogah-ogahan. Dia lebih betah main smartphone atau pilih tiba-tiba pergi bermain ke mana pakai sepeda motor,” kata Saiman saat diwawancarai di rumahnya, Jumat (28/12/2018).

Saiman merupakan salah satu pengrajin wayang kulit yang dituakan di Butuh. Dia telah menggeluti dunia wayang sejak masih menjadi anak-anak, yaitu mulai 1970-an. Berjalannya waktu, kemampuan tatah sungging Saiman terus meningkat.

Alhasil wayang kulit hasil karyanya pun kini diminati. Lebih dari 10 pelanggan dari banyak daerah, mulai dari Solo, Sukoharjo, Klaten, Semarang, Blitar Ngawi, Ponorogo, Jakarta hingga luar Jawa, yang tertarik dengan wayangnya.

Saiman, 58, warga Dukuh Butuh RT 024/RW 012, Desa Sidowarno, Wonosari, Klaten, membuat wayang kulit bersama anak bungsunya, Pendi Istakanudin, 29, di halaman rumahnya, Minggu (2/12/2018). (Solopos-Irawan Sapto Adhi)Foto: Saiman, 58, warga Dukuh Butuh RT 024/RW 012, Desa Sidowarno, Wonosari, Klaten, membuat wayang kulit bersama anak bungsunya, Pendi Istakanudin, 29, di halaman rumahnya, Minggu (2/12/2018). (Solopos-Irawan Sapto Adhi)

Namun, Saiman merasa keberhasilannya dalam mendapatkan banyak pelanggan tidak cukup apabila proses regenerasi pengrajin wayang kulit di Butuh mati. Dia ingin Dukuh Butuh terus menjadi kampung pengrajin wayang kulit.

Kini ada 75 pengrajin wayang kulit yang hidup di seputaran Butuh. Semuanya lanjut usia. Para pengrajin wayang kulit di Butuh rata-rata menghadapi kendala regenerasi yang sama, sang anak maupun cucu lebih tertarik dengan kegiatan atau pekerjaan lain.

Saiman bercerita para pengrajin wayang kulit di Butuh beberapa kali pernah berdiskusi tentang masalah regenerasi. Laki-laki yang kini menjabat sebagai Bendahara Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Pengrajin Wayang di Butuh itu mengakui solusi yang muncul selama ini baru menyentuh ranah kultural, yaitu para pengrajin sepakat meningkatkan intensitas mengajak anggota keluarga atau anak masing-masing untuk belajar tatah sungging.

Saiman menyadari solusi tersebut belumlah cukup untuk mengatasi masalah regenerasi pengrajin wayang kulit di Butuh. Perlu upaya baru yang lebih terstruktur dan komprehensif untuk mengatasi macetnya proses regenerasi.

Dia memandang karakteristik anak zaman dahulu beda dengan anak-anak sekarang. Anak-anak zaman dulu relatif lebih mudah diajak belajar tatah sungging.

Anak-anak zaman sekarang bukannya tidak mau diatur, namun lebih kritis dalam menyikapi berbagai hal. Oleh sebab itu, Saiman langsung bungah ketika pada pertengahan 2018 lalu mendapat kabar dari Pendi bahwa Dukuh Butuh bakal disasar program Kampung Berseri Astra (KBA) oleh PT Astra Internasional.

Dia langsung membayangkan akan mendapat dukungan dari PT Astra Internasional untuk merancang program atau cara baru dalam meregenerasi pengrajin wayang di Butuh. Optimisme Saiman akan kelestarian Dukuh Butuh sebagai Kampung Pengrajin Wayang Kulit kian kuat seiring dilaksanakannya acara Kick Off Kampung Berseri Astra Dukuh Butuh, Desa Sidowarno, yang diadakan PT Astra Internasional pada 11 Agustus lalu.

Acara yang digelar tepat di halaman rumah Saiman itu menjadi tanda PT Astra Internasional siap memberikan dukungan meterial maupun nonmaterial kepada warga Butuh untuk melestarikan dan mengembangkan kampung budaya pengrajin wayang kulit.

Putra bungsu Saiman, Pendi Istakanudin, menuturkan bersama perwakilan PT Astra Internasional, warga Butuh yang bekerja sebagai pengrajin wayang kulit telah menyusun program KBA. Sesuai dengan arahan PT Astra Internasional, konsep pengembangan KBA mengintegrasikan empat pilar program, yaitu pendidikan, kewirausahaan, lingkungan, dan kesehatan. Kegiatan dalam rangka menghidupkan regenerasi pengrajin wayang kulit di Butuh bakal masuk dalam program pendidikan.

“Warga menyambut antusias pencanangan Dukuh Butuh sebagai Kampung Berseri Astra pada Agustus lalu. Program dari PT Astra Internasional mampu menjadi pelecut bagi warga untuk terus bersama-sama melestarikan dan mengembangkan Dukuh Butuh sebagai kampung pengrajin wayang kulit,” jelas Pendi yang dipercaya menjadi salah satu wakil warga Butuh untuk rutin berkoordinasi dengan perwakilan PT Astra Internasional.

Workshop Wayang Kulit

Pendi membeberkan rencana teknis pelaksanaan program KBA di Butuh. Di bidang pendidikan, pengrajin wayang kulit bersepakat menggelar demo pembuatan wayang kulit di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat PAUD hingga SMA di seputaran Butuh. 

Untuk jangka panjang, warga ingin kegiatan membuat wayang kulit menjadi kegiatan ekstrakurikuler siswa di sekolah. Selain demo pembuatan wayang kulit di sekolah, warga bersama Astra Group berencana menyediakan kelas workshop pembuatan wayang kulit di kampung.

“Jadi gayung bersambut. Jika di antara para siswa ada yang berminat berlatih tatah sungging atau sekolah mau mengadakan kegiatan ekstrakurikuler kerajinan wayang, bisa ke kelas workshop di kampung. Kan anak-anak yang berminat belajar itu tidak selalu orang tuanya pengrajin wayang kulit. Bisa jadi ada anak pengrajin yang lebih nyaman belajar tatah sungging bersama teman-temannya di luar ketimbang belajar di rumah sendiri,” terang Pendi.

PT Astra Internasional memberikan dukungan berupa alat-alat keperluan tatah sungging kepada salah satu pengrajin wayang kulit yang rumahnya dipilih menjadi lokasi kelas workshop. Ada 10 paket alat tatah sungging yang rencananya diberikan PT Astra Internasional kepada pengelola kelas workshop. Dalam program pendidikan di KBA Butuh, PT Astra Internasional juga memberikan beasiswa pendidikan kepada 35 siswa asal Butuh.

“Sedangkan program kewirausahaan, akan diisi dengan kegiatan pembekalan kepada para pengrajin, seperti pembenahan administrasi usaha, perluasan jaringan promosi, hingga pentingnya inovasi karya. Kemarin sempat disampaikan dari pihak Astra, para pengrajin wayang kulit di Butuh perlu inovasi. Misalnya, pengrajin bisa mulai memproduksi wayang-wayang kecil yang bisa dijadikan suvernir acara,” ungkap Pendi yang aktif menjadi pengrajin wayang kulit karena ingin melestarikan warisan budaya tersebut.

Rencana lainnya, warga Butuh membentuk pengurus bank sampah dan membangun infrastruktur pendukungnya dengan memanfaaatkan dana bantuan dari PT Astra Internasional. Setelah bank sampah terbentuk, seluruh warga Butuh akan didorong untuk rutin memilah sampah organik dan anorganik. 

“Selanjutnya program kesehatan. Di program ini, kami akan memprioritaskan pendekatan ke warga lansia. Bersama Astra, kami akan coba rutin mengadakan penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan gratis untuk mereka. Tapi tidak menutup kemungkinan program kesehatan akan diarahkan kepada kelompok masyarakat lain. Misalnya saja, pemeriksaan kesehatan mata bagi para pengrajin wayang kulit. Mata mereka perlu dicek, apakah kini mengalami gangguan penglihatan atau tidak?” kata Pendi.

Pendamping Program KBA Butuh dari Astra Solo, Wahyu Triyono, menjelaskan KBA merupakan program kontribusi sosial berkelanjutan Astra yang diimplementasikan dengan konsep pengembangan sinergi empat pilar program, yaitu pendidikan, kewirausahaan, lingkungan dan kesehatan. Melalui program KBA diharapkan warga dan perusahaan Astra Group dapat berkolaborasi untuk bersama-sama mewujudkan wilayah yang produktif, bersih, sehat, dan cerdas sehingga bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Dukuh Butuh dipilih menjadi KBA karena memiliki potensi budaya kerajinan wayang kulit. Kami menyadari di era moderinasasi seperti sekarang ini tidak mudah mengajak anak-anak untuk belajar tatah sungging. Kami berharap dengan adanya program ini warga Butuh semakin bersemangat untuk berjuang melestarikan dan mengembangkan tradisi membuat wayang kulit,” tutur Wahyu.

Wahyu menceritakan pengrajin wayang di Dukuh Butuh selama ini hanya bersinergi dengan pelaku usaha kecil lain penyedia kulit ternak dan pembuat bilah wayang. PT Astra Indonesia berharap ketika kerajinan wayang kulit di Butuh terus hidup dan berkembang, usaha kecil lain yang berkaitan ikut sejahtera.

Astra Group memberikan pendampingan dalam program KBA di Butuh selama lima tahun. Selama itu, Astra Group akan mengevaluasi rutin tiap tahun untuk melihat keberhasilan program KBA. Astra Solo menargetkan Dukuh Butuh sebisa mungkin mapan sebagai destinasi wisata budaya sebelum 2023, atau 2-3 tahun ke depan.

Anggota Komisi 1 DPRD Klaten, Sukari, mendukung pelaksaan program KBA yang menyasar Dukuh Butuh. Dia akan mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten turut serta menyukseskan program tersebut.

Menurut Sukari, sangat mungkin Pemkab Klaten mengadakan program beriringan dengan Astra di wilayah Dukuh Butuh. Misalnya, Pemkab membangunkan gapura penanda kampung pengrajin wayang kulit yang bisa dengan mudah dilihat wisatawan.

“Pemkab saya rasa bisa ikut masuk dengan mengadakan program di Dukuh Butuh agar proses pengembangan destinasi wisata budaya cepat tuntas. Pemkab bisa tangani infrastruktur maupun pengembangan SDM yang mungkin belum tersasar program warga bersama Astra,” tutur Sukari saat dihubungi solopos.com



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom