Menyehatkan Lahan Sakit

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 10 Juni 2021. Esai ini karya Bambang Pujiasmanto, guru besar di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.

 Bambang Pujiasmanto (Istimewa/Dokumen pribadi)

SOLOPOS.COM - Bambang Pujiasmanto (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Pada tahun 1970-an intensif dikampanyekan dan direalisasikan gerakan revolusi hijau (green revolution) untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia, terutama demi tersedianya bahan pangan sumber karbohidrat, yaitu yang berasal dari tanaman padi (Oryza sativa L.).

Gerakan ini di Indonesia terwujud dalam program yang disebut panca usaha tani, yaitu penerapan benih unggul, pengolahan tanah yang baik, penggunaan pupuk, pemberian air atau irigasi, pemberantasan hama dan penyakit. Setelah eksplosi hama wereng program ini diganti dengan istilah pengendalian hama dan penyakit serta penentuan panen.

Setelah berlangsung lebih dari dua dekade, yakni pada tahun 1990-an, baru disadari bahwa gerakan revolusi hijau tersebut perlu beberapa revisi. Revolusi hijau mengakibatkan lahan banyak yang terdegradasi sampai sakit karena penerapan pupuk maupun pestisida yang berlebihan, melebihi yang telah direkomendasikan.

Untuk mengatasi lahan yang sakit ini ada yang menerapkan strategi menggunakan pembenah tanah (soil conditioner) yang memungkinkan terjadi perbaikan struktur tanah dan kapasitas tanah menahan dan melalukan air serta dapat memperbaiki kemampuan tanah menahan hara tanaman. Air dan zat hara tersedia bagi tanaman sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman berjalan normal.

Strategi ini juga menjaga lingkungan dari bahaya erosi sehingga tersedia air, hara, dan udara secara baik. Dengan demikian hasil panen dari budi daya pertanian yang diperoleh optimal. Berdasarkan data di Jurnal Sumber Daya Lahan, Volume 2 (2), Tahun 2015, bahan pembenah tanah dibagi dua, yakni  pembenah alami dan sintetis (buatan).

Berdasarkan pembentuknya pembenah tanah dapat dibedakan dalam tiga kategori, yakni pembenah tanah organik, pembenah tanah hayati, dan pembenah tanah anorganik. Pembenah tanah organik dibedakan menjadi pembenah organik alami dan pembenah organik sintetis  atau buatan.

Contoh pembenah tanah organik adalah pupuk kandang dan biomassa golongan Leguminosae (kacang-kacangan) seperti lamtoro, kaliandra, serta sisa panen seperti jerami padi dan brangkasan jagung. Beberapa negara maju seperti Jepang dan Australia mengembangkan pembenah tanah organik alami berupa arang (biochar/charcoal) yang berasl dari residu kayu, sekam,  atau bahan lainnya.

Pembenah tanah sintetis yang cukup dikenal adalah hydrogel yang diformulasi melalui proses pabrikasi. Pembenah tanah ini mempunyai kemampuan mengikat air yang cukup tinggi hingga 500 kali bobotnya sehingga berguna bagi tanah yang didominasi pasir dan tanah dengan kandungan bahan organik rendah. Pembenah anorganik terdiri atas pembenah tanah anorganik alami dan sintetis.

Pembenah tanah sintetis dikenal di kalangan peneliti sejak tahun 1970-an dan sudah diterapkan untuk perbaikan sifat tanah andisol, ultisol, dan tanah litosol. Pembenah tanah anorganik sintetis antara lain emulsi bitumen, polyacrilamid, dan hydrogel anorganik.

Tanaman Penutup

Emulsi bitumen dapat dibuat dari aspal dengan campuran bahan tertentu untuk menurunkan tingkat kekentalannya. Ada dua jenis emulsi bitumen yaitu emulsi yang bersifat hidrofilik yang mampu menyerap air dan hidrofobik yang tidak mampu menyerap air.

Pembenah tanah anorganik alami antara lain kapur pertanian, dolomite, dan zeolit. Kapur pertanian pada umumnya digunakan untuk meningkatkan reaksi masam menjadi agak masam agar pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik.

Dolomit digunakan untuk tanah masam dan tanah yang mengalami kekurangan Mg sehingga selain menurunkan kemasaman juga mampu menambah hara Mg. Kapur pertanian dan dolomit berfungsi sebagai pembenah tanah dalam jangka waktu yang panjang, tetapi memiliki pengaruh yang kurang menguntungkan bagi keseimbangan hara tanah.

Hal ini disebabkan aktivitas mikroorganisme perombak menjadi lebih aktif sehinggga akan lebih cepat menyebabkan bahan organik tanah menjadi cepat berkurang. Zeolit adalah mineral senyawa alumina silikat  hidrat yang berasal dari batuan beku atau tufa vulkanik yang telah mengalami proses alterasi.

Sebagai pembenah tanah, zeolit mampu mempertahankan kadar air tanah tetap tinggi sampai dengan 14 hari setelah hujan dan mampu meningkatkan kadar kalium. Pembenah tanah hayati merupakan pembenah tanah dengan bahan aktif mikroba, terutama mikroba penghasil eksopolisakarida (EPS), yaitu antara lain Pseudomonas, Agrobacterium, dan Rhizobium.

Pembenah hayati berbeda dengan pupuk hayati karena fungsi utamanya memperbaiki struktur tanah, sedangkan pupuk hayati untuk ketersediaan hara. Sebagian petani telah mengaplikasikan meskipun dalam dosis rendah.

Dosis terbatas ini dalam praksisnya adalah penggunan bahan organik seperti sisa tanaman atau pupuk kandang yang merupakan sumber pembenah tanah.  Penggunaan bahan organik sebagai pembenah tanah dapat mendukung konservasi karbon tanah.

Hal demikian dapat mendukung mitigasi perubahan iklim dengan memperbesar simpanan karbon dalam tanah dan menekan pelepasan karbon dalam bentuk gas rumah kaca.  Untuk memenuhi keterbatasan jumlah bahan organik dapat dilakukan penanaman tanaman penutup tanah (cover crops) yang pada umumnya golongan Leguminosae (kacang-kacangan).

Penanaman tanaman penutup tanah ini jamak pada saat lahan bera atau sebagai persiapan menanam. Agar penggunaan pembenah tanah dapat berkelanjutan perlu pembekalan bagi petani. Pembekalan ini penting agar para petani mampu memproduksi bahan pembenah tanah dari sumber atau bahan yang tersedia di sekitar tempat domisili petani.

Prinsip dasarnya adalah bahan yang murah dan bahan terbarukan (renewable).  Pembenah tanah organik dapat diperkaya dengan bahan lainnya seperti zeolit, kapur, atau bahan hasil sampingan pengolahan hasil pertanian.

Unsur hayati juga dapat digunakan untuk pembenah tanah, sedangkan penggunaan pembenah tanah sintetis sebaiknya dihindari karena ada dampak negatif terhadap lingkungan. Tentu yang dimaksud dampak negatif bagi lingkungan ini adalah dampak buruk, dampak yang merusak.

Penggunaan pembenah tanah organik diharapkan sebagai upaya memperbaiki struktur tanah agar memenuhi syarat hidup komoditas tanaman yang diusahakan. Tanaman dapat melangsungkan proses metabolisme dengan baik sehingga hasil yang diperoleh  dari tanaman yang diusahakan dapat optimal.

Berita Terkait

Berita Terkini

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.

Pitulungan

Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seni Memasarkan PPKM Level 4

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Sabtu 7 Agustus 2021, ditulis oleh Mohammad Eko Fitrianto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.

Sepekan Penuh Kejutan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 6 Agustus 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pidana Sumbangan Rp2 Tiliun dan Hoax yang Difasilitasi

Opini ini ditulis Ahmadi H. Dardiri M.H., Sekjen Pusat Studi Peraturan Perundang-undangan (PSPP) IAIN Salatiga dan Dosen Fakulutas Syariah IAIN Salatiga