Tutup Iklan
Abu Nadhif/Dokumen Solopos

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (15/4/2019). Esai ini karya Abu Nadhif, jurnalis Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah abu.nadhif@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Mencari 11 orang yang piawai menggocek bola dari 267 juta penghuni negara Indonesia ternyata sebanding sulitnya dengan menegakkan benang basah. Tentu saja piawai menggocek bola di sini adalah untuk level Asia. Tiap tahun prestasi tim nasional Indonesia selalu mentok di level Asia Tenggara. Itu pun prestasi tim nasional di level junior.

Indra Sjafrie dua kali mempersembahkan trofi (Piala AFF U19 2013 dan Piala AFF U22 2019) sedangkan Fahri Husaini satu kali, yakni Piala AFF U16 2018. Di level senior yang menjadi parameter federasi sepak bola dunia, FIFA, tim garuda nirprestasi lebih dari dua dekade terakhir. Kemampuan terbaik tim nasional adalah lima kali menjadi runner up Piala AFF. Indonesia sulit keluar dari bayang-bayang Thailand. Ini menyedihkan untuk negara yang kegilaan rakyatnya pada urusan sepak bola tidak kalah daripada Brasil dan Italia.

Berbagai cara memang sudah dicoba. Pada era 1990-an, publik sepak bola Indonesia pernah punya kenangan manis dengan kiprah skuat Merah Putih berlabel PSSI Primavera dan Barreti. Proyek prestisius mengembangkan potensi tim nasional Indonesia U-19 itu kini jadi romantika tersendiri bagi pencinta skuat garuda.

Di tangan juru taktik Italia, Romano Matte, lahir bintang-bintang legendaris seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Kurnia Sandy, Bima Sakti, dan Yeyen Tumena. Mereka menjadi pilar andalan tim nasional Indonesia. Meski gagal menembus Olimpiade Atlanta 1996 sebagai target utama, PSSI Primavera punya catatan apik sebagai tim muda Asia pertama yang masuk kompetisi resmi di Italia. Kurniawan, Kurnia Sandy, dan Bima Sakti pernah bergabung dalam skuat raksasa Serie A kala itu: Sampdoria.

Proyek serupa diulangi pada 2008. Puluhan pemain muda berbakat dikirim PSSI ke Uruguay dengan nama Sociedad Anonima Deportiva (SAD). Mencuat nama Syamsir Alam dan kawan-kawan yang menjadi harapan prestasi sepak bola Indonesia.

Nasib SAD tidak lebih baik dari Primavera dan Barreti. Generasi SAD gagal lolos ke putaran final Piala Asia U-19 yang digelar di Bandung pada November 2009. Meski tiga kali gagal, PSSI tidak kapok dengan proyek tersebut.

Pemain Muda

Mulai 19 Januari lalu federasi sepak bola nasional itu mengirimkan 24 pemain muda yang sebagian besar penggawa tim nasional U-16 berlatih ke Inggris dengan nama Garuda Select. Ada sosok tenar seperti Bagus Kahfi (Barito Putera), Sutan Zico (Persija Jakarta), dan Amanar Abdillah (Persib Bandung) dalam tim yang sudah beruji coba dengan sejumlah klub di Inggris tersebut.

Di Inggris puluhan talenta muda negeri ini dibimbing legenda Chelsea, Dennis Wise dan Des Walker (mantan pemain Sampdoria yang kini membesut tim junior Derby County). Sesuai rencana, anak-anak muda itu bakal berlatih di Inggris hingga Mei mendatang. Efektifkah program tersebut membentuk tim nasional yang kuat? Mantan bintang Primavera, Kurniawan Dwi Juliyanto, justru mengkritik program yang melejitkan namanya itu. Menurut Kurniawan, program Primavera yang pernah ia ikuti bukan program yang tepat untuk membentuk tim nasional.

Bagi dia program seperti itu seperti memindahkan tempat latihan tim nasional dari dalam negeri ke luar negeri. Pemain hanya akan mendapatkan sedikit tambahan kemampuan teknis yang meningkatkan keterampilan bermain mereka. Mereka hanya akan berinteraksi dan bermain dengan rekan-rekan mereka sendiri.

Menurut Kurniawan, yang dibutuhkan adalah mengembangkan karakteristik dan mental pemain muda. Ia menyarankan PSSI membantu beberapa pemain tim nasional bermain di sejumlah klub di luar negeri. Hal itu penting untuk membentuk mental pemain sehingga tidak grogi kala menghadapi pertandingan-pertandingan krusial. Kritikan Kurniawan pada 2016 itu memang banyak benarnya. Proyek Primavera, Barreti, SAD, dan kini Garuda Select tidak lebih dari sekadar kursus singkat.

Pemain ”dikursuskan” dalam hitungan bulan ke negeri yang pengembangan sepak bolanya bagus, lalu sekembalinya ke Indonesia diharapkan menjadi pemain andalan tim nasional dan meraih juara. Jika tujuannya sekadar menerbitkan pemain tenar, proyek ”studi banding” itu berhasil. Kurniawan dan Kurnia Sandy (PSSI Primavera), Elie Aiboy dan Uston Nawawi (PSSI Barreti), serta Hansamu Yama (SAD Uruguay) adalah contoh. Apakah mereka kemudian berprestasi secara tim dan meraih juara di level Asia seperti yang ditargetkan? Ternyata tidak.

Kebanyakan para pemain alumnus proyek-proyek mercusuar tersebut akhirnya hanya bermain di klub dalam negeri. Kalaupun ada yang bermain di luar negeri, kiprah mereka relatif singkat dan tidak menghasilkan prestasi. Di mana persoalan mendasar yang membuat prestasi tim nasional ngadat? Menurut saya, ini persoalan mindset. Pola pikir harus diubah. Sikap mental pemain harus menjadi proyek utama PSSI untuk dibenahi.

Kalau hanya berkutat soal kemampuan teknis menggocek bola, pemain kita tidak kalah dari Thailand dan Vietnam yang kini menjadi momok Asia Tenggara. Kalau persoalan mental bisa dibenahi, permainan anak-anak muda Indonesia pasti menggila.

Serbakalah

Tengok saja saat tim nasional U-16 asuhan Fachri Husaini mempermalukan tim nasional Iran pada laga perdana Piala Asia 2018 di Stadion Bukit Jalil, 21 September 2018 lalu. Pada laga tersebut, Bagus Kahfi dan kawan-kawan kalah postur, kalah keterampilan individu pemain, hingga kalah teknik kemampuan bermain. Yang menonjol kala itu adalah mental bertanding yang luar biasa. Mereka mampu mengontrol diri dan tim secara bersamaan. Yang terjadi kemudian mereka mampu mengimbangi Iran melalui permainan yang ngotot. Sikap mental yang bagus terbukti mampu mengubah hasil pertandingan.

Evan Dimas dan kawan-kawan juga menunjukkan kedahsyatan kekuatan mental kala memecundangi Korea Selatan 3-2 dalam Kualifikasi Piala Asia U-19 di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 12 Oktober 2013. Jauh sebelum itu tim nasional Korea Selatan sudah membuktikan saat memulangkan tim kuat Italia dalam Piala Dunia 2002.

Proyek Primavera, Barreti, dan Garuda Select memang memberi banyak pelajaran berharga bagi pemain. Jika akhirnya mereka kembali dan hanya bermain di Liga Indonesia yang masih semrawut ini, semua akan percuma. Program berbiaya tinggi itu hanya akan menjadi proyek instan yang tidak akan menghasilkan apa pun. Kualitas pemain jebolan ”proyek PSSI” tidak akan berbeda jauh dengan kualitas pemain jebolan sekolah sepak bola (SSB) yang bertaburan di berbagai tempat di negeri ini.

Jadi, salah satu proyek yang perlu dicoba adalah memfasilitasi pemain-pemain terbaik Indonesia untuk bisa bermain di klub-klub besar di luar negeri. Dengan mandiri di masing-masing klub tersebut, mental pemain akan terasah. Mereka tidak akan demam lapangan saat harus bertarung dengan tim-tim kuat Asia.

Meski belum sempurna, mental dan gaya bermain Egy Maulana Fikri yang kini bermain di klub Lechia Gdansk (Polandia) terlihat lebih bagus. Jangan pernah menengok kembali proyek naturalisasi, sebab itu adalah kabar buruk bagi sepak bola Indonesia.  

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten