Menolak Dikawal, Jenderal Hoegeng: Kalau Mau Mati Ya Mati

Mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sempat memujinya dengan berkata,"Hanya ada 3 polisi jujur di negara ini yakni polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng".

 Salah seorang cicit dari mantan Kapolri Jenderal Polisi Drs. Hoegeng Imam Santoso memegang buku berjudul "Dunia Hoegeng, 100 Tahun Keteladanan" dalam rangka 100 tahun Pak Hoegeng yang ditulis oleh wartawan senior Farouk Arnaz di Jakarta, Minggu. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

SOLOPOS.COM - Salah seorang cicit dari mantan Kapolri Jenderal Polisi Drs. Hoegeng Imam Santoso memegang buku berjudul "Dunia Hoegeng, 100 Tahun Keteladanan" dalam rangka 100 tahun Pak Hoegeng yang ditulis oleh wartawan senior Farouk Arnaz di Jakarta, Minggu. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Solopos.com, JAKARTA — Cerita heroik Kapolri Hoegeng seolah tidak ada habisnya, salah satunya penolakannya saat akan diberi pengawal pribadi di kediamannya.

Hoegeng merupakan salah satu tokoh Kepolisian Republik Indonesia yang terkenal paling jujur. Mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sempat memujinya dengan berkata,”Hanya ada 3 polisi jujur di negara ini yakni polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng”.

Hoegeng sempat menjabat menjadi Sekretaris Kabinet Indonesia pada tahun 1966. Ada kisah yang unik saat Hoegeng menjadi Sekertaris Kabinet Indonesia, pada saat pengangkatannya menjadi menteri.

Sekretarisnya yang bernama Dharto ingin mengetahui apa saja hak yang didapatkan oleh Hoegeng saat menjabat. Lalu ia melapor kepada Kepala Biro I Bidang Administrasi dan Organisasi Setneg, Sarjono Hanggoro.

Menurut Hanggoro, Hoegeng berhak memperoleh pengawal pribadi di rumah atau di kantor, kemudian uang operasional, beras 100kg, gula 50kg dan minyak goreng satu kaleng.

Saat itu uang operasional dapat diwakili pengambilannya oleh Dharto di Bagian Keuangan Setneg jika Hoegeng tak bisa mengambilnya. Untuk bahan pokok setiap bulannya Dharto harus datang sendiri di Yayasan Soedirman bertemu dengan Roto Soewarno.

Baca Juga: Ternyata Kapolri Hoegeng Tak Ingin Anaknya Jadi Polisi, Ini Alasannya 

Dharto melaporkan hal tersebut kepada Hoegeng. Namun ciri khas yang kuat pada sisi Hoegeng adalah tidak ingin memanfaatkan fasilitas negara. Hoegeng berkata kepada Dharto secara halus karena menolak fasilitas tersebut.

Dikutip dari buku Hoegeng Polisi dan Mentri Teladan karya Suhartono, Hoegeng berkata, “Mas Dharto sampaikan salam hormat dan terima kasih Hoegeng kepada Pak Hanggoro. Sampaikan juga permohonan maaf Hoegeng karena Hoegeng tidak memerlukan pengawal pribadi di kantor maupun di rumah.”

Alasan Hoegeng tidak ingin mengambil pengawal pribadi untuk dirinya, dia tetap bisa bekerja dengan baik meskipun tanpa adanya pengawal. Hoegeng takut teman-temannya tidak ada yang ingin berkunjung ke rumah lantara harus melapor jika ke rumahnya.

“Hidup Hoegeng berserah saja, tak perlu dikawal-kawal. Kalau Hoegeng mau mati ya mati saja. Tidak usah pakai pengawal atau penjaga di rumah. Nanti teman-teman Hoegeng tidak ada yang berani berkunjung ke rumah karena harus lapor lebih dulu ke petugas penjaga. Jadi, tidak usah, Mas Dharto. Biar saja bebas,” tambahnya.

Tak sampai situ kesederhanaan Hoegeng. Jenderal polisi itu tidak memakai fasilitas negara sejak dipercaya sebagai Kepala Jawatan Imigrasi Indonesia maupun Mentri Iuran Negara.

Berita Terkait

Espos Plus

Drone Makin Dibutuhkan, Pengembangan Teknologi Pesat

+ PLUS Drone Makin Dibutuhkan, Pengembangan Teknologi Pesat

Teknologi drone berkembang pesat. Kegunaan drone makin beragam di banyak sektor. Perusahaan-perusahaan drone mengembangkan pasar berbasis kebutuhan dan manfaat.

Berita Terkini

Kader Terbaik Ustaz Yusuf Mansur Meninggal Kecelakaan, Ini Kisahnya

Ustaz Mahfudz Fauzi meninggal dunia dalam kecelakaan di ruas Tol Pejagan-Pemalang, tepatnya di KM 281+700 jalur A, Rabu (19/1/2022) lalu.

Getol Kritik Yusuf Mansur, Ini Target Sudarso Arief Bakuama

Sudarso mengaku pada 21 Januari 2022 lalu mereka berdua didatangi seorang kerabat Yusuf Mansur berinisial B.

Pengembangan Teknologi Industri Kesehatan Dukung Kemandirian Nasional

Sektor industri kesehatan termasuk di dalamnya industri farmasi, merupakan salah satu sektor yang diutamakan dalam kondisi pandemi saat ini.

Pernah Miskin, Khaby Lame Kini Konten Kreator Ternama Tanpa Kata-Kata

Khaby Lame salah satu konten kreator paling populer di dunia melalui video yang diunggah di media sosial seperti Instagram dan Tiktok.

Ini Dassault Rafale, Pesawat Tempur Incaran Menhan Prabowo Subianto

Rafale dirancang sebagai pesawat berpangkalan di daratan maupun di kapal induk.

Pemerintah Bakal Beli 36 Pesawat Dassault Rafale

Dassault Rafale adalah pesawat tempur serbaguna generasi ke-4.5, bermesin dua, dan bersayap delta asal Prancis yang dibuat oleh Dassault Aviation.

Muhammadiyah: Kebijakan PPPK Ancam Penyelenggara Pendidikan Swasta

Muhammadiyah mengusulkan guru honorer yang lulus seleksi PPPK ditempatkan di sekolah awal tempat mereka mengajar.

Elon Musk Ungkap Kekhawatiran Punahnya Populasi Manusia, Ini Sebabnya

Elon Musk mengungkapkan kekhawatirannya akan populasi manusia yang terancam punah akibat menurunnya angka kelahiran dan tingkat kesuburan.

Inna Lillahi, Ustaz Yusuf Mansur Kehilangan Kader Terbaik

Saat menulis status di Instagram itu Yusuf Mansur tengah dalam perjalanan ke Tegal untuk menjemput jenazah almarhum.

Ini Beda Dua Gugatan TKW terhadap Ustaz Yusuf Mansur di PN Tangerang

Ustaz Yusuf Mansur menghadapi gugatan kedua terkait investasi tabung tanah, di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Selasa (18/1/2022) lalu.

+ PLUS Mengukur Urgensi Dana APBN untuk Proyek IKN

“Karena dananya hampir setengah kuadriliun rupiah, jadi bukan bicara triliun lagi.”

+ PLUS Terburu-Buru Menuju Bonus Sambal Terong

Pembahasan RUU IKN hingga ditetapkan menjadi undang-undang hanya butuh waktu 42 hari. Undang-undang ini potensial digugat ke Mahkamah Konstitusi terutama karena aspek partisipasi publik yang tidak bermakna.

Eks TKW Gugat Yusuf Mansur karena Somasi Tidak Digubris

Gugatan itu dilayangkan setelah upaya persuasif dengan menelepon dan mengirim somasi tidak digubris oleh Yusuf Mansur.

KPK Sita Uang Ratusan Juta Hasil OTT Hakim dan Panitera PN Surabaya

KPK menyita uang ratusan juta rupiah saat melakukan OTT Hakim PN Surabaya, Itong Isnaeni Hidayat, panitera pengganti PN Surabaya, Mohammad Hamdan, dan pengacara di Surabaya, Rabu (19/1/2022).

Terkuak! Hakim PN Surabaya yang Terkena OTT KPK Punya Tanah di Solo

Hakim PN Surabaya, Itong Isnaeni Hidayat, yang terjaring OTT KPK memiliki tanah dan bangunan di wilayah Soloraya, yakni Kota Solo dan Kabupaten Boyolali.