Tutup Iklan

Menjaga Kebudayaan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 2 Juni 2021. Esai ini karya Yuliyanti Dewi Untari, guru Bahasa Jawa di SMAN 1 Solo.

Menjaga Kebudayaan Kita

SOLOPOS.COM - Yuliyanti Dewi Untari (Istimewa/Dokumen pribadi).

Solopos.com, SOLO -- Indonesia memiliki budaya yang beragam. Tiap provinsi memiliki budaya masing-masing. Jawa Tengah yang terdiri dari 35 kabupaten/kota tentu memiliki 35 kekhasan daerah masing-masing. Penjagaan budaya saat ini dilakukan dengan berbagai cara. Aneka cara yang ditempuh sepertinya belum menyentuh generasi muda agar  mencintai kebudayaan sendiri.

Di tempat saya mengajar ekstrakurikuler budaya Jepang lebih diminati daripada ekstrakurikuler karawitan atau tari tradisional Jawa. Kita tidak bisa begitu saja menyalahkan kaum uda. Mereka berbuat seperti itu karena tidak tahu betapa menariknya kebudayaan kita. Media berpengaruh besar pada ketertarikan seseorang.

Saat ini media lebih memilih menampilkan drama dari belahan dunia lain dibanding mengangkat cerita asli dari kebudayaan sendiri. Perlu berbagai pendekatan agar generasi milenial mencintai budaya sendiri. Mereka bukan tidak cinta, hanya tidak tahu. Semacam tak kenal maka tak sayang. Begitulah generasi muda pada kebudayaan mereka.

Kebudayaan kita termasuk maju. Kebudayaan kita memiliki aksara sebagai wujud kemajuan literasi. Dua pertiga naskah Jawa kuno masih ada di Belanda. Ini menjadikan kita berpikir sebenarnya kebudayaan kita sangat menarik. Pemerintah colonial Belanda pada waktu itu berusaha menjauhkan kita dari budaya sendiri agar kita tak punya jati diri sehingga mudah dipengaruhi.

Silakan baca cerita-cerita pada zaman dahulu tentang penggambaran orang desa. Orang desa digambarkan malas dan bodoh. Penggambaran ini melekat sehingga kita mengasosiasikan orang desa seperti gambaran para penulis masa lalu itu. Cara ini efektif mengirim anak-anak muda pergi ke kota dan enggan membangun desa, meninggalkan kebudayaan mereka.

Kondisi ini yang sedang terjadi pada generasi muda. Apabila kita terus membiarkan hal ini berlanjut, tidak ada upaya mendekatkan kebudayaan sendiri kepada generasi muda, mereka akan kehilangan jati diri. Pelestarian kebudayaan daerah mestinya secara menyeluruh, tidak hanya tampak luarnya.

Pertunjukan-pertunjukan kesenian sebagai karya kebudayaan daerah digelar secara spektakuler namun nilai-nilai kebudayaan yang melatari kesenian daerah itu muncul tidak dikelola dengan baik. Generasi muda masa kini yang terbiasa melihat permukaan pada akhirnya hanya akan melanjutkan pertunjukan sebagi rutinitas tanpa makna.

Tentu berbeda bila ada pemahaman mendalam terhadap pergelaran seni. Generasi penerus akan mencintai budaya dengan hati, pikiran, dan indra. Media digital dan media sosial yang saat ini sangat digemari kaum muda mestinya dimanfaatkan untuk mengenalkan generasi muda kepada akar kebudayaan.

Setelah Kongres Aksara Jawa di Jogja pada Maret 2021  lalu, pengenalan aksara Jawa untuk pengetikan di telepon seluler mulai dilakukan. Ini salah satu upaya mengenalkan aksara Jawa kepada generasi pemegang gawai. Organisasi kemasyarakatan yang intensif memproduksi konten bersumber budaya Jawa juga upaya untuk mengenalkan kebudayaan Jawa kepada generasi muda.

Mutiara Budaya Jawa

Solo Bersimfoni adalah salah satu organisasi kemasyarakatan yang mengangkat nilai-nilai budaya Jawa untuk kaum milenial. Organisasi ini aktif memproduksi konten media sosial bertajuk Hasthalaku. Nilai-nilai tersebut adalah guyub rukun, gotong royong, tepa selira, ewuh pekewuh, pangerten, grapyak semanak, lembah manah, dan andhap asor. 

Guyub rukun bermakna berkumpul, berkelompok, yang dapat bermakna pula sebagai rukun. Guyub dapat bermakna kebersamaan sedangkan rukun bermakna keselarasan, kehidupan tanpa perselisihan, pertikaian, dan konflik. Apabila digabungkan guyub rukun merupakan kondisi yang damai, selaras tanpa pertikaian, yang dijaga secara bersama-sama.

Budaya Jawa mengajarkan pepatah rukun agawe santosa crah agawe bubrah yang bermakna kerukunan akan menciptakan kedamaian, keharmonisan, dan kesejahteraan. Pertikaian akan menciptakan perpecahan dan disharmoni antarsesama. Guyub rukun digambarkan sebagai situasi ideal masyarakat hidup dalam keharmonisan.

Bukan karena semua sama, tetapi mampu menyelaraskan keberagaman ke dalam satu situasi yang diperjuangkan bersama. Gotong royong berasal dari kata gotong yang artinya memikul atau mengangkat dan royong yang artinya bersama-sama. Gotong royong adalah bekerja bersama-sama secara tolong-menolong, bantu-membantu. Gotong yong merupakan istilah asli Indonesia yang menjadi landasan semangat membangun bangsa.

Presiden Sukarno menyampaikan makna gotong royong sebagai pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, dan perjuangan bantu-membantu bersama. Gotong royong sesuai dengan definisi Aristoteles tentang manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan manusia lain.

Koentjaraningrat membagi gotong royong menjadi dua jenis, gotong royong tolong-menolong dan gotong royong kerja bakti. Gotong royong tolong-menolong terjadi pada aktivitas pertanian, rumah tangga, hajatan atau pesta, perayaan, serta peristiwa bencana. Gotong royong kerja bakti biasanya dilakukan untuk mengerjakan sesuatu untuk kepentingan umum seperti bersih desa.

Tepa selira merupakan konsep masyarakat Jawa dalam bersikap. Tindakan yang dilakukan seseorang akan diterima atau dirasakan orang lain. Tepa selira berarti bercermin diri. Konsep tepa selira memiliki padanan dengan konsep tenggang rasa. Bertenggang rasa adalah suatu sikap hidup dalam ucapan, perbuatan, tingkah laku yang mencerminkan menghargai dan menghormati orang lain.

Ewuh pekewuh terkait kesopanan seseorang. Ewuh pekewuh dapat muncul akibat individu mengenal atau menerima suatu kebaikan dari orang lain sehingga bagi individu itu sulit menolak atau mengabaikan permintaan orang tersebut. Ewuh pekewuh biasanya cenderung dihadapi orang yang lebih muda terhadap orang yang lebih tua.

Soeharjono (2011) mendefenisikan ewuh pekewuh sebagai sikap sungkan atau rasa segan serta menjunjung tinggi rasa hormat. Menurut Tobing (2010), ewuh pekewuh merupakan nilai dalam masyarakat Jawa yang terdiri dari beberapa prinsip yang sangat erat hubunganya, yaitu kerukunan dan hormat.

Saling menghargai dalam kehidupan bermasyarakat akan membuahkan kerukunan, ketenangan, perdamaian sehingga membangun persatuan bangsa. Dalam budaya Jawa, pangerten adalah kunci utama kehidupan bermasyarakat. Pangerten dalam bahasa Indonesia berarti berpengertian atau peka pada kondisi sesama.

Ciri-ciri Kepribadian

Manusia diciptakan Tuhan dengan berbagai perbedaan. Dalam masyarakat yang majemuk, masing-masing anggota masyarakat dituntut hidup dengan orang lain yang memiliki perbedaan tersebut. Perbedaan dalam masyarakat mestinya dipandang sebagai rahmat Tuhan. Sikap pangerten digunakan untuk memahami perbedaan tanpa perselisihan.

Grapyak artinya seneng aruh-aruh dan semanak berarti hangat dan mudah akrab. Grapryak semanak ditunjukan dengan kebiasaan menyapa orang yang dikenal maupun orang yang baru ditemui. Grapyak semanak adalah sikap pada diri sesorang yang akrab dan menyenangkan dalam pergaulan, seperti suka tersenyum, sopan, dan hormat dalam pembicaraan, suka menyapa, suka membantu tanpa pamrih.

Grapyak semanak menjadikan orang yang baru saja ditemui merasa nyaman dan tidak terasing serta dapat mencairkan suasana dalam berkomunikasi. Grapyak semanak perlu dikembangkan dalam kehidupan sehari- hari. Lembah manah adalah sikap seseorang yang tidak merasa lebih daripada orang lain.

Seseorang dengan sikap lembah manah dapat memosisikan diri sama dengan orang lain, tidak merasa lebih pintar, tidak merasa lebih mahir atau menyombongkan jabatan yang dimiliki, dan menghargai orang lain. Seseorang yang memiliki sikap lembah manah tidak akan bersikap sombong, relatif rendah hati memandang orang lain sama sebagai ciptaan Tuhan yang wajib dihargai dan dihormati.

Lembah manah suatu sikap yang sangat perlu untuk dikembangkan dalam kehidupan agar manusia terhindar dari gaya hidup pamer yang berujung pada terlilit utang. Andhap asor tidak berarti rendah diri, tetapi rendah hati. Andhap asor adalah sikap seseorang yang tidak membedakan golongan, pangkat, kedudukan, maupun kekayaan.

Orang yang bersikap andhap asor tidak mau menonojolkan diri meskipun sebenarnya ia memiliki kemampuan. Orang Jawa sangat mengutamakan andhap asor bila berhubungan dengan orang lain. Orang yang andhap asor justru akan dihormati oleh orang lain daripada orang yang menganggap remeh orang lain.

Nilai-nilai budaya Jawa terbukti dan teruji untuk menyatukan Majapahit kala itu. Saat teknologi komunikasi beum secanggih sekarang, para pendahulu menggunakan nilai-nilai kebudayaan Jawa sebagai alat pemersatu. Kita harus berbenah menggali nila-nilai budaya Jawa untuk pijakan persatuan bangsa.

Nilai-nilai budaya perlu digaungkan di media sosial agar generasi milenial lebih dekat dan lebih memahami. Saat kita memahami budaya sendiri tentu kita akan sangat percaya diri berdialog dengan yang lain tentang keragaman budaya. Memahami budaya sendiri bukan untuk menunjukan budaya kita lebih unggul.

Yang terpenting adalah mengenal dan mengetahui adat dan tatakrama yang harus kita pahami sebagai ciri kepribadian kita. Setelah kita memahami kebudayaan sendiri kita akan lebih mudah memahami kebudayaan lainya. Ini akan menuntun kita berjalan beriringan di tengah keberagaman dalam persatuan.

Berita Terkait

Berita Terkini

Esensial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Juni 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Berolahraga di Tengah Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 15 Juni 2021. Esai ini karya Diksanda Savero Robiyono, mahasiswa keolahragaan di Universitas Negeri Malang.

Oposisi Biner dan Lawan Kata

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 14 Juni 2021. Esai ini karya Joko Setiyono, pustakawan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Mengenal Orang-Orang Arab di Israel

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 12 Juni 2021. Esai ini karya Ronny P. Sasmita, Direktur Eksekutif Economic Action (EconAct) Indonesia dan peminat tema-tema hubungan internasional.

Menyehatkan Lahan Sakit

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 10 Juni 2021. Esai ini karya Bambang Pujiasmanto, guru besar di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.

Guru Modis Guru Idola Masa Kini

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 9 Juni 2021. Esai ini karya Astutiati, guru di SDN 1 Brangkal, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Garuda di Dadaku

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 11 Juni 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Menjaga Kebebasan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 9 Juni 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Tantangan Feminis pada Era Kontemporer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 3 Juni 2021. Esai ini karya Ester Lianawati, penulis buku Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan, psikologi dan pendiri Hypatia Pusat Penelitian Psikologi dan Feminisme di Prancis.

Pernikahan Dini Masa Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 8 Juni 2021. Esai ini karya Dila Sulistianingsih, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang.

100 Hari Kerja Mas Wali Kota

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 7 Juni 2021. Esai ini karya Krisnanda Theo Primadita, mahasiswa pascasarjana Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Solo dan Wellness Tourism

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 5 Juni 2021. Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, dosen Marketing di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Surakarta.

Chief of Transformation Officer Itu Bernama...

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 4 Juni 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seribu Hari Masih Lama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 2 Juni 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, wartawan Solopos.

Menjaga Kebudayaan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 2 Juni 2021. Esai ini karya Yuliyanti Dewi Untari, guru Bahasa Jawa di SMAN 1 Solo.

Menggemakan Nilai-Nilai Pancasila

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 31 Mei 2021. Esai ini karya Leo Agung S., Ketua Pusat Studi Pengamalan Pancasila Universitas Sebelas Maret.

Mimpi Juara Perusahaan Teknologi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 29 Mei 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Agama dan Kemanusiaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 27 Mei 2021. Esai ini karya Joko Yuliyanto, penggagas Komunitas Seniman Nahdlatul Ulama, penulis buku dan naskah drama.

Kisah di Balik Sajian Makanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa 25 Mei 2021. Esai ini karya Adib Baroya Al Fahmi, mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia UIN Raden Mas Said Surakarta.

Memperkuat Gastro-Diplomasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 24 Mei 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Pangan dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universitas Sebelas Maret.

Kajian Fiskal Regional

Penulis adalah Pengawas pada KPPN Klaten. Pendidikan Magister Hukum UGM

Impelementasi Catur Gatra Tunggal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 22 Mei 2021. Esai ini karya Y. Argo Twikromo, dosen di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, antropolog, dan peneliti di MINDSET Institute.

Sinyal Pemulihan Kian Terang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 21 Mei 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Lebaran Covid-19

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 19 Mei 2021. Esai ini karya Suwarmin, wartawan Solopos.

PLTA Kali Samin Simbol Kemandirian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 20 Mei 2021. Esai ini karya Eko Sulistyo, Komisaris PT PLN (Persero).

Kritik untuk Sangkar Buku Kegiatan Ramadan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 19 Mei 2021. Esai ini karya Rohmah Jimi Sholihah, guru Pendidikan Agama Islam di SDN Tasikhargo, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah.

Palestina dan Jurnalisme Islam

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 18 Mei 2021. Esai ini karya Dhima Wahyu Sejati, mahasiswa Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam Institut Agama Islam Negeri Surakarta.

Jalan Panjang Pemulihan Ekonomi Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 17 Mei 2021. esai ini karya Anton A. Setyawan, guru besar Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Memaknai Desa Sadar Kerukunan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 10 Mei 2021. Esai ini karya Muhammad Taufik Ismail, anggota panitia Festival Toleransi di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Rajakaya untuk Kecukupan Daging Nasional

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 11 Mei 2021. Esai ini karya Fransiskus Raymon, mahasiswa Program Studi Peternakan Universitas Sebelas Maret.

Jangan Mendadak "Bagong"

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 6 Mei 2021. Esai ini karya Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda Badan Ketahanan Pangan Kementeria Pertanian.

Royalti, Radio, dan Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi sabtu, 8 Mei 2021. Esai ini karya Ariyanti Mahardina, freelancer yang pernah bekerja di radio dan kini masih aktif di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Solo.

Kita Harus Menjadi Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 5 Mei 2021. Esai ini karya Ardian Nur Rizki, guru di Sekolah Indonesia Luar Negeri Johor Bahru, Malaysia.

Resiliensi Sektor informal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 4 Mei 2021. Esai ini karya Muhammad Taufik Nandito, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyan Surakarta dan aktif di Lingkar Studi Sasadara di Kleco, Kota Solo.

Mitos Kekinian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 5 Mei 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute.

Narasi Tunggal Soal Mudik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat. 7 Mei 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Hadiah Lebaran dari Mas Edi

Buat saya, di tengah pandemi seperti saat ini, orang-orang seperti Mas Edi inilah bantalan kuat bagi ketahanan ekonomi Indonesia.

Wajah Pendidikan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 3 Mei 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Musnahkan Kebebalan Kawanan!

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 30 April 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Menolak Jalan Impunitas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 29 April 2021. Esai ini karya St, Tri Guntur Naryawa, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Wantok

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 28 April 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Rumah Tempat Debat dan Mufakat

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 26 April 2021. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncel Bilik Literasi.

Pelajaran Dari Gawok

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 23 April 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Sinergi Mencegah Perkawinan Anak

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 April 2021. Esai ini karya Retno Winarni, guru Bahasa Indonesia di SMAN Kerjo, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Bisnis Monyet Tanaman Hias

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 20 April 2021. Esai ini karya Nadia Aliya Azki, mahasiswa Program Studi Manajamen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

(Andai) Demokrasi Tanpa Oligarki

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 19 April 2021. Esai ini karya Siti Farida, Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah.

Perlawanan Perempuan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 April 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Singkong Goreng dan Segelas Wine

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 16 April 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI)

Punden-Punden Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 15 April 2021. Esai ini karya Albertus Rusputranto P.A., dosen di Institut Seni Indonesia Surakarta.

Membaca Perempuan Kini

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 24 April 2021. Esai ini karya Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Bukan Cuma Kebaya dan Sanggul

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 22 April 2021. Esai ini karya Elly Jauharah Asriani, guru Matematika di MTsN 7 Klaten, Jawa Tengah.

Menunggu Musikus Jadi Kaya Raya

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 17 April 2021. Esai ini karya Tito Setyo Budi, doktor Kajian Musik, wartawan, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Kabupaten Sragen.

UUD 1945 dan the Living Constitution

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 13 April 2021. Esai ini karya Salma Abiyya, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Menyikapi Waktu Subuh Yang Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 12 April 2021. Esai ini karya Muh. Nursalim, Ketua Komisi Kajian Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sragen.

Investasi Sosial Wakaf Uang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 9 April 2021. Esai ini karya Wawan Sugiyarto, analis Pusat Analisis dan Harmonisasi Kebijakan Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan dan peraih gelar akademis PhD di Queensland University of Technology, Brisbane, Australia.

Dihantui Masa Lalu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 14 April 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.

Teror dan Agama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 6 April 2021. Esai ini karya Arif Yudistira, tuan rumah Pondok Filsafat Solo.

Berolahraga di Atas Bus Berjajar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 5 April 2021. Esai ini karya Agus Kristiyanto, Guru Besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret.

Cerita dari Bontang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 7 April 2021. Esai ini karya Suwarmin, wartawan Solopos.

Mencegah Terorisme Lagi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 3 April 2021. Esai ini karya Soleh Amini Yahman, psikolog dan dosen di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Catur dan Uang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 1 April 2021. Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo.

Film sebagai Sumber Sejarah Alternatif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 31 Maret 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Harapan Kota Solo Bebas dari Sampah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 29 Maret 2021. Esai ini karya Mochamad Syamsiro, Direktur Center for Waste Management and Bioenergy dan dosen di Jurusan Teknik Mesin Universitas Janabadra Yogyakarta.

Lupakan Saja Swasembada Gula

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 24 Maret 2021. Esai ini karya Jojo, kandidat Doktor Ilmu Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor atau IPB University.

Tema dan Kontroversi Lama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 27 Maret 2021. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi.

Sisi Lain Proyek Mercusuar Presiden Joko Widodo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 27 Maret 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Filantropi Ruwahan Era Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 25 Maret 2021. Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Fakultas Adab dan Bahasa Institut Agama Islam Negeri Surakarta.

Pekerjaan Rumah Mas Wali

Soloraya akan menjadi megapolitan baru. Apalagi bila Mas Wali dapat memimpin langkah sinergi dan kolaborasi dengan pemerintahan lainnya di kawasan Soloraya.

Youtube Lebih daripada Televisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 20 Maret 2021. Esai ini karya Imam Subkhan, pengelola studio dan pembuat konten yang tinggal di Karanganyar.

Aspek Pajak dalam Zakat ASN

Rencana pemerintah untuk memotong gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) sebesar 2,5% untuk pungutan zakat kembali naik ke permukaan.

Prospek Cerah Budi Daya Porang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 16 Maret 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Pangan dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universita Sebelas Maret.

Irasionalitas Impor Beras

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 15 Maret 2021. Esai ini karya Haris Zaky Mubarak, peneliti sejarah dan Direktur Jaringan Studi Indonesia.

Rekayasa Sosial dan Ubah Laku

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 3 Maret 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Rumah Versus Sekolah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 19 Maret 2021. Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015), tertarik dengan tema-tema filsafat pendidikan, filsafat agama, dan ekonomi politik.

Pencurian Artefak Bersejarah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 18 Maret 2021. Esai ini karya Christianto Dedy Setyawan, guru Sejarah di SMA Regina Pacis Solo dan anggota staf Litbang Soeracarta Heritage Society.

Toleransi Bukan Sekadar Kata-Kata

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Maret 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute dan Pemimpin Proyek Internalisasi Literasi Keberagaman Melalui Jurnalisme di SMA/SMK di Soloraya yang dikelola Solopos Institute.

Jebakan Wacana Tiga Periode

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Maret 2021. Esai ini karya Ronny P. Sasmita, analis senior di Indonesia Strategic and Economic Action Institution.

Prospek Cerah Budi Daya Porang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 16 Maret 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Pangan dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universitas Sebelas Maret.

Irasionalitas Impor Sejuta Ton Beras

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 15 Maret 2021. Esai ini karya Haris Zaky Mubarak, peneliti sejarah dan Direktur Jaringan Studi Indonesia.

Penguatan Demokrasi di Daerah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 13 Maret 2021. Esai ini karya M. Dwi Sugiarto yang tertarik dengan tema-tema demokrasi dan pemilihan umum, pernah menjadi anggota Panitia Pengawas Kecamatan Teras pada pemilihan kepala daerah Kabupaten Boyolali 2020.

Pendidikan Nonformal yang Terlupakan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 9 Maret 2021. Esai ini karya Muhammad Ivan, Sarjana Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Jakarta dan analis kebijakan di Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Macet Itu Menyenangkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 12 Maret 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia atau GrupJaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Prioritas Pembangunan Desa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 6 Maret 2021. Esai ini karya Mulyanto, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret dan Ketua Bidang Kajian dan Publikasi ISEI Solo.

”Ular Besi” Vorstenlanden

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 3 Maret 20201. Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan pelaju KRL dan Prameks Solo-Jogja.

UNS di Sepuluh Besar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 10 Maret 2021. Esai ini karya Tundjung W. Sutirto, dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret Solo.

AHY versus Moeldoko

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 8 Maret 2021. Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo.

Perpisahan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 10 Maret 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Pengadaan Tanah untuk Tol Solo-Jogja

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 2 Maret 2021. Esai ini karya Himawan Pambudi, sosiologi perdesaan yang bekerja sebagai pekerja sosial di Yayasan Satunama dan warga yang tinggal di Kabupaten Klaten dan terdampak pembangunan tol Solo-Jogja.

Media Massa dan Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 1 Maret 2021. Esai ini karya Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Green Wasathiyyah Campus

Green Wasathiyyah Campus adalah kepedulian terhadap sustainability/keberlanjutan, bagaimana manusia tidak hanya sekadar memikirkan cara bertahan hidup di masa sekarang tetapi juga berpikir untuk kehidupan jangka panjang.

Subsidi Agrobisnis Pangan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 22 Februari 2021. Esai ini karya Agus Wariyanto, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah.

Orang Kaya Baru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 23 Februari 2021. Esai ini karya Yohanes Bara, mahasiswa Magister Manajemen Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan pengelola Tobemore Learning Center di Cangkringan, Sleman, DIY.

Clubhouse dan Kesan Pertama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 26 Februari 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Menerka Pesta Demokrasi 2024

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 25 Februari 2021. Esai ini karya Nursahid Agung Wijaya, Kepala Subbagian Keuangan Umum dan Logistik Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Wonogiri.

Keruntuhan Imajinasi Publik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 27 Februari 2021. Esai ini karya Abdul Jalil, jurnalis Solopos dan mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret.

Buzzer, Politik, dan Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 20 Februari 2021. Esai ini karya Dwi Munthaha, peneliti di Bhuminara Institute dan mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta.

The Chinese Way

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 19 Februari 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Sinetron New Normal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 25 Februari 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.

Jurnalisme Mesin Pencari

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 8 Februari 2021. Esai ini karya Djoko Subinarto, bloger dan kolumnis.