Menjaga Kebebasan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 9 Juni 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Menjaga Kebebasan

SOLOPOS.COM - Syifaul Arifin (Istimewa/Dokumen pribadi).

Solopos.com, SOLO -- Ada banyak guyonan pada masa Orde Baru yang beredar di bawah tanah. Perlawanan dilakukan dengan humor. Kumpulan humor itu  diterbitkan dalam buku berjudul Mati Ketawa Cara Daripada Soeharto.

Tentu kebanyakan kritik, sindiran, dan humor soal Presiden daripada Soeharto itu, soal kekuasaan absolut, dan sejenis. Salah satu humornya, alkisah, arwah filsuf politik Machiavelli berkeliling dunia hendak melihat konsep kekuasaan di berbagai negeri.

Kepada Presiden Prancis ia bertanya,“Bagaimana cara Anda bisa berkuasa?” Presiden Prancis menjawab,“Kalau saya dipilih via pemilu, yang suka memilih saya, yang tidak suka boleh jadi oposisi!”

Kepada Presiden Amerika Serikat ia bertanya,“Bagaimana kau bisa berkuasa?” Dijawab,“Saya bisa berkuasa karena para bankir dan pengusaha ada di belakang saya.”

Kepada Presiden Rusia ia bertanya, “Bagaimana engkau bisa berkuasa?” Dijawab,“Saya bisa berkuasa karena menjanjikan kemakmuran bersama.”

Kepada Presiden Indonesia ia juga bertanya.“Bagimana cara kau bisa terus berkuasa.” Dijawab,“Karena saya berkuasa!” Mendapati jawaban Presiden Indonesia itu, Machiavelli akhirnya bersujud.

Guyonan itu menunjukkan betapa kuatnya rezim Orde Baru. Pemilu sih ada, akan tetapi dibikin sedemikian rupa agar dimenangi oleh pendukung rezim. Pelajaran Pancasila sih ada, akan tetapi ditafsirkan sesuai kepentingan penguasa.

Kritik diperbolehkan asalkan jangan keras-keras dan menyerang pemerintah. Istilah Jawa-nya, ngono ya ngono ning aja ngono. Kalau mengkritik keras diganjar pasal subversif. Kritik yang diganjar represi terjadi tak hanya pada masa Orde Baru.

Pemerintah sebelum-sebelumnya juga mempraktikkan hal sama, termasuk saat pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pada masa itu, kritik disampaikan salah satunya melalui media massa. Saat itu kebanyakan tokoh pergerakan merangkap wartawan.

Mereka terjun ke dunia jurnalistik karena media massa menjadi alat yang efektif untuk membangun kesadaran berbangsa dan menuntut kemerdekaan. Akan tetapi, penguasa reaktif terhadap kritik. Kritik yang disampaikan secara langsung dalam vergadering (rapat umum) maupun melalui tulisan sering kali diganjar represi.

Seperti dialami tokoh sosialis Sneevliet yang menulis dengan judul Zegepraal yang artinya Kemenangan di De Indier pada 19 Maret 1917. Lewat Zegepraal dia mengkritik kondisi Hindia Belanda yang rakyatnya miskin dan bodoh, kekayaan alamnya mengalir ke kantong orang Eropa Barat, perkumpulan politik dilarang, hak bikin vergadering dibatasi, dan kritik lewat surat kabar diancam (Soe Hok Gie, Di Bawah Lentera Merah, hal. 13).

Gara-gara tulisan itu, dia ditangkap dan harus menjalani sidang delik pers di Pengadilan SemarangAkhirnya hakim memutus Sneevliet bebas karena tulisannya dianggap sebagai kritik. Akan tetapi, pemerintah kolonial menganggap Sneevliet sebagai pengganggu sehingga dia diusir dari Hindia Belanda.

Satu lagi tokoh pergerakan yang dikenai delik pers, bahkan sampai empat kali. Mas Marco Kartodikromo asal Cepu, namun banyak menghabiskan waktu di Solo. Sampai sekarang, saya belum menemui jejak fisik dan warisan Mas Marco di Solo. Setelah belajar jurnalistik kepada Tirto Adhi Suryo di Koran Medan Prijaji Bandung, Marco ke Solo.

Dia mendirikan organisasi wartawan Inlandsche Journalisten Bond (IJB), hingga menerbitkan Koran Doenia Bergerak. Dia menggunakan pena sebagai senjata untuk mengkritik pemerintah kolonial. Tulisannya pedas.

Pada akhirnya, Marco dibuang ke Boven Digul pada 1927. Dia meninggal di sana karena malaria pada 1932. Ada kata-kata Mas Marco yang fenomenal “Saya berani bilang, selama kalian rakyat Hindia, tidak punya keberanian, kalian akan terus diinjak-injak dan hanya menjadi seperempat manusia”.

Mas Marco tidak sendiri. Banyak wartawan dan tokoh pergerakan yang direpresi oleh pemerintah kolonial dengan delik pers. Yang mereka tulis kebanyakan upaya menggambarkan kondisi rakyat pribumi yang bodoh, miskin, tidak kuasa melawan, dan sebagainya. Padahal, Hindia Belanda adalah negeri makmur.

Wartawan dan tokoh pergelaran lain adalah murid Mas Marco, Fachrodin. Pada 1919 Fachrodin yang juga murid K.H. Ahmad Dahlan itu menulis nasib petani tebu di Klaten. Keboen teboe jang penoeh ditanami di atas tanah kita dengan djalan jang koerang menjenangkan, hingga menjebabkan kelaparannja anak-anak boemi…. (ibtimes.id).

Gara-gara tulisan itu, Fachrodin dianggap menghasut rakyat dan dituntut hukuman tiga bulan atau membayar denda 300 gulden. Pemerintah kolonial Belanda menggunakan delik pers untuk mencegah tulisan provokatif yang menyerang pemerintah.

Pada 1856, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Regelmen op de Drukwerken in Nederlansch-Indie (Peraturan tentang Pers di Hindia Belanda). Sebelum dicetak, naskah harus disetor dulu kepada pemerintah.

Pada 19 Maret 1906, Staatsbladvan Nederlandsch-Indië 1906 No. 270 mengubah cara preventif diganti represif. Modelnya, penerbit wajib menyerahkan hasil cetakan satu eksemplar kepada pemerintah. Pada 15 Maret 1914, pemerintah kolonial Belanda memberlakukan Wet boek van Strafwetboek yang kemudian menjadi Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

Pasal 66a beleid itu mengatur siapa saja yang menyebarkan rasa permusuhan, kebencian, atau penghinaan kepada pemerintah Belanda atau Hindia Belanda baik melalui tulisan, gambar, mauupun tindakan, akan dihukum kerja paksa di lingkungannya selama 5 tahun hingga 10 tahun.

Sedangkan Pasal 66B menyebut konten sejenis yang ditujukan di antara penduduk Belanda atau Hindia Belanda akan dihukum kerja paksa di luar lingkungannya paling lama lima tahun (Yuliati, 2018). Pasal-pasal ini dikenal sebagai Haatzai Artikelen atau pasal-pasal tentang penanaman benih kebencian.

Pasal 154 dan 155 menjerat siapa saja yang menyebarkan permusuhan, kebencian, dan penghinaan terhadap pemerintah Belanda atau Hindia Belanda. Pasal 156 dan 157 menjerat sekelompok penduduk di Hindia Belanda. Ancamannya pidana dan denda. Pada masa itu, tokoh pergerakan mengkritik pemberlakuan delik pers.

Haji Misbach, tokoh SATV asal Kauman, Solo, mengkritik represi pemerintah kolonial.  Dalam Sroean Kita (Medan Moeslimin 5 Desember 1918), Misbach mengatakan rakyat dan jurnalis mendapat tekanan luar biasa. Ancaman untuk jurnalis bertambah berat, harus berhadapan dengan pengadilan yang butuh ongkos banyak untuk proses sidang.

Misbach walaupun keras mengkritik rezim, dia tidak terkena persdelict. Dia dijerat kasus spreekdelict atau pelanggaran berbicara (Haroen Rasjid, Medan Moeslimin, 11 1924). Pada kasus itu, dia dituduh memprovokasi, menghasut, sehingga terjadi kerusuhan di Tarukan. Misbach ditahan dua tahun di penjara Klaten, Mei 1920.

Pada 7 September 1931 Gubernur Jenderal De Graeff memberlakukan Persbreidel Ordonnantie (Peraturan tentang Pemberangusan Pers). Media yang dianggap mengganggu ketertiban umum versi pemerintah Hindia Belanda akan diberangus oleh Gubernur Jenderal.

***

Belakangan ini, kalangan akademis dan masyarakat sipil sedang waswas. DPR dan pemerintah tengah menyusun revisi Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Rancangan KUHP ini memuat pasal-pasal yang mengancam pelaku penghinaan.

Misalnya, pasal tentang ancaman bagi penghina presiden yang pernah ditolak publik beberapa waktu lalu kembali muncul. Dalam RUU KUHP diatur orang yang menyerang martabat presiden/wakil presiden diancam hukuman maksimal 3,5 tahun penjara.

Bila penyerangan harkat martabat itu dilakukan lewat media sosial, hukuman bisa diperberat menjadi 4,5 tahun penjara. Dalam penjelasannya, RUU KUHP menegaskan mengkritik kebijakan presiden/wakil presiden bukan tergolong menyerang harkat martabat atau kehormatan.

Tidak tergolong tindakan menyerang kehormatan jika untuk kepentingan umum atau membela diri. Masyarakat perlu menaruh sikap kritis terhadap aturan yang disusun itu. Kenapa? Aturan dibuat untuk melindungi publik, bukan mengancam.

Kita setuju orang tidak boleh menyebar fitnah maupun hoaks. Namun, peraturan untuk penghina atau penista ini bisa jadi peluang untuk menyerang lawan politik. Berdasar pengalaman sebelumnya, penguasa berpotensi menyalahgunakan peraturan perundang-undangan untuk menekan lawan politik.

Harus ada ketentuan jelas, gamblang, tak multitafsir bahwa aturan perundang-udangan tak bisa dimanfaatkan untuk menyerang pihak yang berseberangan dengan penguasa. Berbahaya sekali jika itu terjadi.

Apalagi, belakangan ini ada penurunan kualitas demokrasi di Indonesia. Freedom House menyebut kebebasan Internet Indonesia pada 2020 bernilai 49, sedangkan pada 2019 nilainya 51. Indikatornya perintangan akses, pembatasan konten, dan pelanggaran hak pengguna.

Laporan Democracy Index 2020 dari The Economist Intelligence Unit (EIU) menempatkan Indonesia pada peringkat ke-64 secara global.  Pada 2020, indeks demokrasi Indonesia 6,30, turun dibandingkan tahun sebelumnya yang 6,48.

Indikatornya pemilu dan pluralisme, berfungsinya pemerintahan, partisipasi politik, kebebasan sipil, dan budaya politik. Gambaran turunnya kualitas demokrasi bisa terlihat dari hasil survei Indikator Politik Indonesia pada 24-30 September 2020.

Nerdasar survei terhadap 1.200 responden, 21,9% warga sangat takut berpendapat dan 47,7% agak takut untuk berpendapat. Tingkat kepercayaan survei 95%. Dari gambaran itu, publik harus mengawal jangan sampai beleid yang dibikin DPR dan pemerintah merugikan rakyat, menurunkan kualitas demokrasi.

Soal rancangan KUHP ini, Amnesti Internasional Indonesia menilai pasal penghinaan terhadap presiden/wakil presiden bisa mengancam kebebasan berpendapat dan demokrasi. Jadi, kita harus menjaga dan merawat kebebasan berpendapat itu.

Berita Terkait

Espos Premium

"Teater" Memperkuat Korupsi

Pengurangan hukuman eks jaksa Pinangki Sirna Malasari dan Djoko Soegiarto Tjandra di tingkat banding kontraproduktif terhadap gerakan pemberantasan korupsi.

Berita Terkini

Wacana “End Game Jokowi” Harusnya “End”

So much so, dengan kondisi saat ini, saya pikir menggulingkan pemerintahan terpilih justru akan berpeluang besar melahirkan kediktatoran baru seperti di Myanmar atau rezim Al Sisi di Mesir.

Memaksa Industri Kreatif Lebih Kreatif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 30 Juli 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI)

Negeri Melankolia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 28 Juli 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Butuh Motivasi, Banyak Pegawai Jenuh dan Kinerja Menurun Selama Pandemi Covid-19

Artikel ini ditulis Aqua Dwipayana, komunikator dan motivator.

Menerka Masa Depan Dunia Digital

Gagasan ini dimut Harian Solopos edisi Sabtu 17 Juli 2021. Esai ini karya Eko Wahyono, pengajar Media dan Budaya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Tangerang.

Korban yang Bercerita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 21 Juli 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Ivermectin dalam Filsafat Sains

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis 15 Juli 2021. Esai ini karya Satrio Wahono, alumnus Magister Filsafat Universitas Indonesia dan dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasila Jakarta.

Trust is Money

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 23 Juli 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Urgensi Kontrak Belajar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 14 Juli 2021. Esai ini karya Muhamad Arifin, guru SD Muhammadiyah Program Khusus Kota Barat, Kota Solo, Jawa Tengah.

Mewujudkan Perlindungan terhadap Hak Anak di Masa Pandemi

Artikel ini ditulis Cholida Hanum, peneliti Pusat Studi Gender dan Anak IAIN Salatiga.

Dampak Gadget pada Anak-Anak

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa 13 Juli 2021. Esai ini karya Lina Nihayatun Ni'mah, mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Keadilan Elektoral

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin 12 Juli 2021. Esai ini karya Zennis Helen, dosen Hukum Tata Negara di Fakultas Hukum Universitas Ekasakti Padang dan mahasiswa program doktor di Fakultas Hukum Universitas Sultan Agung Semarang.

Televisi Digital

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 14 Juli 2021. Esai ini karya Suwarmin, wartawan Solopos.

Telah Berpulang...

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 16 Juli 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Dari Mengapa ke Mengapa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu 10 Juli 2021. Esai ini karya Marhamah Aljufri, pembelajar menulis esai yang tinggal di Pasuruan, Jawa Timur, dan aktif di komunitas Mbokmbokan Malem Minggu.

Ngepit ke Kota Netral Karbon

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 9 Juli 2021. Esai ini karya Djoko Subinarto, esais dan bloger.

Menata Koridor Kapujanggan di Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis 8 Juli 2021. Esai ini karya Dhian Lestari Hastuti, dosen di Program Studi Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Surakarta.

Dilema dan Solusi Pembelajaran Bahasa Inggris Online

Artikel ini ditulis Nadira Syifa Azzahro, mahasiswa Tadris Bahasa Inggris, Program Kelas Khusus Internasional IAIN Salatiga

Jangan Bertanya Mengapa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 7 Juli 2021. Esai ini karya Ayu Primadini, guru di Jakarta Selatan dan warga komunitas Mbokmbokan Malem Minggu.

Semakin Dekat

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 7 Juli 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.

Tantangan Digitalisasi Kebudayaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa 6 Juli 2021. Esai ini karya Dewi Yunita, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta.

Tetaplah di Rumah demi Kemanusiaan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 2 Juli 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Menangisi Dunia Pendidikan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin 5 Juli 2021. Esai ini karya Willy Pramuda, orang tua anak yang tak bersekolah formal dan penyuka tema-tema pendidikan, tinggal di Jakarta.

Dalam Sebotol Coca-Cola

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin 28 Juni 2021. Esai ini karya Setyaningsih, esais dan pekerja buku di Penerbit Babon.

Intervensi Stigma dan Diskriminasi sebagai Upaya Indonesia Bebas HIV/AIDS 2030

Artikel ini ditulis Titik Haryanti, S.K.M., M.P.H., dosen Prodi Kesehatan Masyarakat FKM Univet Bantara Sukoharjo-Mahasiswa S3 IKM UNS

Arah Kesenian Termutakhir

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 24 Juni 2021. Esai ini karya Damar Tri Afrianto, dosen di Institut Teknologi Telkom Purwokerto dan warga Sobat Ambyar Solo.

Pansos

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 23 Juni 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute.

Skenario Sekolah Tatap Muka

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin 21 Juni 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Pabaliut Gara-Gara Pandemi

Bukan sesederhana "tidak boleh keluar rumah pada Sabtu dan Minggu" saja. Imbauan semacam itu seakan mengindikasikan pembuat kebijakan mengabaikan esensi memutus mata rantai penyebaran virus corona.

Restorasi Ekosistem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 25 Juni 2021. Esai ini karya Tundjung W. Sutirto, peneliti di Pusat Lingkungan Hidup Universitas Sebelas Maret.

Generasi Pembangun Jembatan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 23 Juni 2021. Esai ini karya Tri Winarno, guru Bahasan dan Sastra Indonesia di SMKN 2 Klaten.

Partai Politik, Firli, dan KPK

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 19 Juni 2021. Esai ini karya Thontowi Jauhari, anggota Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah.

Terjebak di Kubangan Digital

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 17 Juni 2021. Esai ini karya Aris Setiawan, esais yang tinggal di Kota Solo, Jawa Tengah.

Sinergi Semua Pihak untuk Suksesnya Vaksinasi Covid-19

Artikel ini ditulis dr. Farahdila Mirshanti, MPH, Kepala UPT Puskesmas Purwodiningratan Solo-Mahasiswi S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat UNS

Bahasa Indonesia Era Industri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 16 Juni 2021. Esai ini karya Duwi Saputro, guru Bahasa Indonesia di MTsN 1 Solo.

Esensial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Juni 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Berolahraga di Tengah Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 15 Juni 2021. Esai ini karya Diksanda Savero Robiyono, mahasiswa keolahragaan di Universitas Negeri Malang.

Oposisi Biner dan Lawan Kata

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 14 Juni 2021. Esai ini karya Joko Setiyono, pustakawan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Mengenal Orang-Orang Arab di Israel

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 12 Juni 2021. Esai ini karya Ronny P. Sasmita, Direktur Eksekutif Economic Action (EconAct) Indonesia dan peminat tema-tema hubungan internasional.

Menyehatkan Lahan Sakit

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 10 Juni 2021. Esai ini karya Bambang Pujiasmanto, guru besar di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.

Guru Modis Guru Idola Masa Kini

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 9 Juni 2021. Esai ini karya Astutiati, guru di SDN 1 Brangkal, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Garuda di Dadaku

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 11 Juni 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Menjaga Kebebasan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 9 Juni 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Tantangan Feminis pada Era Kontemporer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 3 Juni 2021. Esai ini karya Ester Lianawati, penulis buku Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan, psikologi dan pendiri Hypatia Pusat Penelitian Psikologi dan Feminisme di Prancis.

Pernikahan Dini Masa Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 8 Juni 2021. Esai ini karya Dila Sulistianingsih, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang.

100 Hari Kerja Mas Wali Kota

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 7 Juni 2021. Esai ini karya Krisnanda Theo Primadita, mahasiswa pascasarjana Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Solo dan Wellness Tourism

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 5 Juni 2021. Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, dosen Marketing di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Surakarta.

Chief of Transformation Officer Itu Bernama...

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 4 Juni 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seribu Hari Masih Lama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 2 Juni 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, wartawan Solopos.

Menjaga Kebudayaan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 2 Juni 2021. Esai ini karya Yuliyanti Dewi Untari, guru Bahasa Jawa di SMAN 1 Solo.

Menggemakan Nilai-Nilai Pancasila

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 31 Mei 2021. Esai ini karya Leo Agung S., Ketua Pusat Studi Pengamalan Pancasila Universitas Sebelas Maret.

Mimpi Juara Perusahaan Teknologi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 29 Mei 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Agama dan Kemanusiaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 27 Mei 2021. Esai ini karya Joko Yuliyanto, penggagas Komunitas Seniman Nahdlatul Ulama, penulis buku dan naskah drama.

Kisah di Balik Sajian Makanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa 25 Mei 2021. Esai ini karya Adib Baroya Al Fahmi, mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia UIN Raden Mas Said Surakarta.

Memperkuat Gastro-Diplomasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 24 Mei 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Pangan dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universitas Sebelas Maret.

Kajian Fiskal Regional

Penulis adalah Pengawas pada KPPN Klaten. Pendidikan Magister Hukum UGM

Impelementasi Catur Gatra Tunggal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 22 Mei 2021. Esai ini karya Y. Argo Twikromo, dosen di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, antropolog, dan peneliti di MINDSET Institute.

Sinyal Pemulihan Kian Terang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 21 Mei 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Lebaran Covid-19

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 19 Mei 2021. Esai ini karya Suwarmin, wartawan Solopos.

PLTA Kali Samin Simbol Kemandirian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 20 Mei 2021. Esai ini karya Eko Sulistyo, Komisaris PT PLN (Persero).

Kritik untuk Sangkar Buku Kegiatan Ramadan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 19 Mei 2021. Esai ini karya Rohmah Jimi Sholihah, guru Pendidikan Agama Islam di SDN Tasikhargo, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah.

Palestina dan Jurnalisme Islam

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 18 Mei 2021. Esai ini karya Dhima Wahyu Sejati, mahasiswa Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam Institut Agama Islam Negeri Surakarta.

Jalan Panjang Pemulihan Ekonomi Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 17 Mei 2021. esai ini karya Anton A. Setyawan, guru besar Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Memaknai Desa Sadar Kerukunan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 10 Mei 2021. Esai ini karya Muhammad Taufik Ismail, anggota panitia Festival Toleransi di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Rajakaya untuk Kecukupan Daging Nasional

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 11 Mei 2021. Esai ini karya Fransiskus Raymon, mahasiswa Program Studi Peternakan Universitas Sebelas Maret.

Jangan Mendadak "Bagong"

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 6 Mei 2021. Esai ini karya Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda Badan Ketahanan Pangan Kementeria Pertanian.

Royalti, Radio, dan Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi sabtu, 8 Mei 2021. Esai ini karya Ariyanti Mahardina, freelancer yang pernah bekerja di radio dan kini masih aktif di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Solo.

Kita Harus Menjadi Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 5 Mei 2021. Esai ini karya Ardian Nur Rizki, guru di Sekolah Indonesia Luar Negeri Johor Bahru, Malaysia.

Resiliensi Sektor informal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 4 Mei 2021. Esai ini karya Muhammad Taufik Nandito, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyan Surakarta dan aktif di Lingkar Studi Sasadara di Kleco, Kota Solo.

Mitos Kekinian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 5 Mei 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute.

Narasi Tunggal Soal Mudik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat. 7 Mei 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Hadiah Lebaran dari Mas Edi

Buat saya, di tengah pandemi seperti saat ini, orang-orang seperti Mas Edi inilah bantalan kuat bagi ketahanan ekonomi Indonesia.

Wajah Pendidikan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 3 Mei 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Musnahkan Kebebalan Kawanan!

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 30 April 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Menolak Jalan Impunitas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 29 April 2021. Esai ini karya St, Tri Guntur Naryawa, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Wantok

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 28 April 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Rumah Tempat Debat dan Mufakat

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 26 April 2021. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncel Bilik Literasi.

Pelajaran Dari Gawok

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 23 April 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Sinergi Mencegah Perkawinan Anak

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 April 2021. Esai ini karya Retno Winarni, guru Bahasa Indonesia di SMAN Kerjo, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Bisnis Monyet Tanaman Hias

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 20 April 2021. Esai ini karya Nadia Aliya Azki, mahasiswa Program Studi Manajamen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

(Andai) Demokrasi Tanpa Oligarki

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 19 April 2021. Esai ini karya Siti Farida, Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah.

Perlawanan Perempuan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 April 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Singkong Goreng dan Segelas Wine

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 16 April 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI)

Punden-Punden Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 15 April 2021. Esai ini karya Albertus Rusputranto P.A., dosen di Institut Seni Indonesia Surakarta.

Membaca Perempuan Kini

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 24 April 2021. Esai ini karya Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Bukan Cuma Kebaya dan Sanggul

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 22 April 2021. Esai ini karya Elly Jauharah Asriani, guru Matematika di MTsN 7 Klaten, Jawa Tengah.

Menunggu Musikus Jadi Kaya Raya

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 17 April 2021. Esai ini karya Tito Setyo Budi, doktor Kajian Musik, wartawan, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Kabupaten Sragen.

UUD 1945 dan the Living Constitution

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 13 April 2021. Esai ini karya Salma Abiyya, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Menyikapi Waktu Subuh Yang Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 12 April 2021. Esai ini karya Muh. Nursalim, Ketua Komisi Kajian Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sragen.

Investasi Sosial Wakaf Uang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 9 April 2021. Esai ini karya Wawan Sugiyarto, analis Pusat Analisis dan Harmonisasi Kebijakan Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan dan peraih gelar akademis PhD di Queensland University of Technology, Brisbane, Australia.

Dihantui Masa Lalu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 14 April 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.

Teror dan Agama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 6 April 2021. Esai ini karya Arif Yudistira, tuan rumah Pondok Filsafat Solo.

Berolahraga di Atas Bus Berjajar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 5 April 2021. Esai ini karya Agus Kristiyanto, Guru Besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret.

Cerita dari Bontang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 7 April 2021. Esai ini karya Suwarmin, wartawan Solopos.

Mencegah Terorisme Lagi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 3 April 2021. Esai ini karya Soleh Amini Yahman, psikolog dan dosen di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Catur dan Uang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 1 April 2021. Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo.

Film sebagai Sumber Sejarah Alternatif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 31 Maret 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Harapan Kota Solo Bebas dari Sampah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 29 Maret 2021. Esai ini karya Mochamad Syamsiro, Direktur Center for Waste Management and Bioenergy dan dosen di Jurusan Teknik Mesin Universitas Janabadra Yogyakarta.

Lupakan Saja Swasembada Gula

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 24 Maret 2021. Esai ini karya Jojo, kandidat Doktor Ilmu Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor atau IPB University.