Menjadi Ekalaya

Artikel ini ditulis oleh Widya Ristanti, Guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 5 Solo, Mahasiswa  Program Magister pada Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana UNS. Artikel ini telah terbit di Koran Solopos, 27 April 2022.

 Widya Ristanti (Solopos/Istimewa)

SOLOPOS.COM - Widya Ristanti (Solopos/Istimewa)

 

Membaca secuil epos Mahabarata pada fragmen Ekalaya, sungguh menarik. Tahukah kita siapa Ekalaya? Dalam dunia pewayangan Jawa, Ekalaya dikenal dengan nama Bambang Ekalaya atau Bambang Palgunadi.

PromosiGunung Lawu Habitat Macan Tutul Jawa dan Peluang Jadi Taman Nasional

Karena terlahir dari golongan Nishada, ia pun tidak diterima berguru kepada Resi Durna. Nishada adalah golongan yang dianggap berkasta rendah. Durna yang mengeksklusifkan diri dengan melatih ilmu perang dan persenjataan  para bangsawan Kurusetra tentu saja menolak permohonannya secara mentah-mentah. Durna hanya mau melatih para pangeran dinasti Kuru (Pandawa dan Kurawa). Salah satu janjinya menjadikan Arjuna sebagai satu-satunya pemanah unggul menyebabkan penolakan tersebut.

Ia khawatir Ekalaya akan menandingi Arjuna dalam hal memanah. Penolakan yang menyakitkan dan kenyataan yang telah melekat pada dirinya apakah membuat Ekalaya terpuruk?

Tidak. Berbekal semangat untuk belajar, ia pun mengasingkan diri ke tengah hutan. Sesampai di tengah hutan yang gelap, ia membuat patung Durna. Setelah patung itu selesai dipahat dan berdiri kokoh, ia pun menebalkan tekad untuk menjadi pemanah andal. Tak terkalahkan oleh siapa pun.

Hari demi hari dilaluinya. Di depan patung guru idolanya ia menempa dirinya secara mandiri. Pagi hingga malam ia berlatih demi mewujudkan keinginannya untuk mahir memanah. Secara autodidak ia mengasah kemampuannya agar bidikan anak panahnya tepat sasaran. Ia latih ketajaman rasa dan intuisinya dalam memanah.

Akhirnya waktu yang membuktikannya. Ia mampu menjadi pemanah yang titis dan memiliki intuisi tajam. Kemampuan memanahnya jauh melampaui Arjuna ketika pada suatu hari ia tidak sengaja adu titis memanah dengannya.

Saat itu pula  ia pun bertemu dengan Durna, obsesi terbesarnya. Durna pun terheran-heran, kagum, dan sekaligus dengki ketika mengetahui kehebatan Ekalaya yang sangat jauh  melampaui Arjuna, anak didiknya.

Walaupun nasibnya berakhir dengan tragis–hal ini lazim ditemui karena dalam epos Mahabarata hitam putih tokoh cerita tetap berlaku–pribadi Ekalaya menjadi tokoh yang patut direfleksikan pada diri para pembelajar.

Siapakah pembelajar dalam konteks ini? Apakah para siswa atau mahasiswa yang memang sedang berada pada masa belajar? Bukan. Bukan mereka. Pembelajar yang penulis maksud pada tulisan ini adalah rekan-rekan guru. Mengapa guru disebut sebagai pembelajar? Bukankah guru berada pada posisi sebagai pengajar?

Belajarlah sepanjang hayat. Kita tentu mengenal kalimat bijak ini bukan? Sejatinya, setiap individu adalah pembelajar. Dengan belajar, setiap individu dapat memperoleh pengetahuan baru, arti hidup, dan pengembangan potensi yang dapat digunakan untuk diri pribadi maupun masyarakat luas. Guru sebagai seorang pengajar dituntut untuk senantiasa belajar.

Hal ini menarik jika kita komparasikan dengan kondisi pandemi saat ini. Kondisi di mana semua serba sulit, termasuk dalam dunia pendidikan. Pola pembelajaran yang telah tercipta seketika terbalik seperti membalikkan telapak tangan. Proses belajar-mengajar berganti secara daring. Tak ada tatap muka. Tak ada pembelajaran dengan pembimbingan secara langsung. Kemandirian guru dan peserta didiklah yang menentukan denyut lemah keberlangsungan pembelajaran daring.

Pandemi telah berlangsung lebih dari dua tahun. Learning loss pun sudah tampak. Berdasarkan rilis survei Kemdikbudristek yang dilakukan pada 18.370 siswa kelas I–III SD di 612 sekolah di 20 kabupaten/kota dari 8 provinsi (April-Mei 2021) diketahui hasil bahwa pandemi membawa dampak pada kemunduran capaian literasi dan numerasi peserta didik.

Survei yang bertujuan untuk membandingkan capaian literasi dan numerasi pada siswa yang diajar dengan menggunakan Kurikulum 2013 dan Kurikulum Darurat tersebut setidaknya memberi gambaran nyata kepada kita bagaimana dampak pandemi pada pendidikan.

Pandemi, kamu jahat. Itulah ungkapan yang jamak ditemukan di berbagai media. Akan tetapi, sejahat-jahatnya pandemi, pastilah ada sisi positif yang bisa kita ambil hikmahnya. Kita harus percaya bahwa munculnya pelangi pasti setelah hujan. Tanpa hadirnya hujan, lengkung pelangi yang penuh warna tak akan ada di langit biru.

Pandemi telah mengajarkan kepada kita untuk beradaptasi dengan berbagai hal. Salah satunya ialah beradaptasi dengan teknologi. Pandemi telah mengajarkan kita untuk mengenal berbagai media dan sarana pembelajaran. Kini kita telah akrab dengan Zoom meeting, Google Meet, Microsoft Office Teams, dan media pertemuan virtual lainnya. Padahal, tiga tahun sebelumnya, bisa dikatakan tidak ada satu pun guru yang mengajar menggunakan aplikasi tersebut. Pembelajaran berlangsung secara konvensional di ruang-ruang kelas.

Penulis teringat dengan proses adaptasi pembelajaran daring tersebut di awal pandemi. Banyak guru yang memerlukan pendampingan hanya untuk mengoperasikan aplikasi. Bagaimana membuat kelas virtual, bagaimana mengundang peserta didik, bagaimana memulai video conference, bagaimana proses pemberian tugas, bagaimana mengonversi soal ke bentuk daring, dan masih banyak bagaimana-bagaimana lainnya.

Semua proses tersebut tidak berlangsung secara instan. Adaptasi terhadap kemajuan teknologi menjadi kunci. Siapa saja yang beradaptasi? Apakah hanya peserta didik? Tidak. Gurulah yang harus beradaptasi dengan baik. Telah banyak ahli yang mengatakan bahwa guru adalah pemegang kunci kesuksesan belajar peserta didik, bukan?

Berkaitan dengan materi pembelajaran, di era keberlimpahan ini konten berkaitan dengan pembelajaran telah banyak tersedia. Kita mau mencari apa pun ada. Hal tersebut telah dinyatakan oleh sastrawan besar Indonesia, Hamka, jauh-jauh hari, “Kamu hanya akan menemukan apa yang kamu cari.” Mau mencari inovasi pembelajaran, tinggal mencari di Youtube. Mau mencari media pembelajaran interaktif, kita tinggal mencari di Google. Mau mencari buku-buku teori dan praktik pembelajaran, kita tinggal ketikkan kata kunci di mesin pencari. Mau mengembangkan diri dengan mengikuti seminar, kita tinggal duduk manis di depan laptop dan menyimak dengan saksama untuk memperoleh ilmu.

Semua itu dapat dijadikan modal untuk melakukan proses membelajarkan suatu pengetahuan kepada peserta didik. Mengapa membelajarkan? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mengajar adalah memberi pelajaran. Padahal, peran guru tidak hanya memberi pelajaran. Ada peran yang jauh lebih besar yakni membelajarkan (menjadikan bahan atau kegiatan belajar, KBBI daring) peserta didik untuk memperoleh ilmu pengetahuan sesuai dengan pengalaman empiris yang dialaminya.

Kemauan guru untuk memperkaya diri dengan ilmu menjadi hal yang perlu digarisbawahi. Mau membaca dan mendengarkan merupakan kuncinya.

Semakin banyak membaca semakin kita sadar bahwa sangat sedikit yang kita ketahui. Oleh sebab itu, mari kita isi waktu-waktu luang dengan melakukan hal terbaik guna meningkatkan potensi diri.

Apalagi pemerintah menerapkan Kurikulum Merdeka pada satuan pendidikan. Walaupun pada tahun pelajaran 2022/2023 pemberlakuan tersebut masih bersifat opsional tergantung dengan kesiapan masing-masing satuan pendidikan, rasanya, kita perlu bersiap-siap untuk menyambutnya karena banyak hal baru yang ditawarkan oleh Kurikulum Merdeka tersebut terutama terhadap praktik pembelajaran.

Pertama, Kurikulum Merdeka  berorientasi  holistis yakni  dirancang untuk mengembangkan murid secara menyeluruh dalam hal ini  mencakup kecakapan akademis dan nonakademis, kompetensi kognitif, sosial, emosional, dan spiritual.

Kedua, berbasis kompetensi, bukan konten. Maksud dari hal tersebut ialah kurikulum dirancang berdasarkan kompetensi yang ingin dikembangkan, bukan berdasarkan konten atau materi tertentu.

Terakhir, kontekstualisasi dan personalisasi kurikulum yang dirancang sesuai konteks (budaya, misi sekolah, lingkungan lokal) dan kebutuhan peserta didik.

Dari semua hal itu, ada satu benang merah yang sama yang dapat ditarik. Inti dari proses membelajarkan ialah berpihak kepada peserta didik. Semua untuk peserta didik. Gurulah yang mengantarkan peserta didik untuk menguasai ilmu dan keterampilan yang dapat diimplementasikan di kehidupan mereka.

Sebagai sebuah pengantar, tentu ada hal yang diantarkan bukan? Ya, ilmu dan keterampilan yang idealnya telah dipahami oleh guru jauh beberapa langkah di depan muridnya.

Oleh sebab itu, mari belajar! Mari menjadi Ekalaya di tengah segala situasi! Kiranya kita benar-benar dapat merefleksi arti dari nama Ekalaya yang diambil dari bahasa Sansekerta. Ekalavya yang berarti orang yang memusatkan pikirannya kepada suatu ilmu.

Artikel ini ditulis oleh Widya Ristanti, Guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 5 Solo, Mahasiswa  Program Magister pada Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana UNS. Artikel ini telah terbit di Koran Solopos, 27 April 2022.

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini". Klik link https://t.me/soloposdotcom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Solopos.com Berita Terkini

Berita Terkait

Berita Lainnya

Espos Plus

Konsumen dan Aktivis Desak McDonald’s Asia Tinggalkan Kandang Baterai

+ PLUS Konsumen dan Aktivis Desak McDonald’s Asia Tinggalkan Kandang Baterai

Koalisi organisasi perlindungan hewan Act for Farmed Animals bersama Open Wing Alliance menyelenggarakan protes massal menuntut McDonald’s Asia menghentikan penggunaan telur ayam dari kandang baterai.

Berita Terkini

Syafii Maarif Mengalahkan Rasa Takut

Kini, Buya Syafii Maarif berpulang pada usia 86 tahun. Seharusnya, 31 Mei 2022 Buya berulang tahun. Kita kehilangan sosok guru bangsa yang menjaga moral bangsa.

Apem, Kolak, dan Ketan

Pura Mangkunegaran bikin gebrakan kecil. Beberapa paket wisata disajikan untuk masyarakat umum. Antara lain paket kuliner khas Pura berupa apem, kolak pisang dan ketan.

Kue Ekonomi Lebaran

Lebaran tahun ini menjadi evidence alias bukti yang nyata. Mudik bukan sekadar perjalanan spiritual menengok kampung leluhur atau sungkem kepada orang tua, melainkan juga menjadi manifestasi geliat ekonomi wisata yang nyata.

Adil dalam Pikiran dan Perbuatan

Sekarang ini, orang cenderung menyukai informasi atau pendapat yang memperkuat keyakinan atau nilai-nilai mereka sebelumnya. Mereka mengabaikan bukti-bukti baru yang berbeda dengan keyakinannya.

Saling Menguatkan, Saling Memulihkan

Lebaran tahun ini, ada kebahagiaan membuncah. Kerinduan panjang tak bersua bakal terobati.

Mudik, Rohali, dan Rojali

Bayangkan perputaran uang yang tercipta dari sekitar 85 juta orang itu. Tentu tidak sedikit. Apalagi, dua tahun sudah agenda mudik ini tidak dilakukan. maria.benyamin@bisnis.com 

Hukum Cagar Budaya dan Agraria

Bagimana untuk mencegah terjadinya perusakan bangunan, struktur, situs cagar budaya terkait keberadaan masyarakat yang menempatinya? Tentu saja harmonisasi hukum antara UU Cagar Budaya dan UU Agraria perlu dijalankan.          

Surga Kuliner

Keunggulan kuliner Solo bukan muncul tiba-tiba, melainkan berakar dan bertumbuh seiring perkembangan kota.

Menjadi Ekalaya

Pandemi telah berlangsung lebih dari dua tahun. Learning loss pun sudah tampak.

Moderasi dalam Keluarga Beda Agama

Untuk mengakhiri perdebatan dan sengkarut pernikahan beda agama ini, seluruh elemen bangsa membangun sinergi, bergandengan tangan, bahu-membahu untuk menegakkan hak dan prinsip kebebasan beragama.

Vandalisme Keraton Kartasura

Selama ini, saya rasa terdapat pemahaman keliru dalam memaknai “ibu kandung” Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Kasultanan Yogyakarta, Pura Mangkunegaran, dan Pura Paku Alaman tersebut.

Digital Entrepreneurship: Kewirausahaan di Era Digital

Dari semua aktivitas digitalisasi dalam prinsip digital entrepreneurship perlu dipahami bahwa implementasinya tidak bergantung sepenuhnya pada hal yang berkaitan dengan teknologi atau digital.

Amerika Polah, Ekonomi Dunia Kepradah

Mungkin hari ini dalam konteks geopolitik dan geoekonomi global, analogi itu bisa dipakai. Amerika polah, ekonomi dunia kepradah.

Perangnya Amerika Serikat, Krisis Ganda bagi Dunia

Yang bikin pusing Indonesia, Amerika juga mengancam "boikot" KTT G-20 akhir tahun ini, bila mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin. Begitu kira-kira.

Saling Menguatkan, Saling Memulihkan

Momentum mudik Lebaran 2022 menjadi momentum untuk saling menguatkan saling memulihkan. Tulisan opini ini juga dimuat di rubrik Selasar Koran Solopos

Hilang Tanpa Coretan

Apakah kematian bisa diartikan sebagai ketidakadaan? Bisakah ada dan tidak ada hadir dalam satu waktu?